
Setelah ke ributan itu, mas Hadi pun mulai jarang datang ke rumah. Sebenar nya aku juga tidak perduli sih, dia mau datang atau tidak nya. Yang jadi masalah nya di sini, jika aku sudah ke habisan uang. Tentu nya dalam ke adaan hamil dan menganggur seperti ini, aku sangat mengandal kan mas Hadi soal biaya hidup. Mau cari kerja pun sudah kepalang tanggung, setidak nya aku harus menunggu bayi ini lahir dulu baru aku bisa bekerja kembali.
Jika sudah dalam ke ada an seperti ini, mau gak mau aku pun terpaksa menghubungi mas Hadi, jika aku benar - benar sudah tidak mempunyai uang lagi.
Bahkan tak jarang istri nya mas Hadi menshukuri ke susahan ku, jika dia mengetahui aku menghubungi mas Hadi untuk minta uang. dan juga menertawai ku dan menghina ku. Namun itu semua aku tidak perdulikan, aku hanya bisa menahan ke sabaran demi anak ku.
Hari demi hari pun, aku selalu bertengkar dengan mas Hadi. Kehidupan kami sudah tidak ada ke harmonisan lagi. Entah apa yang di lakukan oleh istri nya, sampai - sampai mas Hadi berlaku tidak adil pada ku. Yah, mungkin ini adalah sebuah hukum alam untuk ku, karena mudah termakan rayuan laki - laki bajingan seperti mas Hadi.
Tak jarang pula, istri mas Hadi mengirim chat dan foto - foto untuk memamerkan ke mesraan nya dengan mas Hadi. dan membangga kan diri nya, karena mas Hadi lebih berpihak pada nya. Mungkin dia kira aku akan menangis darah setelah melihat nya.
" Len ! cieee ! sedang cemburu nih yeee !" ledek Kya yang datang tiba - tiba mengaget kan ku. karena sedang melihat foto mas Hadi dan istri nya yang di kirim kan ke ponsel ku.
" idihhh, sory ya ! body masih aduhai begini, masa cemburu sama hal yang beginian." sahut ku sambil menunjuk foto di ponsel ku.
" nah gitu dong... itu nama nya baru Hellen, jangan mau terpengaruh dengan foto norak itu. karena kenyataan nya mereka itu tidak bahagia. kalau rumah tangga mereka bahagia, tidak akan ada perbuatan selinggkuh di antara mereka. ngerti gak ?" ucap Kya yang seperti sedang menceramahi ku.
" iyaa ngerti Bu ustadzah !" sahut ku.
" HaHaHa..!" tawa Kya.
" Len, aku boleh nanya gak ?" ucap Kya tiba - tiba.
" Hah ? sejak kapan aku melarang mu bertanya sama aku Ky...? boleh lah, mau nanya apa emang nya ? jangan kasih pertanyaan yang sulit, aku pusing cari jawaban nya. otak lagi gak singkron." jawab ku
" Hehehe, Len, kamu lagi mikirin mas Hadi gak datang - datang ya ?" tanya Kya.
" cuma itu pertanyaan nya ky ? gak ada yang lain gitu, yang lebih menantang ?" ucap ku.
" iyaa, cuma itu, jawab lah.." pinta Kya.
__ADS_1
" mikirin sih iya Ky, cuma gak terlalu. aku juga gak perduli dia datang atau tidak. aku cuma cemas aja kalau rasa tanggung jawab nya hilang. aku harus gimana kalau dia gak tanggung jawab dengan biaya hidup aku, masalah nya ini badan sudah terlanjur berisi." jawab ku.
" Kalau soal biaya jangan di pikirin Len, itu lah gunanya punya teman. kita saling bantu. tenang aja ada aku kalau soal biaya. aku malah senang kalau kamu pisah dengan mas Hadi. Istri nya itu terlihat licik, mulut nya manis, penampilan nya sok terlihat lemah biar orang berbelas kasihan melihat nya." ucap Kya
" Sama aja aku nyusahin kamu Ky, dari pada nyusahin kamu, lebih baik aku nuntut ke mas Hadi, ini kan tanggung jawab dia, berani berbuat harus berani pula tanggung jawab."
