
Sudah satu minggu Rio tidak pulang ke kediaman Mananta.Kania merasa sedikit aneh karena sebelumnya Rio tidak izin untuk pulang kampung atau cuti kerja.
Penasaran,Kania mencoba untuk menanyakan keberadaan Rio pada Nenek Maria.Kania pergi kedalam kamar Nenek,dia sedang bersantai duduk manis diatas kursi goyang sambil membaca sebuah buku.
"Nek,boleh aku masuk,"
"Tentu saja boleh,masuklah,"
Kania mendekat pada sang Nenek,wanita tua itu segera menyudahi aktifitas membacanya dan meletakan buku itu diatas meja.
"Nek,Rio kemana?Sudah satu minggu dia tidak pulang kerumah ini,"tanya Kania terus terang.
"Dia sedang aku tugaskan untuk mengerjakan sesuatu diluar,"sahut Maria santai.
"Sesuatu apa Nek?Apa untuk menangkap pelaku percobaan pembunuhan itu?"Kania mencoba menebak.
Maria mengangkat pandanganya keatas,seolah sedang mengingat ingat sesuatu.
Satu hari lalu.
Kepala lapas sekaligus asisten rahasia XXX menelfon Maria.Dia mendapat laporan dari seorang wanita misterius lewat telfon kalau pelaku percobaan pembunuhan yang menyerang Kania tempo hari adalah Thomas.
Pengakuan wanita itu juga dibenarkan oleh seorang detektif yang sebelumnya telah di sewa Maria secara khusus untuk menyelidiki kasus penembakan Kania tersebut.
Langsung saja,Maria meminta petugas lapas dan Rio menyambangi kediaman Thomas.Menangkapnya dan memasukannya kedalam penjara.Awalnya Erick menolak karena tidak tega dengan istri Thomas yang ternyata masih saudara jauhnya,apa lagi wanita itu sedang hamil besar.
Tapi akhirnya Erick mau melakukanya,dia teringat pada satu hal.Kalau Farel yang turun tangan secara langsung Thomas pasti akan habis ditempat,lalu istrinya yang masih saudara Erick akan depresi dan mengalami gangguan kejiwaan.
Ingatan Maria kembali saat tangan Kania menggenggam erat telapak tangan wanita tua itu.
"Nek,aku tau Nenek sedang menyembunyikan sesuatu dariku.Tapi apa Nenek menyembunyikan dari Farel juga?"
"Tentu saja iya,tapi pada akhirnya Farel juga akan tau.Rio pasti akan memberikan informasi pada Farel,dia kan orang kepercayaan Farel."
Kania menarik nafas panjang,lalu mengeluarkannya secara perlahan.Dirumah ini mungkin hanya Kania yang tidak mengetahui apa apa,tapi dia tidak merasa marah apa lagi kecewa.Bagaimanapun apapun yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan Kania dan anak anak yang sedang dikandungnya.
Farel nyelonong masuk kedalam kamar Nenek,dia terlihat gagah dengan setelan kemeja dan celana jeans panjang.
"Kamu mau kemana?Tumben sekali pakai celana jeans?"Kania menatap curiga.
"Aku mau keluar kota,ada urusan pekerjaan disana,"ucap Farel.
"Sendiri?"
"Iya,sendiri,"
"Berapa hari?"Wajah Kania terlihat sedikit tidak senang.
"Entahlah,mungkin tiga atau empat hari,"sahut Farel.
"Lama sekali,"Kania memonyongkan bibirnya kedepan.
__ADS_1
"Kania,aku kesana untuk urusan kerja bukan untuk bersenang senang dengan wanita.Kenapa wajahmu jadi seperti itu?"Farel tertawa gemas.
Farel mengelus perut Kania,dia berpamitan pada calon anak anaknya.Setelah itu Farel mencium kening Kania dan pipi Neneknya lalu melenggang pergi.
Dalam diam Maria tau,kepergian Farel bukan karena ada urusan pekerjaan diluar kota.Melainkan untuk menyusul Rio dan Erick.Tapi Maria diam saja,dia takut Kania akan merengek minta ikut jika mengetahuinya.
*
*
*
Malam hari,ruang tv.
Kania menonton acara berita bersama Nenek Maria dan Bi Sumi.Telah terjadi sebuah kecelakaan tunggal di tol XXX dan menewaskan seorang pengemudi wanita berjenis kelamin perempuan.Wanita itu Bernama Angela Jhonson.
Kania,Maria dan Bi Sumi terperanjat kaget.Mungkinkah wanita itu adalah mantan kekasih Farel?
