
Kania terus merengek pada Farel agar pria itu mau mengantarnya menjenguk Bi Sumi.Akhirnya Farel cuti kerja,dia meluangkan waktu sibuknya untuk menuruti permintaan Kania.Tentunya dengan pengawalan super ketat dan peralatan super canggih untuk mendukung keamanan Ibu hamil itu.
Pukul 08.00 pagi Kania,Farel,Maria beserta rombongan meluncur kekediaman Bi Sumi.Mobil rombongan mereka terlihat seperti pasukan iring iringan presiden jika dilihat dari atas,terlebih mobil yang mereka gunakan juga ternyata anti peluru.
Apa yang tidak bisa dilakukan oleh pria kaya itu,jangankan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk keamanan keluarganya.Farel juga siap pasang badan untuk melindungi Kania dan anaknya jika tiba tiba pembunuh bayaran itu muncul dihadapan mereka.
Tiba di rumah Bi Sumi,Kania langsung mencari keberadaan wanita penyelamat itu.Rupanya Bi Sumi sedang duduk di kursi roda sambil membacakan buku cerita untuk adik adik Kania.
"Bahkan dia tetap memperlakukan Dian dan Dion dengan baik,sekalipun aku sudah menjadi penyebab musibah yang dialaminya kemarin,"ucap Kania dalam hati.
"Bi Sumi,"Panggil Kania.
"Nona,Tuan,Nyonya,kapan kalian datang kemari?Kenapa tidak mengabari terlebih dahulu?"Bi Sumi menyambut kedatangan keluarga itu dengan penuh suka cita.
Kania memeluk Bi Sumi,dia menangis sambil meluapkan segala kesedihan yang selama ini dia pendam.Dengan sigap Bi Sumi mengelus punggung Kania lembut,mencoba untuk menangkan emosi wanita hamil itu.
"Apa Bibi sudah merasa baikan?"Tanya Kania khawatir.
"Sudah,Renata merawat ku dengan baik dan telaten,"sahut Bu Sumi.
"Kemana Renata?Aku juga ingin bertemu denganya,"Kania mencari cari sosok Renata dalam pandangnya.
"Dia sedang memasak di dapur,pergilah kesana,"
Tanpa menunggu waktu lama Kania langsung pergi ke dapur untuk menemui sahabatnya Renata.
Kania memeluk tubuh Renata dari belakang,wanita itu tau pasti Kania yang memeluknya.Selain karena perut besar Kania yang menyundul,Renata hafal betul aroma parfum yang biasa Kania pakai.
"Bagaimana kabarmu teman?"Tanya Renata.
"Baik,kamu sendiri bagaimana?"Tanya Kania balik.
"Baik juga,"
Kania melepaskan pelukannya,dia menatap wajah temanya itu lekat lekat.
"Renata,kenapa kamu tidak pernah menelfon ku?Apa kamu marah padaku?"Kania memasang wajah sedih.
"Aku sedang sibuk,kamu tau itu kan?Kenapa juga aku harus marah padamu?"Renata merasa sedikit aneh pada sikap Kania.
"Bagaimanapun Ibumu terluka karena aku,wajar saja kalau kamu marah padaku atau bahkan membenciku,"Kania menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Ibuku telah melakukan hal baik,apa yang dia lakukan adalah keputusannya sendiri.Aku tidak marah padamu,apa lagi membencimu."
Kania menangis,dia segera menyeka air matanya karena takut ada yang melihatnya selain Renata.
Ada satu rasa yang selalu kania coba hilangkan dari benaknya,tapi rasa itu terus saja kembali.Rasa itu adalah rasa takut,takut terjadi sesuatu padanya dan tiga anak kembarnya yang masih berada di dalam perut.
"Kenapa kamu menangis?"Renata bingung.Tiada angin tiada hujan teman baiknya itu tiba tiba saja menangis.
"Aku takut,"ucap Kania lirih.
"Jangan takut,kami selalu ada untuk menjagamu dan anak anakmu,"Renata mencoba menenangkan Kania.
"Jangan terlalu banyak pikiran,itu tidak baik untuk kesehatan bayi bayi itu,"lanjut Renata.
"Iya,aku tau."Kania akhirnya berhenti menangis.
*
*
*
Dian dan Dion tiba tiba saja memeluk Kania erat,jelas sekali mereka berdua sedang khawatir pada keadaan Kakak perempuan mereka itu.
