
Renata telah diperbolehkan pulang,kondisi fisiknya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.Tapi jiwanya masih terguncang hebat,terlihat dari kebiasaannya yang sering melamun dan menyendiri.
Rio menyiapkan sarapan diatas meja,sepiring nasi dan lauk pauk,juga secangkir minuman hangat.Dia mengajak istrinya untuk sarapan bersama kemudian meminum obat dan vitaminnya.
"Makanlah yang banyak,agar cepat pulih,"ucap Rio.
"Apa kamu marah padaku?"Tiba tiba Renata mengatakan hal aneh.
"Tentu saja tidak,kenapa aku harus marah padamu?Sudahlah,jangan bahas soal keguguran lagi,"pinta Rio.
Renata terdiam dan melanjutkan sarapannya sampai habis,kemudian meminum obat Dokter yang diresepkan padanya.
Meski tubuhnya sudah membaik,jiwa renata masih terguncang hebat.Kehilangan calon anak seperti kehilangan separuh hidupnya,terlebih anak itu sangat ia idam idamkan kehadirannya.
Rio kembali membuka toko pakaiannya setelah beberapa hari sempat tutup karena mendampingi istrinya dirumah sakit,dia berharap rezeki hari itu dilancarkan,begitu juga dengan hari hari berikutnya.
Renata menyusul Rio,dia menawarkan diri untuk membantu pekerjaan suaminya.Tidak melakukan apapun membuatnya terus melamun,memikirkan soal anaknya yang sudah pergi ke surga Tuhan.
"Apa kamu sudah kuat melakukan aktifitas?Kalau belum istirahat saja dikamar,"ucap Rio.
"Aku sudah kuat,aku ingin melakukan aktifitas agar pikiranku tidak terlalu fokus pada yang telah tiada,"sahut Renata.
"Baiklah kalau begitu,hati hati ya,"pinta Rio.
Siang hari,Kania kembali menjenguk Renata.Dia datang bersama Farel suaminya.Wanita cantik itu membawa banyak makanan,minuman dan buah buahan untuk Renata.Agar teman baiknya itu lekas pulih dan sehat kembali.
Renata mengajak Kania keruang tamu,sementara Farel mengobrol diluar bersama Rio.
"Bagaimana keadaanmu?"Tanya Kania.
"Aku sudah baikan,"Sahut Renata.
"Syukurlah kalau begitu,"Kania menarik nafas lega.
"Terimakasih ya,kamu sudah sangat perhatian kepadaku.Aku jadi malu,aku pernah melakukan kesalahan padamu dulu,"Renata menundukkan wajah cantiknya.
"Tiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan,bukan hanya kamu,aku juga pernah punya salah,"seloroh Kania.
Renata memeluk sahabatnya erat,dia menangis haru.
__ADS_1
Usai membahas banyak hal,Kania membelokkan topik pembicaraan.Dia bercerita tentang Nenek Maria yang akhir akhir ini sering jatuh sakit.Dia sangat takut kalau wanita tua itu akan segera pergi meninggalkan mereka semua.
Nenek Maria adalah orang yang paling berjasa untuk kelanggengan hubungan Kania dan Farel.Saat pria itu bersikap buruk padanya dulu,Nenek lah yang selalu ada untuk menolong dan membelanya.Kania tidak membayangkan jika dia harus hidup tanpa Nenek Maria.
"Semua yang bernyawa akan mati,begitu juga dengan kita.Hanya waktunya saja yang belum bisa ditebak kapan akan datang,"Renata mencoba mengingatkan Kania akan takdir itu.
Tak lama,Farel masuk menyusul Kania.Dia mengajak Kania pulang karena tidak enak menitipkan anak anaknya terlalu lama pada Bi Sumi dan Bu Ani.Pekerjaan mereka sudah terlalu banyak dirumah,dia tidak ingin menambah beban pekerjaan mereka lagi.
Kania dan Renata kembali berpelukan,setelah itu mereka berdua pamit undur diri.
Tiba dikediaman Mananta.
Farel dan Kania dikejutkan oleh suara teriakan asisten rumah tangganya.Asalnya dari kamar Nenek Maria,mereka berdua pun berlari menuju kamar Nenek.
"Ada apa Bi?Tanya Kania.
"Nenek tidak bisa dibangunkan,"sahur Bi Sumi.
Kania terduduk lemah dilantai,sementara Farel terus memegangi tangan Maria sambil menangis.Akhirnya ajal wanita itu tiba,saat keinginannya untuk melihat Farel menikah dan memiliki banyak anak terpenuhi.
