Istri Bayaran Tuan Muda Impoten

Istri Bayaran Tuan Muda Impoten
Bab 65


__ADS_3

"Ada apa Nona?Sepertinya Nona sedang kesal?"Tanya Bi sumi.Dia berjalan menghampiri Kania yang sedang sibuk menyeduh secangkir kopi.


"Farel menyebalkan sekali Bi,dia tidak memperbolehkan aku untuk bergabung dengan mereka.Padahal aku ingin tau apa yang sedang mereka bicarakan,"Kania memajukan bibirnya.


"Mungkin belum waktunya saja,nanti kalau sudah waktunya juga dia akan cerita sendiri.Laki laki memang seperti itu,sabar saja ya,"Bi Sumi tertawa.


Entah kenapa Kania merasa kesal,bisa bisanya Bi Sumi tertawa saat dia sedang merasa kesal.Apa wajahnya jadi terlihat lucu saat sedang marah?


Usai melakukan ritual sarapannya,Kania bergegas kembali ke kamar untuk memandikan anak anaknya.Dia menatap wajah bayi bayi itu sekilas,semuanya mirip dengan Farel.Tidak ada yang mirip denganya sedikitpun,mungkin karena dia sering marah kepada Farel saat sedang hamil.


Di bantu Bu Ani,Kania memandikan anak anak itu secara bergantian.Seluruh sisi sisinya dibersihkan,tidak ada yang ketinggalan.Setelah itu dia mendandani anak anaknya hingga terlihat manis dan menggemaskan.


Tiba tiba,Kania teringat pada peristiwa menyebalkan kemarin.Saat dia memergoki Sekar sedang merayu suaminya.


"Bu,apa kamu tidak tau informasi apapun tentang Sekar?"Tanya Sekar.


"Tidak,memangnya kenapa Non?"Bu Ani memasang wajah penasaran.


"Kemarin,dia mencoba merayu suamiku dan membuat kami berdua bertengkar hebat,"tutur Kania.


"Benarkah?Saya tidak tau kalau dia akan segenit itu,"ucap Bi Ani.Wajahnya terlihat syok dan kaget.


"Tidak hanya genit,tapi juga gatal! Aku benci sekali padanya,"ucap Kania penuh emosi.


"Sabar ya Nona,namanya juga rumah tangga.Pasti ada cobaannya,anggap saja dia adalah cobaan untuk rumah tangga Nona,"Bu Ani menasehati Kania.


"Kenapa cobaan yang datang selalu berkaitan dengan wanita?"Kania mengeluh.


"Mungkin karena Tuan Farel tampan dan kaya,"sahut Bu Ani dengan nada setengah bercanda.


Kania terdiam,mungkin yang dikatakan oleh pengasuh anaknya ada benarnya juga.Itulah resiko memiliki suami tampan dan mapan,menjadi rebutan banyak perempuan.Kalau tau akan begitu,Kania mungkin lebih memilih menikah dengan pria biasa biasa saja.


Farel masuk tanpa mengetuk pintu.Takut mengganggu,Bu Ani langsung pamit pergi dari dalam kamar itu.


"Kamu kenapa?Kok wajahmu ditekuk seperti itu?"Tanya Farel.


"Tidak apa apa,"sahut Kania malas.


"Jangan bohong! Katakan saja sejujurnya,"Farel merasa Kania sedang membohonginya.


"Aku benci padamu!"Ucap Kania kesal.

__ADS_1


"Kenapa?Apa karena tadi kamu tidak boleh bergabung?"Farel mencoba menebak.Kania hanya diam saja tanpa memberikan respon apapun.


"Sayang,tadi itu kami sedang membicarakan soal pekerjaan.Kamu tidak akan tau topik pembicaraan yang kami bicarakan,"kilah Farel.Dia mencoba merayu istrinya yang sedang ngambek.


"Oh ya?Ada kerja sama apa kamu dan Ayah Angela?"Tanya Kania penasaran.


"Besok kamu juga tau sendiri,"Farel berkilah lagi.


"Tidak tau memberitahu aku?Aku akan mencari tahu sendiri!"Batin Kania.


*


*


*


Keesokan harinya.


Renata datang berkunjung,dia membawa makanan untuk Dian dan Dion.Kania merasa Renata pasti tau soal pekerjaan rahasia yang sedang digarap oleh Farel,Rio pasti bercerita padanya.