Tiba tiba,kamera merekam sosok Beny Jhonson sedang menangis di sisi jalan bersama dengan Hanum orang kepercayaannya.
"Kasihan sekali Nona Angela,masih muda,meninggal dengan tragis,"Celetuk Bi Sumi.
Angela menutup mulutnya yang melebar dengan telapak tangan,kedua matanya berkaca kaca.Dia tidak menyangka hari itu adalah hari pertama sekaligus menjadi hari terakhir dia bertemu dengan Angela.
Maria juga ikut bersedih atas musibah yang dialami oleh Angela,terlebih Beny Jhonson adalah sahabatnya.Tapi ada sedikit perasaan kesal dihati Maria,dia jadi tidak bisa menangkap gadis itu dan memintanya untuk mempertanggung jawabkan perbutan jahatnya pada Kania.
Tapi mau bagaimana lagi?Semua yang terjadi adalah kehendak dari Tuhan.
"Jangan,besok saja kalau dia sudah pulang.Lagi pula,dia pasti sedang di jalan,"Maria tidak ingin konsentrasi Farel dalam mengemudi terganggu.
"Nenek benar juga."Maria mematuhi perintah sang Nenek.
Kring...Kring...Kring...
Telfon rumah berdering,Kania bangkit dari duduknya dan mengangkat telfon itu.
"Hallo,"Sapa Kania.
"Kania,ini aku Renata,"
"Iya sayang,ada apa?"Tanya Kania.
"Rio ada dirumah tidak?Beberapa hari ini dia tidak memberiku kabar,"Tanya Renata balik.
"Oh,dia sedang ditugaskan oleh Nenek keluar kota.Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya,nanti juga menelfon kok.Sabar ya,"Kania menggoda Renata.
"Iya,"Sahut renata setengah tertawa.
"Bagaimana kabar adik adiku?"Kania teringat pada Dian dan Dion.
"Mereka baik,sekarang sudah pergi tidur.Mungkin mereka kelelahan bermain tadi,kalau kabar Ibuku bagaimana?"Tanya Renata lagi.
__ADS_1
"Dia baik,mau mengobrol?"
"Tidak perlu,aku masih ada pekerjaan di dapur.Besok lagi saja ngobrolnya,"
"Ya sudah kalau begitu,selamat melakukan aktifitas,
"Sehat sehat disitu ya bumil,bye.."
"Kamu juga ya,bye.."
Kania menutup telpon,dia kembali duduk disofa menonton acara berita.Bi Sumi mendekati Kania,jelas sekali dia ingin menanyakan sesuatu.
"Ada apa Bi?"
"Boleh tidak Non,Bibi bertanya sesuatu?"
"Sesuatu apa?"Kania penasaran.
"Apa Rio dan Renata berpacaran?"
"Iya,"Sahut Kania singkat.
"Sudah berapa lama?"Tanya Bi Sumi lagi.
"Mungkin sudah dua bulanan,"
"Rio pria baik,biarkan saja putrimu berpacaran dengannya,"sambung Maria.
"Saya tidak melarang mereka berpacaran,hanya saja saya maunya mereka berdua segera menikah,"Bi Sumi memasang wajah penuh harap.
Baginya terlalu lama berpacaran itu tidak baik,dia juga takut terjadi sesuatu pada putrinya.Anak muda jaman sekarang kalau berpacaran suka sekali khilaf dan membuat kesalahan.
"Baiklah,besok kalau Rio pulang aku sendiri yang akan melamar Renata untuk Rio ke rumahmu,"ucap Maria.
"Benarkah itu Nyonya?"Bi Sumi seakan tak percaya.
"Benar,aku juga yang akan menanggung semua biaya pernikahan mereka berdua,"Maria menepuk pundak Bi Sumi pelan.
"Terimakasih Nyonya,"Bi Sumi menyeka air mata yang menetes di pipinya.
Kania ikut merasa senang untuk Renata.Akhirnya teman baiknya itu menyusul ke pelaminan juga.Dia harus menyiapkan kado istimewa Renata,kado yang bisa dia gunakan sampai tua dan diwariskan untuk anak cucunya.
Kania langsung terpikir ingin membelikan Renata dan Rio sebuah ruko yang letaknya dekat dengan rumah lamanya.Selain bisa ditinggali,ruko itu nantinya juga bisa digunakan untuk membuka usaha.
Farel pria baik,dia pasti akan mengabulkan permintaan Kania yang satu itu.
--->π»π»π»<---
Memperlakukan orang yang sudah berbuat baik kepada kita dengan perlakuan yang baik adalah sebuah tindakan yang bijak dan terpuji.
Author.
__ADS_1