
(Semoga isinya nggak mengecewakan ya, karena dari awal akan ku buat seperti ini. π₯²π)
...π₯π₯π₯π₯...
Cinta di netra keduanya masih begitu terlihat, dan itu semua begitu ketara dari mata sang istri pertama. Cinta sejati yang sudah sejak lama hadir itu kini terlihat dengan jelas. Di mana keduanya tidak ingin saling meninggalkan, namun ada sesuatu yang menahan.
'Maaf, jika aku egois karena tidak ingin pergi dari kalian. Aku tetap ingin bertiga dengan kalian," ucap wanita yang kini tengah memperhatikan dua pasang netra yang saling menatap penuh rasa.
Terlihat sekali jika antara dua manusia yang tengah di perhatikan Alifa saling mencintai dan tak bisa jika berpisah. Tapi, pada kenyataannya Yasmine tetap saja pada keinginannya. Tak bisa di ganggu gugat.
Alifa berdehem, lantas antara Yasmine dan Alfin pun seperti dua orang yang tengah terpergok selingkuh. Alifa tersenyum, "cintamu pada Mas Alfin masih begitu besar, Yas. Bagaimana bisa kamu meminta untuk menyudahi hubungan ini," ucap wanita yang sedari tadi melihat binar cinta di dua pasang mata.
Yasmine menggeleng, "sekarang, cintaku hanya untuk dia," ucapnya sembari menunduk, mengusap perut.
"Tapi, dia juga butuh sosok seorang ayah, Yas," ucap Alifa lagi.
"Ayahnya ada 'kan? Walaupun tidak bersama ibunya." Yasmine memutar tumit dan lantas duduk di kursi yang ada bantalnya. Kedua tamunya pun turut duduk di tempat masing-masing.
"Dia tidak akan kekurangan kasih sayang, Lif. Ada kamu, ada Alfin sebagai Ayahnya. Aku tidak akan melarang jika suatu saat nanti, kalian ingin mengajak dia menginap di rumah kalian tanpa aku, aku enggak masalah," sambung Yasmine.
"Kamu sudah memikirkan sampai sejauh itu?" tanya Alfin.
Yasmine tersenyum dan mengangguk mantap. "Iya, aku susah memikirkan segalanya."
Alfin terdiam. Ia menatap wajah cantik yang ia gadang-gadang akan bersama selamanya dengan dirinya. Menemani hati dan cintanya yang sudah besar. Tapi, jika keinginannya seperti ini, apa ia masih bisa memaksa.
"Al, Lif ...," panggil Yasmine. "Maaf, kalau aku memang terlalu memusingkan. Tapi, aku hanya memikirkan hati, memikirkan tentang perasaan. Aku nggak minta banyak, cukup kalian berdua bahagia, aku di sini akan bahagia. Kita bisa seperti dulu, menjadi teman, sahabat. Walaupun kita berjauhan, tapi aku yakin jika kamu mau menuruti keinginanku Al, kita semua akan bahagia."
"Bagaimana dengan hati ku?" tanya Alfin yang lantas membuat Alifa menoleh ke arahnya. Tapi sayang, Alfin tetap menatap wajah cantik dari ibu hamil yang kini tengah tersenyum.
"Jangan tanya tentang hati dong. Karena, lambat laun, hatimu akan terbiasa," jawab Yasmine.
"Terus, cinta yang ...." kalimat Alfin menggantung. Alifa yang ada di sampingnya hanya bisa menunduk, mendengarkan dengan seksama apa yang sedang suaminya katakan. Kini, ucapan Abi kala itu kembali terngiang-ngiang, dan ia menyadari kembali, bahwa untuk berbagi rasanya memang sangat sulit.
"Cinta yang kamu miliki masih sama, untuk Alifa. Tentangku nggak perlu kamu ungkit, karena aku nggak mencintai kamu lagi," kata Yasmine dengan hati yang sakit. Bagaimana tidak sakit, saat dia harus membohongi hatinya sendiri.
Alifa mendongak, menatap Yasmine yang tengah terlihat serius. Seolah-olah yang ia katakan adalah sebuah kejujuran.
Alfin tersenyum miring, "secepat ini?" tanyanya tak percaya.
"Iya. Karena memang dari awal kita tidak seharusnya__"
"Harus," pangkas Alfin. "Tapi, juga harus berakhir karena keinginan konyol kamu," sambung Alfin.
__ADS_1
"Ngomong sama kamu nggak ada habisnya Al, dan aku baru tahu kalau kamu ternyata se menyebalkan ini." Kata Yasmine sembari beranjak dari duduknya. "Silakan di minum dulu, di makan juga. Aku mau ke dalam sebentar," sambungnya sembari berlalu, meninggalkan kedua tamu yang kini saling memandang.
"Aku baru melihat kamu yang kembali seperti ini, Mas," ucap Alifa.
Alfin menoleh ke samping, "maksud kamu apa, Lif?" tanya balik dirinya yang tak mengerti.