Farel merasa kehilangan setengah penyemangat hidupnya,dia merasa sedih dan sangat frustasi.
Farel terus mengurung diri dikamar,bahkan setelah kematian Neneknya berlalu berhari hari.Dia masih merasa terpukul atas kepergian wanita tua itu.
"Sayang,cepatlah bangkit.Perusahaanmu sangat membutuhkan kehadiranmu.Tidak baik juga kalau bersedih terlalu lama,"ucap Kania.Dia mencoba menyemangati suaminya untuk kembali menjalani hari harinya dengan penuh semangat.
Kania menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Farel,pria itu memberi respon dengan mencium pucuk kepala istrinya.Yang dikatakan Kania benar,dia harus segera bangkit.Orang orangnya sangat membutuhkan kehadiran dan perhatian darinya lagi,terutama anak anak dan istrinya.
Kania mengajak Farel turun kedapur,dia ingin memasak makanan kesukaan Farel untuk membuat senang suaminya itu.Farel membantu Kania memasak agar masakannya cepat selesai.Pemandangan langka seperti itu sungguh sangat manis dipandang oleh mata siapa saja yang melihatnya.
"Rasanya pasti enak,"ucap Kania.
"Tentu saja,karena ada campur tanganku,"ucap Farel bangga.
Selesai memasak,mereka berdua langsung menunaikan makan malam bersama.Bahkan saling menyuapi satu sama lain.Farel tersadar dia tak sendiri,dia masih memiliki Kania yang sangat menyayangi dan perhatian padanya.
Bi Sumi datang menghampiri Farel dan Kania.Dia memberi tahu ada tamu yang sedang menunggu mereka berdua.Farel dan Kania segera pergi menuju ruang tamu untuk menemui pria itu.
Ternyata pria itu adalah Pak Roby,pengacara pribadi keluarga Mananta.
__ADS_1
"Hallo Pak Roby,apa kabar?"Sapa Farel ramah.
"Kabar saya baik.Bagaimana kabar Anda?Tanya Roby balik.
"Baik juga,"sahut Farel singkat.
Usai berjabat tangan dan beramah tamah,mereka semua duduk berjajar di sofa.
"Saya datang kesini untuk menyampaikan amanah dari mendiang Nenek Maria,"ucap Roby.
"Amanah apa?"Farel memasang wajah setengah bingung.Begitu juga dengan Kania.
"Amanah soal harta warisan peninggalan Nenek Maria,bisa kita mulai pembicaraannya sekarang?Kebetulan saya sedang tidak memiliki banyak waktu luang,"lanjut Roby.
"Bisa,silahkan dimulai,"perintah Farel.
"Lima puluh persen harta Nenek Maria diwariskan kepada Anda,cucu tunggal dadi Nenek Maria.Tiga puluh persen untuk Nona Kania,menantu kesayangan Nenek Maria.Sepuluh persen untuk Ibu Sumi,sepuluh persen lagi untuk Mas Rio.Anda tidak keberatan dengan semua itu bukan?"Roby menatap wajah Farel lekat lekat.
"Tidak,saya tidak keberatan,"ucap Farel lantang.
"Bagus,kalau begitu proses pembagian dan surat suratnya akan saya lakukan dalam waktu dekat.Tuan juga perlu mengumpulkan orang orang tersebut untuk melakukan tanda tangan,"jelas Robi.
"Oke."Farel menganggukkan kepalanya.
Tuan Roby pergi,Farel memanggil Bi Sumi untuk menemuinya.Dia mengatakan perihal pembagian harta warisan yang wanita itu dapatkan sebanyak sepuluh persen.Bi Sumi terkejut,seorang ART seperti dirinya mendapat warisan dari mendiang majikan?Itu seperti mimpi disiang bolong.
"Bi,pergunakan warisan itu dengan baik.Untuk pegangan dimasa tua Bibi,"
"Pasti Tuan,saya akan menyimpannya dengan baik,"
Sementara itu Kania menelfon Rio,dia meminta pria itu untuk datang besok hari.Sama seperti Bi Sumi,Rio juga sangat terkejut saat diberitahu dia mendapat warisan dari Nenek sebesar sepuluh persen.
"Kamu bisa datang kesini besok kan?"Tanya Kania.
"Bisa Nona,"sahut Rio mantap.
"Bagus,ajak Renata bersamamu,"perintah Kania.
"Siap Nona."
__ADS_1