
Diruang makan,pagi hari.
Renata memasukan beberapa sendok nasi,lauk dan sayur kedalam piring.Lalu memberikannya pada Rio.
"Terimakasih,"ucap Rio lirih.
Renata memperhatikan wajah suaminya,pria pendiam itu apa memiliki kekasih lain diluar sana?Rio mungkin tidak kaya seperti Farel,tapi dia sangat manis dan perhatian.
Di zaman moderen seperti sekarang ini,banyak wanita yang kesepian dan kurang kasih sayang.Mereka tidak membutuhkan uang atau harta,tapi mereka membutuhkan belaian dan kasih sayang.
"Kenapa menatapku seperti itu?Apa ada yang salah dengan wajahku?"Tanya Rio pada Kania.
"Kamu tidak punya selingkuhan kan diluar sana?"Celoteh Renata tiba tiba.Rio yang sedang makan langsung tersedak dan batuk batuk.
"Kamu,kenapa tiba tiba bertanya seperti itu?"Rio menatap tajam.
"Farel punya selingkuhan,bahkan sampai punya anak.Aku takut kamu juga sama seperti dia,"Renata menundukkan wajahnya.
"Jangan sembarangan bicara,Tuan tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu,"Rio membela mantan majikannya.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,Farel sedang menggenggam tangan seorang wanita mesra.Mereka berkata soal anak,one night stand,cerai dan lain lain,"cerita Renata menggebu.
"Seperti apa rupa wanita itu?"Rio mencoba menyudutkan Renata.Renata membuka ponsel dan meminta Rio untuk melihat foto hasil jepretannya.
"Itu Cindy,teman lama Farel.Aku mengenalnya,dia sudah menikah dan memiliki seorang anak,"ucap Rio.
"Dia sudah bercerai dengan suaminya,anak itu anak Farel.Kalau kamu tidak percaya,tanya sendiri saja padanya,"jelas Renata.
"Apa benar seperti itu?"Kenapa aku ragu ya?"Batin Rio.
Acara sarapan hari itu berbeda dengan hari hari biasanya.Mereka sedikit ribut karena masalah rumah tangga orang lain.Baru membahas masalah rumah tangga orang lain,bagaimana jika membahas masalah rumah tangga mereka sendiri ya?Bisa bisa tahun depan baru selesai sarapannya.
Selesai sarapan,
Rio menghubungi Tuan Muda Farel dan menanyakan perihal gosip miring yang didengarnya dari sang istri.Tapi Farel malah meminta Rio untuk datang kerumah agar bisa mendengarkan penjelasan darinya dengan baik.
Rio meng iyakan perintah mantan bosnya.Tanpa menunggu lama,dia pergi ke kediaman Mananta.Sementara urusan toko pakaiannya dia serahkan kepada sang istri.
Satu jam kemudian,Rio tiba ditempat tujuan.Dia langsung masuk kedalam rumah dan berjalan menuju ruang pribadi Farel.
__ADS_1
Tok...Tok...Tok...
Rio mengetuk pintu,setelah diperbolehkan masuk dia pun akhirnya masuk kedalam ruangan pribadi itu.
Dari jauh,Kania melihat bayangan Rio.Dia yakin mereka berdua akan membicarakan hal penting,jadi Kania memutuskan untuk pergi kesana dan menguping dari balik pintu.
"Jadi,yang mengadu pada Kania itu istri kamu?"Tanya Farel.
"Iya,Tuan.Saya saja baru tau tadi,"sahut Rio.
"Tapi apa yang dikatakan istri saya itu benar?Anda dan Cindy berselingkuh?"Rio penasaran.
"Kami tidak berselingkuh,aku hanya mau bertanggung jawab atas putrinya saja.Bagaimanapun,bocah itu ada karena kesalahan kami yang tidak disengaja itu,"celoteh Farel.
"Mana mungkin aku mengkhianati orang yang aku cintai,aku saja tidak mau dikhianati,"lanjut Farel.
