
Kania menarik nafas lega saat suhu tubuh anak anaknya kembali normal.Sungguh,dunianya terasa hancur saat mengetahui anak anak yang sangat dicintainya jatuh sakit.
Pagi hari,pukul 08.00.Farel masih tertidur pulas disisi anak anaknya,dia sengaja tidak pergi ke kantor hari ini karena ingin menjaga anak anaknya yang sedang sakit.
Semalaman Farel begadang,hingga akhirnya dia menyerah pada setengah rasa ngantuk dan tidak sengaja tertidur.Wajahnya terlihat sedikit lelah,Kania merasa kasihan kepadanya.Dia tidak tega membangunkan suaminya,akhirnya dia membiarkan Farel tidur sampai nanti bangun sendiri.
Kring...Kring...Kring...
Ponsel Kania berdering,itu adalah telfon dari kedua adiknya.Kania segera mengangkatnya karena takut telah terjadi sesuatu,bagaimanapun mereka tidak pernah menelpon pagi pagi seperti ini.
"Hallo,Dian Dion.Apa kabar?"Sapa Kania ramah.
"Baik Kak,Kakak sendiri bagaimana?"Tanya Dian Dion kompak.
"Baik juga,tumben pagi pagi telfon.Ada apa?"Kania merasa sedikit curiga.
"Emhmm.."Dian menahan omongannya.
"Katakan saja,tidak apa apa,"Kania mencoba merayu.
"Boleh tidak Kak,kami ikut tinggal bersama Kakak?"Tanya Dian.Matanya sedikit berkaca kaca saat mengatakan hal itu.
"Tentu saja boleh,kenapa harus tidak boleh?Tapi,kenapa tiba tiba kalian ingin tinggal bersama kami?"Kania sedikit penasaran.
"Tidak kenapa napa kak,kami hanya merasa sudah waktunya saja kita tinggal bersama Kakak,"Dian berbohong.Dia tidak mau membuat Kakaknya kesal dan membenci sahabat baiknya sendiri.
Kakak mana yang tidak merasa kesal saat adik adiknya diperlakukan tidak baik oleng pengasuhnya sendiri?
"Ya sudah kalau begitu.Nanti sore kakak akan menyuruh kak Rio untuk menjemput kalian,"ucap Kania.
"Oke."Sahut Dian Dion kompak.
Kania menutup telpon,merasa ada yang tidak beres Kania mengirim pesan singkat pada Renata.Dia sangat berharap wanita itu mau membalas pesan singkat darinya,walaupun Kania tau Renata sedang marah tidak jelas padanya.
Waktu berlalu,pagi berganti sore.Kania menemui Rio yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya.
"Rio,"sapa Kania.
"Iya,Nona.Ada apa?"Tanya Rio.
"Tolong jemput Dian dan Dion,mereka berdua ingin tinggal disini,"perintah Kania.
__ADS_1
Deg,,,,
Rio merasa sedikit aneh,si kembar mau pindah kerumah ini?Padahal dulu mereka berdua tidak mau lepas dari rumah itu,pasti ada sesuatu yang telah terjadi disana.Begitulah kira kira isi pikiran Rio saat ini.
"Baik Nona,saya akan segera menjemput mereka berdua.Permisi,"pamit Rio.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman lama Kania,Rio terus menelfon Renata.Tapi gadis itu tidak mau mengangkatnya,Rio merasa sedikit resah dan gelisah.Akhirnya dia menambah kecepatan mobil yang dikendarainya agar bisa segera sampai disana.
Satu jam kemudian,Rio tiba.Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam.Pintu rumah itu terbuka,padahal biasanya selalu tertutup rapat.
Rio nyelonong masuk kedalam rumah,dia mendapati istrinya sedang menjewer telinga si kembar secara bergantian sambil marah tidak jelas.Sementara si kembar menangis.
"Ada apa ini?"Tanya Rio kesal.Melihat kedatangan Rio yang tiba tiba Renata syok berat,pria itu pasti sudah melihat perbuatanya.
"Ah,ini.Aku sedang memberi pelajaran kepada mereka,mereka nakal sekali,"Renata berbohong.Dian dan Dion berkaca kaca,mereka menggelengkan kepala pelan.
"Pergi siapkan barang barang penting Dian Dion,mereka akan tinggal bersama Nona Kania mulai malam ini,"perintah Rio.
