
Dian dan Dion menghampiri Kania.Mereka bertanya tentang alasan kenapa akhir akhir ini dirinya dan Farel sering bertengkar.Kania tidak menyangka kalau anak anak kecil itu memperhatikan apa yang terjadi disekitar mereka,termasuk pertengkarannya dengan Farel.
Anak kecil belum mengerti masalah rumah tangga,sebisa mungkin Kania menjelaskan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti.Tentunya agar Dian dan Dion tidak merasa bingung,juga tidak berpikir terlalu keras.
"Kami hanya sedang berbeda pendapat saja,sama seperti kalian berdua.Kadang kadang ribut karena berbeda pendapat kan?"Jelas Kania.
"Tapi Kakak terlalu sering ribut,telinga kami panas mendengarnya,"Celetuk Dian.Sementara Dion hanya mengangguk anggukan kepala saja.
"Maaf ya,lain kali kami tidak akan ribut ribut lagi deh.Kalian berdua takut sesuatu terjadi dengan kami ya?"Kania tersenyum.
"Iya.Kami takut Kakak dan Kak Farel akan berpisah.Orangtua teman kami sering bertengkar dirumah,lalu tidak lama mereka berpisah.Teman kami menangis sepanjang hari dikelas,kasihan sekali,"ucap Dian dengan gaya khas anak seumurannya.
Tiba tiba Farel muncul,dia ikut nimbrung pada Kania dan adik adiknya.
"Kalian tenang saja,kami tidak akan pernah berpisah.Sekalipun Kakakmu sangat menginginkannya,aku tidak akan pernah menurutinya,"celetuk Farel.
Kania mendengus kesal,pria itu mulai bersikap seenaknya saja.Tidak memikirkan perasaanya dan hanya memikirkan perasaan sendiri.Bisa bisanya dia ingin mengajak putrinya dari wanita lain untuk tinggal bersama dengan mereka,walaupun hanya sebentar Kania jelas merasa sangat keberatan.
Farel bisa melihat dengan jelas tatapan marah dimata Kania,dia merasa takut untuk meneruskan kehendaknya.Takut Kania akan bertambah marah dan menjadi benci padanya.
Farel mengurungkan niatnya untuk membawa Aurel kerumah,dia berencana untuk menitipkan bocah itu pada Rio dan Renata saja.Tidak semua wanita bisa dengan mudah menerima kekurangan suaminya,termasuk Kania.
"Maafkan aku,semalam aku terlalu egois dan hanya memikirkan perasaanku saja,"Farel menggenggam tangan Kania.
"Kamu memang selalu seperti itu,aku sudah tidak merasa heran lagi!"sindir Kania halus.
Grep,,,
Farel memeluk tubuh Kania erat,dia mencium pipi,kening dan bibir Kania sekilas.Sudah lama Farel tidak melakukan hal manis seperti itu,Farel sangat merindukannya.Farel terpaksa melakukanya didepan adik adik Kania karena wanita itu pasti tidak akan berontak apa lagi menolaknya.
Kania mencubit paha Farel kuat.Dia merasa malu pada adik kembarnya itu.
"Jaga kelakuanmu itu!"ucap Kania kesal.
"Kenapa memang?Ada yang salah?Kamu kan istriku sendiri,"Farel tertawa kecil.
__ADS_1
Melihat hubungan Kakaknya dan sang suami terlihat normal,Dion menarik nafas lega.Bocah itu memang sedikit lebih dewasa dari anak anak seusianya,hingga masalah rumah tangga Kakaknya saja terpikirkan olehnya.
Tapi,adik mana yang tidak peduli pada Kakaknya?Semua adik didunia ini pasti sangat peduli pada keadaan saudaranya,terlebih saudara tertua dan satu satunya.
Dian dan Dion pergi,tinggallah Kania dan Farel berdua.Kania duduk mendekat pada istrinya dan mencoba untuk merayunya.
"Kania,izinkan aku tidur satu kamar dengan kamu lagi,"rengek Farel manja.
"Tidak mau,aku lebih suka tidur sendiri daripada ditemani oleh kamu,"ucap Kania sekenanya.
"Apa kamu tidak kasihan kepadaku?Apa kamu mau aku mencari kehangatan diluar?"Farel mencoba menakut nakuti istrinya.
