
Beberapa hari setelah kejadian...
Renata datang berkunjung ke kediaman Mananta,dia ingin melihat keadaan Kania.Mengetahui kebenaran sang suami memiliki anak dari wanita lain sangatlah menyakitkan,Renata khawatir Kania tidak sanggup menerimanya dan nekat melakukan hal hal diluar logika.
Melihat kedatangan temanya,Kania merasa sangat senang.Akhirnya,setelah sekian hari membisu tanpa berbicara dengan siapapun.Kania bisa meluapkan segala unek unek dan kesedihannya pada Renata.
Renata,tentu bisa memahami perasaan Kania.Apa lagi mereka adalah sama sama wanita.Tak terbayang dibenak Renata jika apa yang sedang menimpa Kania juga menimpa dirinya,mungkin dia tidak kuat untuk menjalani hidup.
"Kamu baik baik saja kan?"Tanya Renata sambil mengelus pipi Kania.Kania hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Mata Kania berkaca kaca,dia tidak sanggup mengeluarkan banyak kata kata meskipun dia ingin menceritakan banyak hal pada Renata.
"Apa keputusanmu selanjutnya?"Tanya Renata penasaran.
"Tentu saja bertahan,memangnya ada hal lain yang bisa aku lakukan?"Kania menunjukan raut wajah penuh keterpaksaan.
"Apapun keputusanmu,aku akan selalu mendukungmu.Hanya saja,apa kamu benar benar yakin dengan keputusanmu itu?"Renata menatap penuh ragu.
"Entahlah,aku sendiri tidak tau.Tapi untuk sekarang ini,hanya ini yang bisa aku lakukan,"sahut Kania.Renata kembali memeluk wanita itu dan mencoba untuk menguatkan hatinya.
Selesai berbincang bincang,Renata menawarkan diri untuk memasak makanan enak di dapur.Sudah lama mereka berdua tidak makan siang bersama,terlebih memakan makanan buatan Renata.Untuk mempersingkat waktu,Kania memutuskan untuk membantu Renata memasak makan siang.
Kania membuka kulkas,mengeluarkan bahan bahan makanan yang bisa diolah untuk membuat sup.Cuaca mendung seperti saat itu memang enaknya memakan makanan yang berkuah dan hangat.
Tiba tiba Bi Sumi datang,dia sedikit terkejut saat mendapati Renata putrinya sudah berada dikediaman itu.
"Renata,kapan kamu datang nak?"Tanya Bi Sumi.Dia menaruh keranjang belanjaannya di lantai.
"Belum lama Bu,Ibu dari mana?Dari pasar?"Tanya Renata.
"Iya,Ibu dari pasar.Kalian berdua sedang apa berkutat di dapur?"Tanya Bi sumi balik.
"Kami mau masak sup untuk makan siang,"sahut Kania.
"Biar Bibi saja yang masak ya Non,lebih baik sekarang kalian temani anak anak bermain.Kasihan Bu Ani,mengurus tiga anak sendirian,"titah Bi Sumi.
"Ya sudah kalau begitu,kami ke kamar anak anak dulu ya Bi,"pamit Kania.
Kania dan Renata pergi meninggalkan dapur,mereka berjalan menuju kamar anak anak Kania.
__ADS_1
Satu jam kemudian,Bi Sumi selesai memasak.Wanita paruh baya itu memanggil Kania dan Renata untuk makan siang.
Hari ini,tersaji lebih banyak makanan diatas meja.Bi Sumi sangat ingin menghibur hati Kania dengan makanan yang dimasaknya,kebetulan Kania sangat suka makan.Khususnya makan makanan yang berlemak,bercita rasa pedas,asin dan gurih.
"Nona,makanlah yang banyak,"Bi semi menyuguhkan sepiring nasi dan semangkuk sup daging kepada Kania.
"Betul,makanlah yang banyak.Agar kamu bisa kuat menghadapi suamimu yang acak adul itu,"seloroh Renata.
"Renata,jaga bicaramu!"sentak Bi Sumi.Dia merasa kesal karena putrinya tidak bisa menjaga sopan santun dan tata krama.Meski sahabatnya,Kania tetaplah seorang Nona muda.
"Tidak apa apa kok Bi,lagi pula yang dikatakan Renata tidak salah,"Kania meringis kecil.