" iya tau itu tanggung jawab suami kamu Len, tapi aku emang lebih setuju kamu pisah dengan suami kamu itu. bukan nya aku berniat jahat sama kamu. tapi kalian berdua emang gak cocok. apa lagi melihat istri nya, ihhh malas banget. Nanti aku cariin calon suami yang baik buat kamu Len, yang banyak duit nya." ucap Kya lagi.
" Suami orang lagi gitu ?" tanya ku.
" ya enggak lah Len, itu sama aja aku ngasih kamu masalah baru." ucap Kya sambil memutar bola matanya ke atas.
" Hahaha, ya kirain gitu Ky." jawab ku dengan tawa.
Tok tok tok !
Sedang ngobrol - ngobrol dengan Kya tiba - tiba ada yang ngetuk pintu.
Aku pun hanya mengangkat bahu, tanda tak tau.
Assalamualaikum !
Walaikumsalam !
Jawab ku dan Kya bersama, Kya pun langsung beranjak dari tempat duduk nya menuju pintu, untuk membuka nya.
" Siapa ya ?" tanya Kya saat membuka pintu.
" Saya Ema mba, tetangga nya mba Hellen. mba Hellen nya ada ?" tanya mba Ema lagi.
__ADS_1
" oh..., ada mba, masuk aja kalau gitu." ajak Kya lagi.
Mba Ema pun langsung masuk dan menghampiri ku yang sedang duduk menonton TV.
" Ooh, mba Ema, kirain siapa." sapa ku
" Hehehe, ganggu gak nih mba Hellen ?" ucap mba Ema dengan tawa hehe nya.
" Enggak mba, lagi santai - santai juga ini. ada apa mba ?" jelas ku sambil bertanya.
" ini mba... em, mm..., kan kemaren malam tuh, saya lagi di rumah mba Vita sedang mengobrol sambil menunggu suami pulang kerja. lalu kami mendengar suara keributan di rumah mba Hellen. Saat aku dan Vita mau masuk ke rumah mba Hellen, aku dan Vita di panggil sama si sari, rupanya sari juga sedang berdiri di samping rumah mba Hellen terlihat sedang menguping.
" He ! hus, hus, hus !, kalian mau ngapain... sini, sini," ajak sari.
Akhir nya aku sama Vita ke rumah nya sari mba. jelas mba ema
" Lalu mba ?" tanya ku lagi.
" Lalu kata si sari mba se orang pelakor. karena waktu itu istri suami mba salah masuk rumah, dia pikir rumah mba itu di rumah nya sari. akhir nya istri suami mba itu cerita - cerita lah sama si sari. sebelum dia datang ke rumah mba." jelas mba Ema lagi.
" Ooh begitu rupa nya mba." sahut ku.
" Saya memang istri ke dua mba." jawab ku lagi.
" Oohhh berati benar kata si sari mba perebut suami orang.." ujar mba Ema.
" Nah kalau itu salah mba Ema, saya bukan merebut suami orang, lebih tepat nya di sebut berbagi suami. Kalau saya merebut, berarti suami nya gak pulang - pulang lagi ke rumah istri tua nya. karena, sudah saya rebut jadi suami saya sendiri, bukan punya orang lagi. tapi sudah menjadi hak milik saya sendiri. itu yang di sebut merebut. tapi kalau suami nya masih pulang ke rumah istri tua nya dan ke istri mudanya, itu nama nya bukan merebut, tapi berbagi suami." jelas ku lagi.
Mba Ema pun hanya terlihat melongo aja mendengarkan kata - kata ku.
__ADS_1
***Terimakasih***