
Dian masih saja ngambek pada Kakaknya,sudah beberapa hari ini dia puasa bicara pada Kania.Farel menegur istrinya,dia penasaran kesalahan apa yang sudah dia lakukan pada adik perempuannya itu.
"Aku hanya membaca buku diary miliknya tanpa ijin,"
"Itu tidak sopan,pantas kalau dia marah padamu!"
"Aku hanya membaca sedikit,tidak banyak,"
"Tetap saja,kamu tidak sopan.Lain kalo minta izin dulu pada yang punya,"
"Dia mulai jatuh cinta pada laki laki,aku penasaran dengan sosok laki laki itu,"
"Biasa lah,cinta monyet.Umur segitu sedang lucu lucunya,kamu pernah mengalaminya bukan?"
"He...He...He...He...."
"Berhentilah kepo pada urusan adikmu,dia sedang beranjak dewasa,kalau dia ada problem pasti akan cerita kepadamu tanpa ditanya atau disuruh,"
"Iya,aku tau.Kenapa kamu jadi ikut sewot padaku?"
"Bukan sewot,hanya memberi tahu saja,"
Dion mendengar obrolan Farel dan Kania.Dia menghampiri dua orang itu sambil memasang wajah penasaran.
"Dian jatuh cinta?Siapa pria tak beruntung itu?"Dion tertawa.
"Jangan bicara seperti itu,dia kakakmu!"ucap Kania.
"Dian itu cerewet,betapa sialnya pria yang dia suka itu,"Lanjut Dion.
"Tolong jangan keras keras,nanti kalau Dian tau dia akan marah pada kita semua."Kania membungkam mulut Dion dengan telapak tanganya.
Dion menghela nafas,dari dulu sampai sekarang Kania selalu berusaha untuk menjaga perasaan Dian.Tapi padanya Kania kelewat cuek,Dion jadi merasa kalau Kania lebih sayang pada Dian daripada dirinya.
Memangnya apa bedanya dirinya dengan Dian?Mereka sama sama adiknya.Harusnya Kania bersikap adil,agar tidak ada kesenjangan persaudaraan diantara mereka.
"Kania,lepaskan tanganmu.Apa kamu mau Dion pingsan kehabisan nafas!"protes Farel.
Kania melepaskan bekapan tanganya pada mulut Dion.Dia meringis,dia mengacak acak rambut cepak adik laki lakinya itu.
Tiba tiba saja Dian muncul,dia menatap tiga orang itu dengan tatapan kesal.Sepertinya dia tau kalau mereka bertiga sedang menjadikan dirinya bahan gibah.
"Kalian pasti sedang menggosip tentang aku kan?"Celoteh Dian.
__ADS_1
"Tidak,pede sekali kamu!"Sahut Dion.
"Tidak perlu bohong,aku bisa melihat isi pikiran seseorang dari pandangan mata mereka!"Ucap Dian sambil berlalu.
Farel,Kania dan Dion saling menatap satu sama lain.Sejak kapan Dian memiliki kekuatan supranatural?Perasaan keluarga mereka tidak ada silsilah keturunan dukun.
"Jangan diambil hati,dia pasti sedang asal bicara saja agar kita takut padanya,"seloroh Dion.
"Iya,"ucap Kania singkat.
"Tapi bagaimana kalau yang dia ucapkan itu benar?"Sambung Farel.
"Kita harus hati hati bicara padanya,"ucap Dion.
Kania menghampiri Dian ke kamarnya,dia terus membujuk anak itu untuk memaafkannya.Setelah dia berjanji tidak akan melakukan hal seperti kemarin lagi,Dian akhirnya mau memaafkannya.
Kania memeluk Dian,dia mengucapkan terimakasih atas kemurahan hati gadis itu.
"Lain kali jangan diulangi ya!"Ucap Dian.
"Iya,aku kan sudah berjanji padamu,"Kania menarik ujung hidung Dian pelan.
Hubungan kakak beradik memang seru,meski sering bertengkar mereka akan kembali akur.Karena pada dasarnya mereka saling membutuhkan dan saling menyayangi satu sama lain.
*
*
*
Salah satu anak Vino ingin melihat calon Mama tiri mereka,akhirnya vino mengajak Angela untuk Vidio call.
