
Yasmine tersenyum mendapati sang putra pertama masuk ke dalam. Pun dengan sang nenek, wanita paruh baya itu bahkan melambaikan tangannya agar sang cucu laki-lakinya itu mendekat.
"Taqi, ini kakak." seru bocah tampan itu seraya mendekat. "Sudah 'kan nen nya, Bu?" sambung Taqa bertanya.
"Sudah, ini lagi bobo," jawab Yasmine seraya melihat ke arah sang putri yang memang tengah ditidurkan di atas ranjang.
Taqa tersenyum lebar, ia mendekat ke arah sang nenek. Di lihatnya wajah imut adiknya itu. Setelahnya, ia lalu melihat ke arah sang ibu. "Bu," ucapnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Yasmine dengan senyum lebar memperhatikan sang putra.
"Adik aku Taqi, 'kan?" tanya bocah tampan itu. Membuat sang ibu dan neneknya saling pandang dengan bingung. "Ada apa menangnya, Taqa?" tanya ibu Radiah.
Kini Taqa melihat ke arah sang nenek. "Enggak papa, aku hanya tahu. Kalau adik aku ya, Taqi, bukan --" kalimat bocah itu terhenti, bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka dari luar. Ketiga manusia besar yang ada di dekat Taqi pun menoleh secara bersamaan.
"Loh, cucu nenek. Sini," seru ibu Radiah saat mendapati suaminya dengan cucu perempuannya yang lain.
__ADS_1
Seketika itu, raut Taqa berubah. Dia menunduk kesal, dan tidak mau melihat atau hanya sekedar melirik ke arah Lisi. Ia bahkan dengan perlahan mundur dan menjauh, membiarkan orang yang ada di sana berbicara sampai tak mengetahui kepergiannya.
..._-_-_-_-_-_...
"Assalamualaikum," suara itu mengagetkan Taqa yang sedang duduk di kamarnya dengan buku di tangan. Anak tampan itu menoleh dan segera tersenyum serta menggelengkan kepala pada seseorang yang datang menemui dirinya.
"Ayah, masuk ya?" izin pria yang menjadi ayah sambung bagi anak itu. Taqa kembali menggerakkan kepala, ia mengangguk mempersilahkan sang ayah sambung masuk.
"Masih belajar?" tanya Arya saat kini dia sudah berdiri di samping meja belajar sang putra. Ya putra, dia selalu menganggap kalau Taqa adalah putranya.
"Tidak ada, ayah hanya mau ajak kamu makan. Ayah tahu loh, kamu belum makan banyak," ujar sang ayah.
Taqa tersenyum lebar, ini yang dia suka dari ayah sambungnya itu. Walaupun tadi sikapnya tak baik, namun ayah sambungnya itu tak pernah marah. Ya, walaupun nanti jelas ia akan diberitahu kalau apa yang ia lakukan itu salah. Sebenarnya bukan Taqa tak tahu, hanya saja ... entahlah, yang jelas ia selalu merasa tak suka pada ana kembar yang kata semua orang adalah adiknya itu.
"Makan sama siapa aja, Yah?" tanya bocah itu memastikan.
__ADS_1
"Sama ayah, dan ibu. Para nenek dan kakek lagi nemenin Taqi di kamar," jawab Arya dengan senyum manisnya.
Taqa mengangguk dan berdiri dari duduknya, ia segera menggandeng tangan ayahnya itu untuk berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan. Kebetulan, semua orang sudah pulang, hanya tersisa ayah Ilyas dan ibu Radiah saja.
Jangan tanya bagaimana tadi saat semua orang berpamitan, yang jelas, Taqa hanya menyalami sekedarnya saja. Sampai sikapnya itu membuat Yasmine tak enak hati dan meminta maaf pada Alifa.
Saat ini Yasmine tersenyum lebar, mendapati dua lelaki kesayangannya berjalan ke arahnya. Ia sudah menyiapkan makanan untuk kedua lelaki itu. Ia tahu, kalau sang putra tadi makan sedikit, dan itu semua karena makanan yang ada di piringnya di ambilkan langsung oleh Alifa.
"Sudah lama menunggunya, Buntik?" tanya Arya pada sang istri yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Belum, baru saja. Sini, ayo dua jagoan ibu, kita makan dulu ya, sebelum Taqi minta minum dan ibu harus meninggalkan kalian di sini," begitu ujar Yasmine seraya menggeser kursi agar sang anak duduk disebelahnya.
"Bu," ucap Taqa saat sudah duduk disebelah sang ibu.
Yasmine tersenyum, "makan dulu ya. Ibu tahu kamu pasti sangat lapar," katanya seraya mengusap puncak kepala sang anak.
__ADS_1
Taq mengangguk dan menurut. Begitu juga dengan Arya, ia benar-benar menyayangi kedua manusia itu. Terlebih Yasmine, semakin hari, perempuan cantik itu semakin dewasa dan sabar menghadapi anaknya, menjalani perannya sebagai seorang ibu. Sampai-sampai ia merasa bersyukur setiap harinya, bisa di jodohkan dengan dia.