Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 095 # Resign


__ADS_3

Alfin benar-benar melakukan seperti apa yang di inginkan oleh istri ke-duanya. Ia menuruti keinginan Yasmine, dari tidak menghubunginya, tidak menemuinya, dan bersikap seolah-olah istrinya hanya ada Alifa saja. Bukan melupakan, ia hanya menuntaskan rindunya pada wanita hamil itu dengan untaian doa di setiap helaan napas.


Ia tidak ingin kehilangan Yasmine dan anaknya. Jadi, satu-satunya cara adalah dia mematuhi keinginan sang cinta pertama yang menjadi istri ke dua.


Sama dengan halnya Alifa, ia hanya kemarin menelpon sang ibu. Namun, ia hanya berani bertanya tanpa mau mengganggu ketenangan sang sahabat. Tentu saja, kabar itu ia bagi dengan umi-abi, dan mama-papanya. Ia juga tak ingin para orang tua masih khawatir akan rumah tangga mereka. Walaupun para orangtua mengatakan kalau mereka siap dengan apapun yang akan terjadi. Karena rumah tangga, anak-anak lah yang menjalani, mereka tidak bisa memaksa.


Sore ini, wanita cantik nan shalihah itu tengah membuat puding coklat untuk sang suami. Ia juga sudah memasak semur ayam untuk makan malam. Kendati ia merindukan sahabatnya, namun demi sebuah hubungan yang utuh, ia mau menuruti apa yang di tuturkan sang suami. Bahwasanya, ia tidak akan menghubungi atau menemui Yasmine, jika ibu hamil itu belum lebih dulu menelpon dan mendatanginya.


Puding sudah siap, ia lantas membiarkan nya dalam wadah di atas meja. Sebelum nantinya dingin dan ia memasukan puding itu dalam kulkas.


Sekarang, saatnya ia menunggu sang suami di depan rumah. Sembari menemani mbak Ina yang tengah menyiram tanaman.


"Mbak, In," panggil wanita cantik yang kini sudah berdiri di teras.


"Iya, Mbak Lif." Mbak Ina lantas berjalan mendekat setelah mematikan kran air.


"Sudah selesai?" tanya Alifa dengan senyum yang merekah.


"Sudah, Alhamdulillah. Mbak Lifa ada perlu?" tanya balik mbak Ina.


Alifa menggeleng, "tidak ada. Hanya itu, nanti tolong puding di masukan ke dalam kulkas ya," ucapnya.


"Siap, Mbak Lif." Mbak Ina menunjukan jempolnya pada sang bos. Membuat Alifa tersenyum. Lantas, Mbak Ina pun menggulung selang dan pergi dari sana. Membiarkan sang majikan duduk di depan menunggu suaminya.


Benar saja, Alifa lantas duduk di teras sembari menekan tombol tasbih digital yang terdapat di jari telunjuknya. Bibirnya tersenyum siap untuk menyambut pulangnya sang suami.


Menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan nya pelan, "nanti, begitu Yasmine sudah memanggil. Akan aku kembalikan waktu yang lebih untukku ini," ucapnya dengan penuh harapan agar sang sahabat segera menelpon dirinya dan meminta untuk bertemu. Ah, rasanya ia sudah tak sabar untuk bertiga kembali dalam perasaan bahagia.


Tentu saja wanita itu menginginkan hal yang baik, karena sejatinya dia memang selalu menginginkan kebahagiaan untuknya dan untuk sahabatnya. Katakanlah kemarin dia hanya merasa takut, bayangkan saja dia tidak mengenal lelaki lain selain Alfin. Begitu ijab terucap, mata memandang, di sanalah tercipta rasa cinta.


Keduanya langsung jatuh cinta dalam pandangan setelah ijab. Alfin yang memang sudah pasrah akan keberadaan Ayas pun akhirnya pasrah akan perjodohan. Namun, siapa sangka. Seseorang yang pernah ia cari-cari tenyata mendekat dengan sendirinya.

__ADS_1


Dan kenapa, Alfin tak pernah bertanya pasal Yasmine pada Alifa. Karena setelah memutuskan menikahi seorang gadis, Alfin melupakan rasa cinta yang pernah ia anggap hanya cinta monyet belaka, lantaran tidak bertemunya sebelum pasrah akan perjodohan.


Kembali ke Alifa. Ia tersenyum lebar dan beranjak dari duduknya saat mobil suami sampai di pelataran rumahnya. Halaman yang luas, tanpa pagar tinggi membuat mudah mobil suami dan keluarga yang masuk.


"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Alfin saat ia keluar dari dalam mobil dan mendapati sang istri yang sudah berada di depannya.


"Wa'alaikumsallam, Mas," jawabnya sembari salim dan mencium tangan suaminya itu dengan takzim.


"Apa, sudah ada kabar dari Yasmine, Mas?" tanya Alifa lagi.


