Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 111 # Sahabat Baru


__ADS_3

"Nak Yasmine pandai sekali mengajar, anak saya ini jadi mau belajar mengaji lagi," ucap seorang ibu yang badannya besar sembari mengusap rambut sang putra.


"Saya ikut seneng kalau keberadaan saya jadi di sukai anak-anak, bu. Karena saya sangat menyukai anak kecil, mengajak mereka bermain itu seru menurut saya," jawab Yasmine yang kini tengah duduk di depan ibu-ibu.


"Jangan-jangan Nak Yasmine ini guru, ya?" tanya salah seorang ibu.


"Iya, ibu-ibu. Yasmine ini dulunya seorang guru. Di Jakarta, di sekolah swasta," jawaban yang keluar justru dari mulut ustadzah Ami.


"Oalah, pantesan," jawab seseorang yang tadi bertanya.


Hingga saat obrolan selesai, Yasmine pun pamit dari sana. Ia kembali dengan ustazah Ami dan Arya yang menemani. Maklum saja sudah malam, jadi sebagai lelaki Arya akan mengantar dua peran sekaligus.


Saat ini, dia dan Ami jalan di depan. Sedangkan Arya si lelaki dewasa berjalan di belakang mereka, tak terlalu dekat.


"Sst," bisik-bisik ustazah Ami.


Yasmine hanya menanggapi dengan senyum lebar dan menaikkan alisnya, seolah-olah bertanya apa.


"A Arya itu duda loh," katanya sembari melirik sekilas pria yang kini terlihat jalan dengan menunduk.


"Terus urusannya sama aku apa? Aku nanya memangnya?" tanya balik Yasmine.


Ustazah Ami lantas tertawa. Keduanya memang sudah sedekat itu, kendati mereka belum lama kenal. Namun, sudah seperti teman lama. Karena pembawaan Ami yang tidak di buat-buat. Ia apa adanya pada Yasmine. Bahkan Yasmine seeing di kirimi makanan oleh Ibunya Ami, katanya untuk sang bayi.


"Ustazah kok ketawa aja kerjanya," gurau Yasmine.


"Loh, ustazah juga manusia. Kamu tuh gimana aku sama kamu tuh sama loh, guru sama ustazah sama 'kan?" kata Ami yang lantas di jawab dengan anggukan oleh Yasmine.


Sedangkan tanpa keduanya tahu, jika sang lelaki yang ada di belakang keduanya juga tersenyum lantaran mendengar apa yang dua wanita itu bicarakan. Tentang dirinya.


Dua wanita seumuran beda keadaan itu lantas berhenti, begitu sampai di depan rumah berpagar putih dengan satu orang wanita yang terlihat khawatir di sana.

__ADS_1


"Ya Allah, Mbak Yas. Kenapa lama?" tanya mbak Fifi penuh kekhawatiran.


Yasmine dan Ami lantas mendekat dan meminta maaf. Yasmine bahkan tak segan-segan untuk memeluk Fifi agar dia tak lagi khawatir. Dan pemandangan itu tak lepas dari seorang pria yang berdiri dengan diam di sana. Ia pun turut tersenyum saat mendapati dua wanita saling berpelukan layaknya kakak adik.


"Ya, sudah. Berhubung sudah sampai. Aku pamit ya, maaf ya Mbak Fifi. Membuatmu khawatir," ucap Ami sembari pamit.


"Iya, Mbak ustazah, enggak apa-apa," kata mbak Fifi.


Ustazah Ami lantas membalik badan. Ia mendapati Arya yang akan kembali mengantar dirinya. "Mmm, A Arya," panggilnya.


"Iya, Ustazah," jawab Arya.


Yasmine berdehem di belakang Ami. "Kita masuk yuk, Mbak Fifi. Ini kayaknya kita tidak di butuhkan," begitu ujarnya menggoda.


"Ssst," mbak Fifi menyuruh Yasmine diam.


"Gini, aku nggak usah di antar. Tinggal tiga rumah lagi kok. Terimakasih, sudah mengantar aku dan Yasmine," begitu ucap Ami.


