
Renata membocorkan rencananya untuk program hamil kepada Kania.Tentu saja Kania sangat mendukung rencana baik dari sahabatnya itu.Bahkan dia siap membantu jika Renata dan Rio perlu suntikan dana.
Farel memeluk Kania dari belakang,dia merasa gemas karena wanita itu bermain ponsel sambil senyum senyum sendiri.
"Sedang chatting dengan siapa?"Tanya Farel.
"Dengan Renata,dia bilang dia ingin program hamil pada Dokter spesialis,"sahut Kania.
"Bagus,kita harus mendukungnya,"
Farel meletakan kepalanya di ceruk leher Kania.Dia mencium celah lebar itu berulang ulang sampai Kania bringsut karena geli.
"Farel,apa yang sedang kamu lakukan,ini masih pagi,"
"Justru karena ini masih pagi,badan masih fresh dan bertenaga untuk melakukan itu,"
"Melakukan apa?"Kania berpura pura bodoh.
Farel melepas bajunya dan menjatuhkannya kelantai.Dia menyudutkan Kania dan menghimpit tubuh wanita itu ke tembok.
"Aku mau sarapan,perutku lapar,"Kania mencari alasan untuk melarikan diri.
"Puaskan aku dulu,setelah itu baru makan!"
Farel membopong Kania dan melemparnya keatas ranjang.Hari ini Kania tidak akan selamat dari terkaman seorang Farel.Pria itu akan menghajarnya hingga lelah dan merengek meminta ampun.
Sekujur tubuh Kania terasa sakit dan pegal,semua karena ulah suaminya.Pria itu bertingkah seperti harimau lapar yang sudah lama tidak makan daging.
Farel tersenyum puas,hasrat yang telah lama dia pendam akhirnya bisa terpenuhi juga.Selama ini Kania tidak hanya menjauhinya,tapi juga selalu menolak ajakannya untuk melakukan aktifitas menyenangkan itu.
"Katanya kamu lapar,masaklah sesuatu sekalian untukku,"pinta Farel.
"Kamu sedang ingin makan apa?Nanti aku buatkan,"
"Emh...Tolong buatkan aku mie goreng spesial dengan dua buah telur mata sapi,"
"Baiklah,tunggu sebentar,"
Kania pergi kedapur,disana dia melihat Bi Sumi sedang membelah buah dan memotongnya menjadi potongan kecil kecil.Adik adik Kania selalu suka dengan potongan buah beku,terlebih jika disiram dengan lelehan coklat manis.
"Sarapan sudah siap Non,mau saya ambilkan sekarang?"Tanya Bi Sumi.
"Tidak,aku akan memasak sendiri sarapanku.Dia sedang ingin makan masakan ku,"sahut Kania.
__ADS_1
"Benarkah?Apa kalian berdua sudah berbaikan?"Tanya Bi Sumi lagi.
"Sudah,"Kania tersenyum malu malu.
"Bagus sekali,tidak baik suami istri marahan berlama lama,"
"Iya Bi,"
"Anggaplah semua yang terjadi dalam rumah tangga Anda,saya juga yakin Tuan Farel juga tidak menginginkan hal tersebut.Tapi mau bagaimana lagi?Takdir berkata lain,"
Kania menundukkan wajahnya,dia mencoba merenungi perkataan wanita yang jauh lebih tua darinya itu.Yang dikatakan Bi Sumi memang benar,tapi setiap wanita membutuhkan waktu yang berbeda beda untuk berdamai dengan keadaan.Termasuk dirinya.
Kania membuka kulkas,dia mengambil bahan makanan dari dalam dan mulai memasak makanan yang Farel mau.Sudah lama,Kania tidak menyiapkan sesuatu untuk suaminya.Bahkan walaupun itu hanya secangkir kopi dan beberapa potong roti untuk sarapan.
Setengah jam kemudian,Farel keluar kamar dan menyusul istrinya kedapur.Dia memakai setelan kaos oblong dan celana pendek longgar.Meski memakai pakaian sederhana pesona dari pria itu tidak hilang begitu saja.Dia tetap terlihat manis dan tampan.
"Hari ini kamu tidak ke kantor?"Tanya Kania.
"Kamu lupa kalau hari ini adalah hari sabtu"tanya Farel balik.
"Ah,benarkah?"Kania menggaruk garuk kepalanya.
"Apa aku terlalu membuatmu lelah tadi,sampai sampai kamu lupa hari,"Farel meledek.