"Kak,Kakak baik baik saja kan?"Tanya Dion.
"Iya,kakak baik baik saja.Kalian berdua jangan khawatir ya,"Kania menyunggingkan senyum kecil.
"Apa identitas penjahat itu sudah ditemukan?"Sambung Dian.
Kania melempar pandangan pada Farel dan Nenek maria,mereka memberi isyarat agar Renata membawa dua anak itu bermain di luar.Kania langsung memberi kode pada Renata,wanita itu langsung memahaminya.
Renata langsung mengajak Dian dan Dion main diluar rumah.Mereka masih terlalu kecil untuk mengikuti perbincangan orang dewasa,terlebih tema obrolan mereka kali ini adalah tentang seorang penjahat.
Kania duduk disisi Farel,dia menggenggam tangan suaminya erat.Kecemasan yang selalu menyelimutinya akan sirna seketika ketika menyentuh tangan lebar berotot itu.
"Jadi,apa kamu sudah mengetahui identitas orang jahat itu?"Kania memandang wajah Farel.
"Untuk saat ini belum,polisi masih menyelidikinya.Sepertinya orang itu adalah orang yang telah lama polisi cari,sayangnya identitasnya belum bisa diungkap karena polisi masih ragu.Mereka masih perlu mencari dan mengumpulkan bukti bukti lainya,"jelas Farel panjang lebar.
"Bagaimana kalau kita pergi ke orang pintar saja,kita kirim santet penjahat itu biar kapok.Biar dia datang menemui kita dengan sendirinya,"Kania mengutarakan ide konyol yang sedang melintas dibenaknya.
__ADS_1
Seketika semua yang ada di ruangan itu terdiam,sebisa mungkin mereka menahan tawa karena takut Kania tersinggung dan marah.
"Astaga,Kania.Kamu masih saja percaya dengan hal hal seperti itu.Biarkan saja semua polisi yang mengurus,kita tinggal duduk manis menunggu kabar disini,"Farel mencubit pipi Kania karena gemas.
"Tapi,aku tidak sabar.Aku ingin tau siapa dalang dibalik percobaan pembunuhan ku itu."Kania merengek manja seperti anak TK yang sedang minta dibelikan jajan oleh orangtuanya.
Maria terdiam,sepertinya dia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Farel,Kania dan yang lainya.Tapi Bi Sumi orang yang sangat peka,dia tau betul diamnya seorang Maria berarti ada sesuatu.
"Nona,sebaiknya anda fokus pada kehamilan Anda saja.Apa lagi Kehamilan Anda sudah masuk trimester kedua,"Bi Sumi memberi sebuah nasihat.
"Betul kata Bi Sumi,jaga kandungan itu baik baik.Banyak makan makanan sehat,minum vitamin dan perbanyak istirahat.Soal penjahat itu biar jadi urusan kami dan polisi,"Farel menyambung.
Rio tidak mengikuti arah obrolan orang orang itu sejak tadi,matanya sibuk memandangi Renata yang sedang asyik bermain kejar kejaran bersama si kembar.Wajah ceria itu,senyum manis itu,telah berhasil menyita seratus persen perhatian Rio hanya untuk Renata.
"Permisi,saya mau izin keluar dulu sebentar,"Rio menyela obrolan serius Kania dan Farel.
Pria itu bangkit dari duduknya,dia berjalan lambat menghampiri Renata dan si kembar.
"Hallo,kesayangan om semuanya.Pada mau es krim tidak?"Tanya Rio.
"Mau om,"ucap Dian penuh semangat.
"Aku juga mau,"Dion melompat lompat.
"Kita jajan ke toko sebelah yuk,beli es krim.Ajak juga kak Renata,"Rio melirik kearah kekasihnya.
"Tapi kamu yang traktir ya?"Goda Renata.
"Iya dong aku yang traktir,kan aku yang ngajak kalian semua."
"Om Rio baik sekali,"puji Dian.
"Jelas,siapa dulu dong.Rio gitu loh,"Rio mengedipkan matanya sebelah.
Kelakuan genit Rio membuat hati Renata berdebar,dia terlihat tampan dan menggemaskan saat mengedipkan matanya sebelah sambil tersenyum kecil.
--->π»π»π»<---
Keluarga,tidak selalu harus memiliki ikatan darah.Mereka yang bersikap baik dan mau menolong saat kita susah juga layak untuk disebut keluarga.
Author.
__ADS_1