"Silahkan saja,aku tidak takut dengan ancaman mu itu.Malah aku jadi punya alasan untuk pergi dan mencari pengganti kamu,"
"Kania,apa kamu sebenci itu padaku?Apa benar benar sudah tak ada lagi tempat dihati kamu untukku?"
"Entahlah,aku sendiri bingung mau menjawabnya,"Kania memalingkan wajahnya kearah lain.
Farel merasa kecewa dengan sikap Kania yang seolah sudah tidak mau diajak hidup bersama olehnya.Tapi itu semua karena kesalahan Farel sendiri,pria itu harus lebih bersabar menghadapi sikap istrinya.
Sebenarnya Kania merasa kasihan pada Farel,tapi mau bagaimana lagi?Rasa kesal dihatinya sulit diminta pergi.Walaupun dia sudah berusaha dengan keras tetap saja Kania masih benci pada Farel.
"Soal Aurel,apa kamu benar benar akan membawanya kesini?"Tanya Kania.
"Tidak,aku akan menitipkannya pada Rio,"sahut Farel.
"Itu lebih baik daripada kamu membawanya kerumah ini,"celoteh Kania.
Farel cemberut,dia merasa tidak suka Kania bersikap seperti itu pada Aurel.Yang salah adalah Farel,jika mau marah dan membenci harusnya pada Farel saja.Karena Aurel tidak salah apapun,dia juga tidak minta dilahirkan ke dunia ini.
Kehadiran Aurel seperti mimpi buruk dalam hidup Kania,saking buruknya Kania sampai enggan untuk tidur dan merajut mimpi lagi.
Di toko pakaian Renata dan Rio.
Rio mondar mandir seperti setrikaan,hatinya gelisah setelah mendapat pesan singkat dari Farel.Dia ingin menitipkan putrinya dirumahnya untuk beberapa hari.Rio takut Renata tidak mengizinkan,bagaimanapun Renata dan Kania berteman sangat baik.
__ADS_1
"Rio,kamu kenapa?Kenapa wajahmu seperti sedang bingung seperti itu?Apa toko sepi hari ini?"Tebak Renata.
"Tidak,hari ini toko ramai.Hanya saja,ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,"ucap Rio.Dia memasang wajah lebih serius dari sebelumnya.
"Apa yang mau katakan?"Renata memasang kedua telinganya dengan baik.
"Cindy akan menikah,dia akan pergi berbulan madu.Dia menitipkan putrinya pada Farel,tapi saat dia izin pada Kania dia tidak diizinkan membawa anak itu pulang kerumah,"tutur Rio panjang lebar.
"Lalu?"Renata menaikan alisnya sebelah.
"Lalu dia meminta bantuan ku untuk menjaga dan merawat anak itu sementara dirumah ini,"lanjut Rio.
"Yang benar saja?Apa kamu menyetujuinya?"Renata merasa kesal.
"Aku menyetujuinya,aku tidak enak padanya,"ucap Rio.
"Kamu tidak enak pada Farel,tapi aku juga tidak enak pada Kania,"
Setelah ribut cukup lama akhirnya Renata mengalah,dia mengizinkan Rio untuk membawa anak itu kerumahnya.
Renata menebak Kania pasti sudah tau anak itu akan dititipkan kepadanya.Tapi Kania tidak menelfon dirinya,temannya itu pasti tidak keberatan jika dia menolong Farel.
"Memangnya anak itu tidak memiliki anggota keluarga lain yang bisa menjaganya?"
"Aurel masih punya Nenek,tapi wanita tua itu tidak menyukai Aurel,"
"Lalu,bagaimana dengan keluarga Ayah sambungnya?"
"Cindy tidak enak hati mau menitipkan anak itu,lagi pula anak itu masih punya Farel kan?"
"Kalau dipikir pikir,kasihan juga ya Aurel.Kalau kita tidak mau menampungnya,dia akan tinggal dimana?"
"Mungkin di Hotel bersama pengasuh baru.Farel kan memiliki banyak uang,dia bisa melakukan apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin,"
"Iya,kamu benar juga."
__ADS_1
Obrolan Renata dan Rio berakhir saat ada beberapa pengunjung datang ke toko pakaian mereka.