
Week end tiba,Rio kembali kerumah untuk menemui Renata.Dia membeli seikat bunga mawar merah dan satu box chicken wing kesukaan Renata.Rio harus bisa membuat hati wanita itu senang,kemudian dia akan mencoba untuk menasehati Renata pelan pelan.
Rio merasa tidak enak kepada Kania atas sikap Renata pada Dian dan Dion.Padahal dua anak itu tidak tau apa apa,tapi ikut menjadi korban kekesalan Renata.Kasihan sekali!
Tiba dirumah,Renata menyambut kedatangan suaminya dengan penuh suka cita.Dia merasa terkejut dengan hadiah dan makanan yang pria itu bawa.
"Terimakasih,kamu baik sekali padaku,"
"Tentu saja,kamu kan istriku,"
Rio bergegas mandi,setelah itu mereka melakukan ritual makan malam bersama.
"Kamu masak banyak sekali,"
"Sekalian buat besok,aku malas kalau sebentar bentar harus masak,"
"Ya jangan malas dong,malas itu tidak baik,"ucap Rio.Renata hanya membalas dengan senyuman.
Rio menyantap masakan Renata dengan lahap,wanita itu memang pandai memasak.Rasa dan aroma masakannya sangat mirip dengan masakan dari Bi Sumi.Mungkin karena dia adalah anaknya,Renata juga belajar darinya.
Selesai makan,Rio mengajak Renata keruang tv untuk menonton acara kesukaannya.
"Rumah sepi ya kalau tidak ada Dian dan Dion,"celetuk Rio.
"Iya,"ekspresi wajah Renata berubah.
"Ngomong ngomong,kenapa kamu jadi galak pada mereka?Apa karena aku tidak mau keluar dari pekerjaan ini?"Tanya Rio bertubi tubi.
"Aku tidak galak pada mereka,"bantah Renata.
"Aku percaya padamu,tapi anak anak tidak mungkin berbohong,"ucap Rio sambil memegangi kedua pipi istrinya.
"Kamu ragu padaku?"Renata menatap serius.Rio hanya terdiam karena merasa kesal sang istri sulit dimengerti.
Rio berpikir,dia akan mengembalikan hadiah ruko yang diberikan Kania dan Rio.Dia merasa tidak pantas mendapatkan hadiah sebesar itu.
"Surat rumah yang diberikan Nona Kania masih ada kan?"Tanya Rio.
"Masih,kenapa memangnya?"Renata menatap penuh selidik.
"Aku ingin mengembalikan rumah itu kepada mereka,"ucap Rio.
"Ko dikembalikan?Nanti kalau kita keluar dari rumah ini,kita mau tinggal dimana?Renata merasa kesal.
"Aku tidak enak padanya,kamu sudah membuat mereka kecewa.Untung saja Ibumu tidak tau akan hal ini,"Celoteh Rio.
__ADS_1
Renata menundukkan wajahnya.Apa benar yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan?Dia hanya tidak mau Rio terkena tembak saja,dia hanya ingin suaminya selamat.Kenapa Rio jadi marah marah seperti itu?
Renata menekuk wajahnya,dia bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar sambil membanting pintu.
"Kenapa baru terlihat sekarang sifat aslinya?"Rio menggeleng gelengkan kepalanya.
Rio menyusul Renata,dia menggedor pintu beberapa kali.Tapi wanita itu tidak mau membukakan pintu.Berbagai cara Rio lakukan untuk membujuk istrinya,tapi hasilnya nihil.
"Renata,buka pintunya,"ucap Rio.
"Tidak mau,kamu sungguh tidak mengerti aku,"teriak Renata.
"Maafkan aku kalau aku salah,tapi tolong buka pintunya.Kita harus bicara baik baik agar masalahnya cepat selesai,"Rio kembali membujuk.
"Tidak mau! Malam ini,kamu tidur diluar!"Sahut Renata.
Rio mengalah,dia memilih untuk menuruti kemauan Renata.Menanklukan hati wanita memang butuh perjuangan dan Rio akan melakukan perjuangan itu.Bantuan Tuhan selalu ada untuk orang orang yang tidak pernah menyerah,Rio yakin itu.
*
*
*
Ditempat lain,Kania dan Farel sedang melakukan perbincangan sederhana diruang tamu.