"Oh, baiklah Mbak Ustazah. Selamat istirahat semuanya," ucap Arya. "Assalamu'alaikum," pamitnya yang lantas berlalu seusai mengucapkan salam dan di jawab oleh tiga wanita sekaligus.


Begitu di dalam rumah, kini giliran mbak Fifi yang menggoda Yasmine. "Cocok tuh Mbak Yas, duda sama janda," katanya.


"Mbak, aku nggak mau duda, nggak mau perjaka. Aku sudah nyaman seperti ini," jawab Yasmine serius.


Karena pada kenyataannya, untuk sekarang-sekarang ini ia lebih nyaman untuk sendiri. Tak peduli pada lelaki manapun dengan status apapun. Setiap ia melihat lelaki, ia tidak memiliki perasaan lain selain harus menghindari karena bukan mahram.


Lagipula, ia sudah merasa cukup untuk sekarang ini dengan keberadaan dua lelaki yang sangat menyayanginya, bahkan penuh ketulusan yaitu ayah dan sang kakak.


Mbak Fifi lantas mengangguk, ia tengah menemani wanita hamil itu minum susu. "Kesendirian itu membuat enak ya, Mbak. Nggak perlu memikirkan pasangan," kata Mbak Fifi.


Yasmine tersenyum, "kalau kamu perlu mencoba Mbak Fi," katanya.

__ADS_1


"Nanti saja lah, kalau sudah benar-benar yakin dan mantap."


Yasmine mengangguk setuju. Lantas begitu susu habis, perempuan hamil itupun pamitan untuk istirahat. Walaupun pada kenyataannya, begitu sampai di kamar ia tak langsung tidur. Tapi, perempuan itu lantas menyikat giginya dan wudhu.


Sebelum benar-benar tidur, ia akan membaca ayat-ayat suci terlebih dulu di balkon. Tempat favoritnya.


Suaranya mengalun merdu, dalam keheningan malam. Ditemani embusan angin yang seolah masuk ke dalam relung hati. Membuat adem perasaan.


Membuat seseorang yang tak sengaja lewat di depan rumah itu berhenti, hanya untuk mendengar lebih lama lantunan ayat-ayat suci yang terucap.


Dalam hening nya malam, dengan mata terpejam, seseorang itu berdiri sembari menikmati lantunan indah yang terdengar.


Hingga suara itu sudah berhenti dan ia pun pergi.


Yasmine yang mendengar suara langkah kaki lantas beranjak dari duduknya dan melihat ke bawah sana. "Enggak ada siapa-siapa," ucapnya.


Lantas wanita hamil itupun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia hanya perlu istirahat sekarang, sebelum waktunya kembali tiba untuk bangun.


----------------


Di tempat lain. Di sana, sama-sama di balkon kamarnya. Seorang lelaki tengah berdiri mencondongkan badan dengan siku sebagai tumpuan pada pagar pembatas.


Setiap malam, dalam tiga bulan terkahir ini, tempat itu selalu menemani malam-malam nya. Malam yang kelam, yang kadang indah. Tergantung suasana hati.


Ya, kendati sudah berdoa, namun hatinya masih belum merasa nyaman. Walaupun ia sudah sangat berusaha.


Sampai hadirnya seseorang di sebelah membuat ia menoleh dan menegakkan diri. "Kenapa bangun?" tanyanya penuh.


Seseorang itu tersenyum, lalu menggeleng. "Tidak kenapa-napa, hanya ingin ikut denganmu di sini," jawabnya.


Lelaki itu mengangguk. Lantas mendekap istrinya dan membawa badan sang istri agar menatap malam yang sangat hening di depan mereka. Sampai di mana keduanya saling diam, saling menikmati kesunyian.

__ADS_1


Hingga saat rintik hujan mulai turun, membasahi bumi malam itu. Keduanya lantas saling memandang dan tersenyum. Lalu, kedua telapak tangan mereka sama-sama menengadah menampung air yang turun dari langit.


Sebelum akhirnya harus masuk ke dalam karena air yang keluar semakin tak bersahabat. Dalam hujan yang semakin lebat, dua manusia itu saling berdoa. Mendoakan segala kebaikan. Untuk mereka dan untuk dia, yang tidak di ketahui keberadaan nya oleh keduanya.


__ADS_2