"Jangan sembarangan bicara,malu ada Bi Sumi,"Kania marah.
"Biarkan saja,dia juga pernah muda."Farel tertawa sambil melirik kearah asisten rumah tangganya itu.
Disebuah kamar Hotel yang mewah dan megah.Cindy duduk didepan sebuah cermin sambil melihat bayangan wajahnya sendiri.Wajah cantik dan menawan itu terlihat sendu,jelas sekali dia sedang menghawatirkan sesuatu.
Dion datang menghampirinya,membelai rambut panjangnya dan mendekapnya dari samping.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"Bisik Dion lembut
"Aku rindu putriku,"sahut Cindy.
"Dia berada ditangan yang tepat,aku yakin dia akan baik baik saja,"ucap Dion menenangkan hati Cindy.
"Iya,kamu benar.Seharusnya aku tidak terlalu mengkhawatirkannya dan menikmati masa masa romantis kita berdua,"Cindy mengelus telapak tangan suaminya.
"Kamu seorang Ibu,wajar kalau kamu menghawatirkan putrimu.Aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan hal itu,"
"Terimakasih Dion,kamu sangat perhatian padaku,"
__ADS_1
"Tentu saja,itu karena aku menyukaimu,"Dion menatap Cindy dengan tatapan teduh.
Ada satu rahasia besar yang belum Dion tau dari Cindy.Yaitu kebenaran kalau Aurel adalah putri kandung Farel sahabatnya.Cindy masih belum siap untuk mengatakan hal itu pada suaminya,dia takut Dion marah dan pergi meninggalkannya.
Dion mungkin pria baik yang selalu berpikir bijak,tapi belum tentu dia bisa memaklumi kenyataan yang begitu sulit dimengerti oleh nalar itu.Saat ini hati Cindy disergap oleh dilema,dilema antara berkata jujur atau menyembunyikan segalanya dari suaminya.
"Dion,apa yang akan kamu lakukan jika aku menyembunyikan sebuah kebohongan di belakangmu?"Cindy menatap wajah Dion serius.
"Mungkin aku akan marah padamu dan menghukum mu,"Dion menyahut sambil tertawa.Lesung pipi yang menempel diwajahnya membuat pria itu terlihat semakin tampan.
Cindy tidak bisa memalingkan pandanganya kearah lain,wajah Dion lebih menarik dari apapun yang sedang ada disekitarnya saat itu.
"Kenapa kamu tiba tiba berbicara seperti itu?Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"Dion menatap penuh selidik.
"Tidak,aku tidak menyembunyikan apapun darimu,"Cindy menundukkan wajahnya dan memainkan ujung dres yang sedang dikenakannya.
"Sudahlah,jangan terlalu banyak membahas omong kosong.Masih banyak hal yang perlu kita lakukan bersama,"
"Melakukan apa?"Cindy memasang wajah polos.
Dion menggendong Cindy ala bridal style.
"Melakukan kegiatan yang bisa menghasilkan seorang adik untuk Aurel,"Dion melangkah menuju ranjang pengantinnya.
Dikediaman Renata.
Renata Memasak lebih banyak aneka jenis makanan hari ini.Semua karena ada Aurel,putri tertua Farel yang hobi sekali makan makanan enak.Renata senang bocah itu hadir ditengah tengah keluarga mereka,Rio jadi sedikit terhibur karenanya.
Tak hanya merasa terhibur,Renata juga melihat suaminya lebih bahagia dari hari hari sebelumnya.Semangat dalam diri Renata untuk melakukan program hamil semakin membuncah karena itu.
"Berhentilah bermain,makananya sudah siap sejak tadi diatas meja,"celoteh Renata.
"Tunggu sebentar lagi,aku belum berhasil mengalahkannya,"sahut Rio sambil memainkan sebuah bola dengan kaki panjangnya.
"Sudahlah,akui saja kehebatan anak itu.Meskipun dia perempuan,dia lebih pandai bermain bola sepak dari pada kamu,"sindir Renata halus.
"Tidak bisa,harga diriku sebagai seorang pria dewasa bisa tercoreng karenanya,"Rio mendengus kesal.
"Kenapa bisa tercoreng?Aku kan tidak melakukan apapun.Aku hanya mengalahkan Om Lima kosong saja,"Aurel menyombongkan kehebatan dirinya tanpa dia sadari.
"Kamu dengar Renata,dia sedang mengolok olok aku,"
"Dia tidak melakukan apapun,kamu saja yang baperan!"Renata membela Aurel.
__ADS_1