"Em,tidak spesifik.Jumlahnya berubah ubah setiap bulan,tergantung bonus juga.Kenapa memangnya?"Tanya Farel balik.
"Apa ada lima juta?"Kania menatap suaminya penuh dengan perhatian.
"Itu hanya gaji pokok saja,ditambah lain lain akan lebih dari itu,"sahut Farel.
"Gaji besar,resikonya juga besar.Tapi untuk apa bergaji besar kalau masih memiliki resiko?"Gerutu Kania lirih.
"Kamu sedang membicarakan apa?Aku bingung!"Farel mengerutkan keningnya.
"Aku hanya mencoba memandang dari sudut pandang Renata saja,"sahut Kania menggantung.
"Ada apa dengan Renata?"Farel penasaran.
"Dia meminta Rio untuk berhenti bekerja padamu,dia takut terjadi sesuatu pada Rio karena Renata kembali.Kamu ingat kan,dulu Bi Sumi hampir kehilangan nyawa karena melindungi aku,aku rasa Renata masih kesal padaku karena itu,"celoteh kania.Dia mengenang kejadian yang menyebalkan itu.
"Rio sangat setia padaku,dia tidak akan keluar apapun yang terjadi,"ucap Farel penuh keyakinan.
"Kenapa begitu?"Kania penasaran.
__ADS_1
"Dia berhutang nyawa padaku,"jelas Farel.
"Berhutang nyawa?Maksudnya?"Kania bingung.
"Jangan bahas itu lagi,aku tidak mau mengenang masa lalu yang menyedihkan itu,"pinta Farel.
"Ya sudah kalau begitu,"Kania mencoba menghargai keputusan suaminya.
Obrolan singkat itu tidak sengaja didengar oleh Bi Sumi yang sedang berdiri sambil mengisi nampan berisi minuman dan makanan dibelakang pintu.Dia sedikit terkejut dengan topik perbincangan Kania dan Farel.
"Renata,kenapa anak itu susah sekali dinasehati!"Batin Bi Sumi kesal.
Bi Sumi menyuguhkan makanan dan minuman diatas meja,Kania sedikit kaget karena memang mereka tidak memintanya.Kania juga takut wanita paruh baya itu mendengar percakapannya dengan suaminya.
Kania dan Farel saling beradu pandang,keduanya menutup mulut rapat rapat.
"Apa itu Bi?"Tanya Kania.
"Ini bola bola ubi ungu isi keju,cobalah.Rasanya enak loh,"sahut Bi Sumi.
"Baunya wangi sekali,Bibi dapat resep dari mana?"Tanya Kania lagi.Dia mencoba mencari tau arti dari senyum yang wanita itu sunggingkan.
"Dari YouTube,semalam saya dan Bu Ani menontonnya bersama sama.Hari ini kami juga membuatnya bersama sama,"ucap Bi Sumi.
"Kalian kompak sekali,"Farel mengambil satu butir camilan itu dan mencobanya.
"Emh...Ini enak,"Farel menggoyang goyangkan biasanya.
"Astaga,jangan seperti itu.Kamu seorang pria,buatkan wanita!"Kania mengomel.Mereka bertiga tertawa bersama.
Sekilas Bi Sumi terlihat biasa saja,Kania menebak wanita itu tidak mendengar percakapannya dengan suaminya.Kania merasa lega,dia tidak mau Ibu dan anak itu bertengkar gara gara dirinya.
Bi Sumi pamit ke dapur lagi,tak lama Kania memutuskan untuk menyusulnya.Ternyata di dapur wanita paruh baya itu menangis,dia terlihat sedang kecewa kepada seseorang.
"Bi,"Kania menghampiri wanita itu.Dia buru buru menyeka air matanya.
"Bibi kenapa?"Tanya Kania.
"Bibi tidak apa apa Non,hanya sedikit kelilipan saja,"wanita tua itu mencoba berbohong.
"Jangan bohong!"Kania marah.
"Maaf ya Non,Renata sudah menyusahkan Non dan Tuan,"seloroh Bi Sumi.
"Jangan bicara seperti itu,justru kami yang harusnya minta maaf,"ucap Kania.Kania memeluk Bi Sumi,keduanya saling berpelukan.
__ADS_1
"Saya tidak enak hati pada Non,saya mewakili anak saya untuk meminta maaf.Dia memang tidak tau berterimakasih!"Ucap Bi Sumi.Keduanya akhirnya menangis bersama sama.