*
*
*
"Kak Renata jadi aneh,dia tidak mau menemani kami mengerjakan PR.Jarang memasak,sering marah marah,"kisah Dian.
"Makanya kami ingin pindah bersama Kak Kania,"lanjut Dion.
"Lalu,kenapa dia menjewer telinga kalian tadi?"
"Kami diam diam menelfon Kak Kania,Kak Renata berpikir kami sudah mengadu yang tidak tidak pada Kak Kania jadi Kak Kania mengirim pesan padanya,"
Rio merenung,mungkinkah itu semua karena Rio tidak mau berhenti bekerja dari kediaman Mananta?Mungkinkah itu semua karena kecemasan dan ketakutan berlebih yang dirasakan oleh Renata?Dia harus membicarakan hal itu baik baik dengan istrinya.Dia tidak mau ada perselisihan yang terjadi antara Nona Kania dan Renata.
Rio menyeret empat buah koper secara bergantian dan membawanya masuk kedalam kamar tamu.Kamar yang biasa ditinggali Dian dan Dion saat menginap dirumah itu.
"Sudah makan belum?"Tanya Kania.
"Belum,"sahut Dian dan Dion kompak.
"Ini sudah jam sembilan malam,sejak kapan kalian tidak makan?"Tanya Kania.
__ADS_1
"Pagi tadi kami sarapan roti dan susu,siang sampai sekarang kami tidak makan.Kak Renata tidak memasak,"sahut Dion polos.
Jantung Kania merasa sakit mendengar pengakuan dari adik adiknya.Apa yang harus lakukan?Perlukan dia memarahi teman sekaligus orang kepercayaannya itu?
Kania mengambil makanan di dapur dan membawanya kepada Dian Dion.Dua anak itu makan dengan lahap,jelas sekali kalau keduanya telah menahan rasa lapar sejak tadi.
Rio merasa sedikit malu dengan perlakuan buruk istrinya,dia meminta maaf pada Kania dan berjanji akan menegurnya.
"Mungkin dia sedang ada masalah,makanya dia bersikap seperti itu.Jangan terlalu kasar padanya,tanyakan saja baik baik penyebab dia melakukan itu semua,"pesan Kania pada Rio.
"Baik Nona,"Rio mengangguk patuh.
Bi Sumi muncul,dia sedikit mendengar obrolan singkat Kania dan Rio.
"Apa yang terjadi Nona?Kenapa Dian dan Dion ada disini?"Tanya Bi Sumi.
"Tidak ada apa apa Bi,mereka disini karena ingin tinggal bersamaku,"Kania menutup nutupi yang terjadi.Dia tidak mau Bi Sumi merasa khawatir dan cemas.
"Oh,ya sudah.Bibi mau istirahat ke kamar dulu,kalau perlu apa apa panggil saja Bibi,"ucap Bi Sumi.
"Oke Bi."Kania menyunggingkan senyum.
Bi Sumi melangkah pergi menuju kamarnya,Kania dan Rio melanjutkan obrolan rahasia mereka lagi.
"Renata tau kalau Angela masih hidup,dia merasa takut Ibunya dan aku akan terluka karena ulah wanita itu seperti tempo hari,"tutur Rio.
"Lalu?"Kania meminta Rio melanjutkan ceritanya.
"Dia memintaku keluar dari pekerjaan ini,dia tidak suka jika aku dan Ibunya harus terluka hanya untuk melindungi keluarga Mananta,"ucap Rio.Kania melotot,dia kaget dengan permintaan Renata itu.
"Dia seperti itu karena sangat menyayangi kalian berdua,jika posisi kami dibalik,mungkin aku akan melakukan hal yang sama,"Kania memasang wajah sedih.
"Lalu bagaimana keputusanmu selanjutnya?"Lanjut Kania.
"Aku tidak mau keluar dari pekerjaan ini,aku sudah terlanjur mencintai pekerjaanku,"ucap Rio tulus.
"Lalu Renata bagaimana?Dia akan marah padamu?Jika kamu dan Bi Sumi mau keluar ya keluar saja.Aku tidak mau kalian bertengkar karena kami,"Kania merasa tidak enak hati.
"Tidak Nona,aku akan menasihati Renata pelan pelan.Dia gadis baik dan penurut,dia pasti akan mengerti keputusanku,"Rio merasa yakin bisa merubah pandangan Renata kelak.
"Ya sudah,kalau begitu.Terserah kamu saja."ucap Kania pasrah.
__ADS_1