"Belum ada, Sayang. Sabar ya, mungkin dia masih ingin sendiri," jawab Alfin dengan mengusap puncak kepala sang istri.


"Iya, Mas. Semoga tidak lama ya, aku benar-benar menginginkan kita kembali ke masa di mana kita tidak seperti ini. Aku rindu sekali kelucuan Yasmine," kata Alifa jujur.


Alfin tersenyum, 'aku juga sangat merindukannya, merindukan anak kita. Anak ayah, ibu dan mama,' ucap lelaki itu dalam hati.


Lantas keduanya pun masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, Alifa lalu membuatkan teh manis hangat untuk sang suami, sementara lelaki itu menunggunya di dalam kamar.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Risau tentu saja, tapi apalah daya. Ia sudah terlanjur janji. Ditambah seminggu ini Alfin begitu sibuk, jadilah ia hanya bisa menerka-nerka kenapa kah? Masih lama kah? Sampai kapan?


Pun sama dengan Alifa yang bolak-balik menelpon sang ibu.


"Bu, apa Yamanie baik-baik saja?" begitu tanya Alifa setiap menelpon ibu Radiah.


"Baik, Nak. Kamu tenang saja, Yasmine aman," begitu jawab Ibu.


Sedikit tenang Alifa rasakan, namun tak mampu membuat hatinya tidak berpikiran buruk. Ia juga selalu bertanya-tanya seperti yang di pertanyakan dalam benak sang suami.


Jujur saja, ia ingin sekali menemui sang sahabat. Namun, ia takut jika Yasmine lantas marah dan semakin lama tak kembali ke sisi mereka.

__ADS_1


Seperti saat ini, wanita itu tengah duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Ia tengah membuka room chat dia dengan Yasmine yang sudah lama sekali. Ia tengah membaca kembali pesan-pesan yang pernah ia kirim.


Ia ingin mengirim pesan kembali, namun terakhir aktif nomor Yasmine adalah delapan hari yang lalu, yang mana langsung membuat kening wanita itu berkerut.


Tumben sekali, Yasmine tak memegang ponsel. Lantas di lihatnya kembali akun sosial media sang sahabat. Di sana juga tak terlihat tengah aktif, jadi ... Alifa lantas mengembuskan napas kasar yang lantas di akhiri dengan istighfar.


"Apa harus segitunya, menyendiri?" tanyanya entah pada siapa.


"Atau, memang tidak ingin di ganggu?" tanyanya lagi.


"Tapi, bagaimana bisa dia tanpa ponsel," kembali ia mengucapkan kata yang di tunjukan pada sebuah rasa penasaran.


"Atau, dia memakai nomor dan akun baru?" Alifa mengembuskan napas kasar lagi. "Astaghfirullah, Yas ... ada apa ini?"


Lalu ia melihat jam di pergelangan tangannya, "jam sepuluh," gumamnya.


"Biasanya jam segini, dia masih di Sekolah. Aku coba ke sana kali ya," ucapnya pada ponsel yang tengah ia pandang.


Lantas perempuan cantik itupun mencoba izin pada sang suami. Dan setelah mendapat izin, ia lantas membawa serta Mbak Ina untuk menemaninya pergi ke sekolah di mana sang sahabatnya mengajar.


Namun, begitu sampai sana, ia begitu terkejut dengan apa yang di tuturkan oleh rekan Yasmine.


"Loh, kamu bukannya wanita yang aku lihat di datangi suami Bu Yas yah?" tanya Bu Zahra. Ya, kebetulan yang menemui Alifa adalah dia.


"Kamu ternyata istri pertama dari suaminya Bu Yas, yah?" tanya wanita itu lagi, tak perduli bagaimana raut wajah khawatir Alifa yang merasa bersalah lantaran harus datang ke sana.


"Kasihan ya, Bu Yas. Jadi istri ke du--" ucapan Bu Zahra itu terhenti saat Alifa menanyakan kembali apa yang ingin ia ketahui.


"Maaf, Bu Guru. Saya ke sini hanya untuk bertemu dengan Yasmine," ucap Alifa hati-hati.


"Ish, kamu gimana sih. Kamu 'kan madu-nya masak nggak tahu kalau Bu Yas sudah di resign seminggu yang lalu, nggak akur jangan-jangan nih, sampai nggak tahu kabar terkini dari Bu Yas," ucap Bu Zahra dengan senyum merekah.

__ADS_1


"Tapi kelihatannya akur sih ya, semoga langgeng ya Mbak, hidup dalam berbagi," begitu ucap Bu Zahra lagi yang sama sekali tidak di dengar oleh Alifa.


Setelah mendengar bahwasanya Yasmine sudah tak lagi mengajar, Alifa merasa aneh. Ia lantas pamit dari sana, ia ingin segera pergi menuju rumah ibu. Tentu saja dengan izin terlebih dulu pada sang suami. Sekaligus ia mengatakan hal demikian, yang tentu saja membuat kaget Alfin juga.


__ADS_2