Tut...Tut...Tut...
Bunyi telfon tersambung.Tak lama Angela mengangkat telpon itu dengan hati penuh debaran.
"Hallo,"sapa Angela sambil melambaikan tangan.
"Waw,dia cantik sekali,"puji Damar anak Vino.
"Tentu saja,dia mantan model,"bisik Vino.Angela hanya tersenyum melihat kelakuan Ayah dan anak itu.
"Kalian berdua sedang apa?"Tanya Angela.
__ADS_1
"Kami sedang bermain dikamar Ayah.Sepertinya kamu wanita yang baik,aku sangat beruntung punya calon Mama sebaik dirimu,"
"Ah,terimakasih.Kamu pandai sekali memuji seperti Ayahmu."
Obrolan itu berlangsung cukup seru,Damar banyak bertanya pada Angela dan wanita itu selalu menjawabnya dengan jelas dan lugas.
Damar bertanya tentang cita cita Angela,hobi,serta hal yang paling dia sukai.Sepertinya Damar ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan calon Mama tirinya itu.
Tak terasa,waktu berlalu.Jam telah menunjukan pukul 21.00.Vino pamit pada Angela untuk mematikan telfon karena ingin menemani anak anaknya tidur.
Usai menutup telfon,Angela termenung.Vino begitu sayang pada anak anaknya,apa dia juga kelak akan sayang pada anak dari rahimnya?Apa dia bisa bersikap adil dan tidak pilih kasih?
Angela menepuk jidatnya,kalau dia mau menikah dengan duda,dia juga harus mau menanggung segala resikonya.Termasuk menerima kedua anak Vino.Tapi Vino pria baik,dia pasti akan bersikap adil pada anak anaknya dan anak anak Vino.
Benny melintas didepan kamar Angela.Dia melihat putrinya sedang memijat pinggiran kepalanya.Calon pengantin baru itu terlihat pusing,seperti sedang menghawatirkan sesuatu.
"Kamu kenapa?"Tanya Benny dari sebrang pintu.
"Tidak apa apa Yah,hanya sedang terkena migren saja,"Angela berbohong.
"Migren?Masih muda kok sudah kena migren?"Benny sedikit tidak percaya.
"Sudah malam,pergi tidur! Calon pengantin tidak boleh begadang,nanti auranya tidak keluar saat dirias,"
"Ayah ini,ada ada saja,"
Benny pergi dari dari hadapan Angela,dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Tiba tiba,dia teringat pada nasib Ayahnya.Angela adalah anak satu satunya,jika dia menikah dan pergi dari rumah itu,Ayahnya akan tinggal dengan siapa?Masa dengan asisten rumah tangga saja?
Angela kepikiran untuk mencarikan Ayahnya calon istri,kalau perlu mereka akan menikah berbarengan.Untuk itu Angela harus meminta pendapat Hanum,wanita bijak itu pasti bisa membantunya.
Hanum naik keatas ranjang,dia menutupi tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya.Kenyataanya dia tidak bisa tidur,meski dia sudah berusaha untuk rileks dan tidak memikirkan apapun.
"Yang benar saja,masa aku insomnia?"Gerutu Angela lirih.
Angela pergi keruangan kerjanya,dia membaca beberapa buku agar matanya mengantuk.Tapi usahanya itu tidak membuahkan hasil.Dia mengingat ingat apa yang baru saja dia konsumsi sore tadi hingga dia mengalami gangguan tidur.
"Ah,aku baru saja minum kopi tadi.Dasar kopi s*lan!"Umpat Angela.
Angela mondar mandir seperti setrikaan,kegelisahannya itu berlangsung hingga tengah malam.Dia memutuskan untuk menelfon Hanum untuk menemaninya begadang,tapi wanita itu tidak mau mengangkat telfonya.
Hanum selalu tidur dengan teratur,dan kalau sudah tidur seperti orang mati.Jangankan suara telfon,digoyang gempa bumi saja dia sulit bangun.
__ADS_1
"Hanum,andai aku bisa seperti kamu.Bisa tidur dalam keadaan apapun dan di manapun,"
Bersambung...