Setelah berhasil menidurkan anak anaknya,Kania mengajak Renata untuk berbincang sambil minum teh dihalaman belakang.Seolah tau Kania ingin bertanya sesuatu,Renata langsung bersikap sedikit dingin dan sedikit bicara.


"Tentu saja tidak.Untuk apa dia memberitahuku?Kamu tau sendiri aku malas memikirkan hal lain selain pekerjaan rumah,"sahut Renata mantap.


"Oh...Begitu ya?"Kania sedikit merasa kecewa.


"Aku tidak mau banyak beban pikiran,apa lagi saat ini aku sedang hamil,"lanjut Renata.


"Apa?Kamu sedang hamil?"Kania melotot.Dia merasa terkejut sekaligus senang.


"Iya,aku sedang hamil.Sudah jalan empat minggu,"jelas Renata.


"Apa Rio sudah mengetahuinya?"Tanya Kania lagi.


"Belum,aku kesini untuk memberi tahu dia,"ucap Renata sambil memasang wajah ceria.


Berita kehamilan adalah hal yang paling ditunggu dan paling dinanti oleh sepasang pengantin baru.Rio pasti akan senang dengan berita yang dibawa oleh istrinya itu,terlebih dia sudah sangat menginginkan kehadiran bayi kecil ditengah tengah keluarganya.


"Nanti malam kamu harus menginap disini,aku ingin mengobrol banyak soal kehamilan,"Kania menggenggam tangan Renata.


"Tidak bisa,nanti rumahmu kosong tidak ada yang menjaga,"Renata menolak secara halus.

__ADS_1


"Ayolah,hanya semalam saja tidak akan lama,"Kania memohon.


"Baiklah,aku tidak tega kalau kamu memaksa seperti itu,"Renata dan Kania tertawa bersama.


Di ruangan lain,Maria mencari keberadaan cucu menantunya.Dia mencari kesana kemari hingga akhirnya dia menemukan wanita itu sedang berbincang dihalaman belakang dengan temanya.


"Disini kamu rupanya,"seloroh Maria.


"Nenek mencari aku?"Tanya Kania.Kedua matanya melirik kearah sebuah benda berwarna hijau yang sedang dipegang oleh wanita tua itu.


"Iya,Nenek mau memberikan sesuatu padamu,"ujar Maria.Dia menyodorkan sebuah gelang giok kepada Kania.


"Ini untukku?"Tanya Kania.


"Iya,itu untukmu.Kamu harus menjaganya dan merawatnya dengan baik untukku,"pesan Maria.


"Apa tidak apa apa kalau diberikan padaku,harganya pasti sangat mahal Nek,"Kania sedikit memberi penolakan.


"Kalau aku sudah tiada,semua yang aku miliki akan aku berikan padamu,"celoteh Maria.


"Nenek,kenapa tiba tiba bicara seperti itu?Membuatku takut saja!"Kania memarahi sang Nenek.Dia mendekap tubuh Nenek itu seolah olah sedang merasa takut kehilangan.


Perpisahan itu pasti akan terjadi,entah kapan dan siapa dulu yang akan pergi.Kania merasa takut karena akhir akhir ini Nenek Maria sering sakit,tubuhnya juga terlihat lemah dan wajahnya pucat.Farel juga pasti menyadarinya,hanya saja kesedihan pria itu tertutup oleh kesibukannya dalam bekerja.


"Gelang itu sangat cantik,sangat cocok dipakai olehmu.Coba dipakai,"sambung Renata.


Kania menuruti permintaan temanya,benar saja,gelang itu sangat pas ditangannya.


"Benar benar pas,itu artinya kalian berdua memang berjodoh,"Maria tersenyum.Dia membelai pipi kedua pipi Kania lembut.


Usai berbincang degan kedua wanita itu,Kania kembali ke kamarnya untuk memeriksa keadaan anak anaknya.Ternyata mereka sudah bangun,dan Bu Ani sedang berada di sisi mereka.


"Bu,anak anak menangis tidak?"Tanya Kania.


"Tidak,"sahut Bi Ani singkat.


"Apa mereka sudah bangun sejak tadi?"


"Tidak,mereka baru saja bangun,"


Kania mencium anak anaknya satu persatu dan mengucapkan selamat siang.Ketiga bayinya tersenyum,seolah mereka tau apa yang Mamanya katakan.Bagi Kania,tidak ada yang lebih indah dan lebih berharga didunia ini selain senyum anak anaknya.

__ADS_1


__ADS_2