"Selama hampir sepuluh tahun kita menikah, kamu terlalu baik untukku Mas. Sampai aku tak mengenali kamu yang dulu, dan kini, aku baru melihat kamu yang dulu. Saat bersama Yasmine, bukan dengan aku," jelas Alifa.
'Benarkah?' hatinya bertanya-tanya. 'jelas saja aku bisa kembali seperti dulu, Lif. Karena pada kenyataannya, hatiku lebih nyaman dengannya. Sedang denganmu, hatiku selalu menyuruh ku untuk selalu menyayangimu. Tapi bukan berarti aku tak menyayangi dia, justru saking besarnya rasa sayang aku padanya, sampai aku senyaman ini padanya,' sambungnya yang masih dalam hati.
"Mungkin benar kata Yasmine, ini semua karena aku lebih mencintaimu," jawab Alfin.
Entahlah, Alifa tak merasa yakin dengan apa yang di katakan suaminya. Jadi, ia hanya bisa diam.
...π₯π₯π₯π₯π₯π₯...
"Kamu di sini," ucap Alifa pada Yasmine yang ternyata malah tengah berdiri menatap hamparan ladang.
"Hm," jawab Yasmine saat ia tahu kalau sang sahabat datang. "Sini deh," ajaknya. Alifa menurut, ia lantas berdiri di sebelah Yasmine.
"Di sini sejuk 'kan?" tanya Yasmine. Alifa hanya menjawab dengan anggukan.
"Di sini nyaman, senyaman aku saat belum menjadi istri Alfin," kata Yasmine lagi. "Dulu, aku mudah kemanapun, tanpa banyak pertanyaan, tanpa banyak gunjingan. Ya, mungkin ada, seperti saat aku gagal menikah sampai dua kali. Tapi kamu ingat 'kan, kalau saat itu, gunjingan itu hanya sebentar. Sedangkan sekarang, kata-kata menyakitkan selalu ada Lif." Yasmine menoleh ke arah Alifa, dimana Alifa juga tengah menatapnya.
"Setiap saat, selalu mengikuti langkahku. Aku nggak bisa jika harus bertahan terlalu lama. Aku ingin seperti dulu, nyaman tanpa di buat-buat," kata Yasmine lagi.
Alifa meneteskan air mata, "aku ingin memelukmu," ucapnya.
Yasmine lantas memeluk erat sang sahabat, "ayo kita kembali menjadi sahabat, bukan madu. Aku nggak mau," ucapnya sembari memeluk sahabatnya itu.
"Maaf, jika keputusan ku saat itu salah," ucap Alifa.
"Bukan salah, tapi memang tidak tepat," kata Yasmine lagi.
Alifa lantas mengurai pelukannya. "Tapi, aku tetap menjadi mamanya 'kan, walaupun kita berjauhan?"
Yasmine mengangguk antusias, "tentu," jawabnya.
"Ekhem." Suara dehem-an Alfin membuat dua wanita itu menoleh. "Lif, boleh aku bicara berdua dengan Yasmine?"
Alifa mengangguk lantas ia pun berlalu, walaupun tak sepenuhnya, karena ia lantas berdiri di balik tembok.
Alfin mendekat, menatap wanita hamil yang ada di depannya itu. "Apa kamu masih tetap dengan keinginan kamu?" tanyanya.
__ADS_1
Yasmine mengangguk.
"Tapi, aku mau cium kamu, untuk yang terakhir kalinya," ucap Alfin dengan mata yang merah menahan air mata.
Yasmine kembali mengangguk. Karena percayalah, di saat seperti ini ternyata berpura-pura kuat sangatlah sulit.
Tak menunggu lama, dengan di saksikan oleh para rumput dan ladang yang luas, juga dengan embusan angin yang menenangkan, dua wajah menyatu untuk terakhir kalinya.
Rasa manis bercampur dengan rasa asin me nya tu, bak cinta yang memang penuh dengan rasa. Hingga saat napas seperti habis keduanya menyudahi p e n y a t u a n wajah itu.
Lantas Alfin berlutut dan mencium perut buncit sang istri. "Jaga ibumu, Nak," ucapnya singkat. Lantas ia kembali berdiri, dengan sama-sama menunduk Alfin lantas melayangkan sebuah kalimat pemisah.
"Yasmine Hermawan, dengan ini, aku Mohamad Alfin, suamimu, menjatuhkan talak satu untukmu. Mulai saat ini, kamu bukan lagi istriku."
Baik Yasmine maupun Alfin lantas memutar tumit mereka dan saling memunggungi. Selesai sudah hubungan cinta di antara keduanya, hancur sudah hati yang awalnya bahagia karena bisa bersama, kini hilang sudah harapan akan cinta.
Tak hanya keduanya, Alifa pun sama sedihnya. Ia menangis, merosot lah tubuhnya, menutup wajah dengan hati yang sakit.
...π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯...
...END...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi bohong βοΈπ₯²
__ADS_1