
Anak tampan itu masih dalam dekapan sang ibu, terlihat sekali bahwa dia sangatlah sedih, sampai-sampai kini bocah itu sudah duduk di pangkuan sang ibu, namun enggan melepaskan diri.
"Ada apa, Yas?" tanya Ayah saat ia baru masuk ke kamar sang anak.
Yasmine mendongak, "enggak papa, Yah," jawabnya.
Ayah Ilyas mendekat dan mengusap punggung sang cucu, "ada apa, Taqa? Kenapa seperti ini."
"Kenapa, Yah?" ibu Radiah Menyusul, juga mendekat ke arah tiga orang itu.
"Aku mau pulang Nek, Kek," jawab Taqa tanpa melihat keberadaan nenek dan kakeknya.
Kedua paruh baya itu saling pandang, lantas ibu melihat Yasmine dengan memajukan dagunya sekilas, untuk bertanya.
"Aku nggak suka sama Ayah, Nek, Kek. Ayah nggak sayang sama aku," anak kecil itu masih menjawab.
"Tadi Taqa ketemu Al dan Lifa?" tanya Yasmine pada kedua orangtuanya.
Ibu mengangguk. "Iya, dan itu kebetulan. Tidak di sengaja sama sekali," jawab ibu.
"Lifa hamil?" tanya Yasmine lagi.
Ibu kembali mengangguk. "Iya, niatnya ibu akan kasih tahu kamu nanti, tapi sekarang kamu sudah tahu," katanya. "Terus Taqa kenapa?" tanya balik ibu.
"Dia marah karena--" kalimat Yasmine terhenti saat sang anak turun dari pangkuannya.
"Ayo bu, kita pulang," katanya sembari menarik tangan ibunya.
__ADS_1
"Loh, kok pulang. Taqa kenapa, coba sini cerita sama kakek." ayah Ilyas menekuk lututnya, jongkok di depan sang cucu.
Taqa memutar badannya menghadap sang kakek. "Ayah jahat Kek, Ayah nggak mau sama aku sama ibu, ayah hanya sama mama itu," jawab bocah kecil itu.
"Taqa bukan seperti itu, ibu sudah jelaskan tadi bukan," Yasmine memberikan suaranya kembali.
"Sudah-sudah, sini ... kakek gendong, kita main dulu yuk di bawah, kakek punya ikan baru loh." ayah Ilyas lantas menggendong sang cucu dan membawanya keluar.
Kini di kamar itu hanya ada Yasmine dan ibunya. "Enggak tahu kenapa, semakin besar semakin cerewet," gerutu ibu muda itu.
Ibu Radiah tersenyum, ia lantas duduk di ranjang. "Wajar loh, Yas. Dia seperti itu. Ini sudah tujuh tahun, dan dia baru bertemu dengan ayahnya. Buat apa, Yas, kamu kasih tahu fotonya, kalau kamu tidak pernah memberi temu pada mereka," katanya.
Yasmine menunduk, "aku cuma nggak mau, dia nggak tahu seperti apa ayahnya, Bu."
"Tapi, kalau sudah seperti ini. Kita mau apa, Taqa salah paham, dan sekarang kamu juga yang susah untuk ngejelasinnya," kata ibu lagi.
"Ya, semoga saja," kata ibu.
Tiba-tiba hening, Yasmine diam pun sama dengan ibu. Lantas ibu mengatakan sesuatu. "Anaknya kembar."
"Syukur kalau gitu, jadi, kemungkinan aku bersama Taqa akan selamanya."
Ibu langsung mengernyitkan dahi dengan jawaban sang anak. "Kamu masih mikir mereka bakal ambil anak kamu?" tanyanya.
"Enggak di ambil, Bu. Tapi aku pernah bilang, kalau aku nggak masalah kalau mereka mau bawa anak aku tanpa aku."
"Kamu tuh kalau bicara jangan asal dong, Yas," kesal ibu. "Sekarang, mereka sudah bahagia. Sudah mau memiliki anak, kehamilan Lifa sudah tujuh bulan. Dulu, kamu pernah bilang 'kan, kalau kamu ingin mereka bahagia. Sekarang mereka sudah bahagia, jadi ... kapan kamu bahagia?"
__ADS_1
"Aku sudah bahagia, bu sama Taqa," entahlah ada apa dengan perasaan Yasmine. Yang jelas dia merasa aneh.
"Bahagia lah dengan orang baru, Yas. Lupakan cinta yang pernah ada," ujar ibu.
"Ibu sok tahu, aku sudah melupakan segalanya. Cintaku sekarang hanya untuk Taqa," jawaban Yasmine lantas membuat ibu diam.
Setelahnya, tak lama ibu pun lantas keluar dari kamar sang anak. Menyusul sang cucu yang kini ada di taman dengan suaminya. Meninggalkan Yasmine yang menarik napas kasar dan menutup semua pekerjaan dan pergi menyusul.
Ternyata, di taman sudah ada sang kakak dan kakak ipar, yang masih berdua belum di beri rezeki seorang putra. Taqa si bocah tampan itu menceritakan keluh kesahnya pada sang Uwa, sedangkan Yasmine hanya diam di sana. Sekarang, setelah dia memiliki anak, dia bukan lagi kesayangan, semua rasa sayang semua orang kini tercurah pada anaknya saja.
Sampai akhirnya ia mengajak Zahra dengan paksa untuk pergi ke dalam rumah berdua. Sudah lama rasanya dia tidak ngobrol secara tatap wajah dengan kakak iparnya itu. Karena biasanya hanya lewat video call saja.
Segala yang asyik di ceritakan, Yasmine ceritakan pada Zahra. Demi untuk melupakan rasa sedihnya pada kenyataan. Karena Kenyataannya, ide yang ia pikir akan mulus ternyata tak sesuai ekspektasi. Sekarang anaknya justru marah pada ayahnya dan tidak ingin bertemu.
Tentu saja anak kecil akan salah paham bukan, jika yang dia lihat ternyata tak sesuai keinginannya.
"Solusinya apa, Kak? Biar Taqa nggak marah sama Alfin. Padahal dia cuma nurutin keinginan aku aja," kata Yasmine yang tengah bertanya pada sang kakak ipar.
"Sabar aja lah Yas, nanti juga dia akan ngerti," jawab Zahra. "Pelan-pelan sih, Kakak yakin nanti kalau dia sudah besar, dia akan tahu," sambung wanita itu.
"Atau gini, Yas. Caranya adalah berikan ayah yang bisa membuat Taqa mengerti," kata Zahra lagi.
"Ish, solusi Kakak yang satu ini bikin aku nggak mudeng," kata Yasmine sembari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Maksudnya--" kalimat Zahra terhenti saat tiba-tiba Taqa berteriak dari arah taman.
"Ibu! Aku mau ayah!" teriakan Taqa membuat Yasmine dan Zahra melihat ke arah bocah yang kini berdiri di tengah-tengah gawang pintu. Mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Jangan lupakan latar belakang yang isinya adalah tiga manusia dengan senyum yang lebar tanpa rasa bersalah.
__ADS_1