*
*
*
Sore hari,pulang dari kantor.Farel sengaja mengajak Cindy kerumahnya.Farel ingin membuktikan pada Kania kalau mereka berdua tidak memiliki hubungan selain hubungan pertemanan biasa.
Kania memasang wajah datar,dia tak merespon ucapan ucapan yang keluar dari mulut suaminya itu.Mungkin karena hatinya sudah beku dan masa bodoh dengan apa yang akan pria itu lakukan.
Rasa kecewa memang bisa merubah sikap seseorang,oleh karena itu jangan sekali kali kalian membuat hati pasangan merasa kecewa.Jika kalian tidak mau sikap pasangan kalian berubah.
"Alasanku menemui Cindy diam diam hanya untuk Aurel,tidak lebih dari itu.Aku bisa tidak menganggap Cindy,tapi Aurel..."Penjelasan Farel terpotong.
"Anakmu,aku sudah tau itu.Jangan diulang ulang lagi,telingaku panas mendengarnya,"celetuk Kania.
"Kania,"rengek Farel.
"Dengar perkataan ku baik baik,aku tidak peduli dengan hubungan kalian berdua selama itu terjalin diluar rumah ini.Jadi untuk Nona Cindy,jangan pernah injakan kaki kerumah ini lagi.Mengerti?"Kania menatap Cindy dengan tatapan tajam.
"Iya,aku mengerti,"Cindy menundukkan wajahnya.
"Dan untuk Tuan Farel,jangan pernah mengajakku berbicara lagi kecuali aku yang mengajakmu bicara duluan.Kamu harus mematuhi aturan ku kalau masih mau melihat aku dan anak anak kita tinggal dirumah ini,"ucap Kania.
Farel terdiam seribu bahasa.Tinggal satu atap tapi tidak boleh saling berbicara?Apa apaan ini?Kenapa hubungan mereka jadi lebih parah dari sekedar orang asing?
Cindy pamit pergi,dia merasa tidak enak hati melihat hubungan suami istri itu makin bersitegang karena kehadiran dirinya.Saat Cindy pergi,Kania juga berniat pergi menuju kamarnya.Tapi Farel menahan tangan Kania.
__ADS_1
"Jangan sembarangan menyentuhku!"ucap Kania ketus.
"Aku suamimu!"Sentak Farel.
"Lepaskan aku!"Kania menjerit dan membuat Farel mengkerut takut.
"Aku mau kita pisah ranjang,"Kania menatap Farel nanar.
"Apa?"Farel terkejut.
"Itu hukuman karena kamu sudah berani membawa pulang wanita itu kerumah ini."Ucap Kania.
Farel melepaskan cengkeramannya,Kania melenggang menuju kamarnya meninggalkan Farel seorang diri diruang tamu.Hati Farel terasa sakit saat Kania meminta pisah ranjang,dia khawatir Kania akan meminta lebih.Seperti pisah rumah,atau bahkan bercerai.
Farel masuk kedalam kamar tamu.Kamar yang akan dia huni sendirian,entah sampai kapan.Yang jelas,dia tidak ingin berlama lama tidur dikamar itu sendirian.
Tok...Tok...Tok...
Seseorang datang mengetuk pintu kamar tamu.
"Siapa?"Tanya Farel.
"Bi Sumi,"
"Masuk,"perintah Farel.
Bi Sumi membuka pintu dan masuk kedalam kamar.
"Tuan,makanlah dulu.Makananya sudah siap,"ucap Bi Sumi.
"Aku sedang tidak berselera makan Bi,"sahut Farel malas.
"Jangan begitu,nanti Tuan sakit.Makanlah dulu walaupun hanya sedikit,"paksa Bi Sumi.
Farel menarik nafas berat,terlihat sekali dia sedang merasa tertekan dan banyak pikiran.
"Bersabarlah Tuan,tiap rumah tangga pasti pernah mengalami cobaan.Saya yakin,kalian berdua pasti bisa melewatinya,"Bi Sumi mencoba memberikan sebuah nasihat.
"Tapi Bi,dia meminta pisah ranjang dariku,"Farel terlihat sangat putus asa.
__ADS_1
"Mungkin Nona sedang membutuhkan waktu untuk berpikir Tuan.Karena wanita memang tidak bisa berpikir sederhana seperti seorang pria,"ucap Bi Sumi.
Bersambung...