Kania tersentak,kini dia percaya kalau suaminya tidak memiliki perasaan sedikitpun pada Cindy.Dia hanya ingin bertanggung jawab pada anaknya saja.Tapi tetap saja,bayangan saat mereka berdua melakukan hal itu bersama masih membuat Kania murka.Meskipun mereka melakukanya di masa lalu,tapi Kania tetap takut hal itu akan terulang lagi.
"Ngomong ngomong,kapan Nona Cindy akan menikah dengan tunangannya itu?"
"Entahlah,mungkin akhir bulan nanti.Cindy ingin menitipkan putrinya disini saat mereka pergi bulan madu tapi dia tidak enak hati pada Kania,"Farel memasang wajah bingung.
"Bukanya anak itu masih punya Nenek?"Rio tertegun.
"Kalau begitu,Anda coba izin saja pada Nona Kania.Siapa tau boleh,"usul Rio.
"Mana mungkin boleh,apa lagi dia sedang marah padaku.Bahkan sedang minta pisah ranjang,"Farel memasang wajah sedih.
Mendengar hal itu Rio hanya bisa diam sambil menarik nafas berat.
*
*
*
Obrolan Rio dan Farel selesai.Kania buru buru pergi dari tempat itu,jangan sampai mereka berdua memergoki Kania sedang menguping disana.
Kania bersembunyi didalam kamarnya.Hatinya terasa sakit saat tau Farel ingin membawa putrinya dengan Cindy ke rumah itu.Kania akan menolak kehadiran anak itu,dia takut tidak bisa mengendalikan perasaan dan marah marah saat melihat anak itu.
__ADS_1
Anak itu mungkin tidak salah,tapi melihatnya akan membuat Kania teringat pada masa lalu Cindy dan Farel.Lebih baik dia menyuruh Farel untuk berkata pada Cindy agar membawa putrinya turut serta saat berbulan madu.
"Nona,"panggil Bi Sumi dari luar pintu.
"Ada apa?"Tanya Kania.
"Tuan Farel mau bicara,"ucap Bi Sumi.
"Iya,tunggu sebentar,"sahut Kania.
Kania keluar dari kamar,dia pergi menemui Farel di ruangannya.
"Ada apa?"Tanya Kania pada Farel.Dia berpura pura tidak tau apa yang akan dibicarakan oleh istrinya.
"Aku akan membawa Aurel kerumah ini untuk beberapa hari,"ucap Farel.Dia sedikit menyimpan rasa khawatir di wajahnya.
"Tidak boleh,"tolak Kania mentah mentah.Dia membulatkan matanya dengan sempurna.
"Cindy akan pergi berbulan madu,dia tidak bisa membawa Aurel ikut serta,"ucap Rio.
"Kenapa tidak bisa?"Tanya Kania kesal.
"Dia phobia ketinggian,tidak bisa naik pesawat,"jelas Farel.
"Kalau begitu titipkan saja dia pada Rio,"Kania memberi pilihan lain.
"Kania,dia putriku bukan putri Rio,"Farel tidak setuju.
"Aku tidak bilang kalau dia putri Rio,aku hanya bilang titipkan saja dia pada Rio,"Kania tetap bersikeras walaupun Farel tidak setuju.
"Tidak bisa,"ucap Farel.
"Baiklah,bawa saja putrimu itu kemari.Biar aku dan anak anaku yang akan mengungsi,"ucap Kania kesal.
"Kania,apa kamu gila?"Farel mendelik.
"Iya,aku gila.Aku gila karena kamu,puas?"Seloroh Kania kasar.
Kania pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja.Farel menggebrak meja hingga menimbulkan suara gaduh.Dia marah karena Kania tidak menurut padanya,selain sulit diatur,dia juga sulit untuk diajak berbicara baik baik.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"Keluh Farel dalam hati.Dia terlihat sangat bingung,disisi lain dia tidak bisa membiarkan Aurel sendirian,tapi dia juga tidak mau Kania dan anak anaknya pergi.
Sementara itu di ruangan sebelah,Dian dan Dion hanya duduk dan saling menatap satu sama lain.Mereka bingung,karena akhir akhir ini mereka berdua sering mendengar kakak dan suaminya bertengkar.Keluarga itu sudah tidak harmonis seperti dulu,mereka berdua merasa kasian pada Kania.