
Setelah sedikit tenang, ibu hamil itu lantas di suruh kembali untuk minum air putih. Lalu, Zahra dengan sabarnya menemani Yasmine yang masih dalam mode sedih.
Sebelum Yasmine mengatakan segalanya, Zahra juga berinisiatif untuk memberikan kabar pada mbak Fifi, bahwa bos kesayangannya ada di tempatnya. Mbak Fifi yang memang dari tadi tengah khawatir dan menelpon nomor Yasmine pun lantas merasa lega saat ada kabar dari Zahra.
Setelah tenang dan tidak lagi menangis. Yasmine menceritakan segalanya pada Zahra, dari mulai bagaimana perasaannya yang tidak bisa bertahan di dalam giliran waktu. Sampai akhirnya ia mendengar sendiri bahwa Alifa pun sama, ia merasa tersaingi oleh dirinya.
"Berbagi itu memang susah, Yas. Apalagi berbagi suami. Terlebih posisi Alifa yang belum hamil, dan kamu yang baru beberapa bulan langsung menadapat amanah, ini yang susah, Yas. Cemburu pada rezeki orang lain," ucap Zahra. "Padahal, kamu juga tidak tahu-menahu pasal rezeki yang akan kamu dapatkan," sambung Zahra.
"Iya itu, Kak. Jadi, sudah benar bukan keputusan ku untuk menyerah?" tanya Yasmine.
Zahra mengangguk. "Aku tidak membenarkan perceraian, Yas. Tapi, jika di rasa pernikahan mu begitu menyakitkan, apa boleh buat. Tapi, jika memungkinkan kalian berpisah dengan baik-baik, agar persaudaraan yang sudah terjalin begitu lama tidak hancur dalam sekejap," ucapnya.
Yasmine mengangguk, "Untuk itulah aku ke sini, Kak. Aku butuh orang untuk mendengarkan keluh kesahku," katanya.
"Sabar ya, pokoknya satu yang harus kamu ingat. Jangan pernah gegabah, cari alasan yang kuat agar semua orang tak curiga," kata Zahra lagi.
"Bagaimana jika aku mencari masalah, seperti ... misalnya aku tinggal di rumah ibu. Kak, jujur saja aku tidak ingin bertemu degan Alfin. Karena rasa ini sudah besar, dan jika bertemu terus-menerus jelas akan meluluhkan perasaanku," ujar Yasmine.
Zahra menarik napasnya dalam-dalam, lantas mengeluarkannya perlahan. Jujur saja dia pun bingung, karena dia tak ada di posisi Yasmine.
"Aku nggak mau Alifa semakin merasa sakit dengan kehadiranku, Kak. Dia sudah mau menolongku dari rasa malu, walaupun ujung-ujungnya aku merasakan sakit dan kecewa. Tapi aku sadar Kak, sekuat-kuatnya hati mencintai, tak akan sanggup jika harus terbagi."
Zahra tersenyum, adik ipar yang biasanya terlihat ceriwis kali ini terlihat begitu dewasa. "Sini, jangan banyak bicara. Kakak tahu, kamu butuh pelukan." Wanita itu membawa kembali tubuh sang adik ipar ke dalam dekapan. Ia tak tahu harus mengatakan apa, yang jelas ia hanya ingin Yasmine merasa tenang.
Karena menurutnya ibu hamil tidak boleh banyak pikiran, ia tentu tidak ingin hal buruk terjadi pada calon keponakannya.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Di Tempat Lain.
Dalam duduk bersimpuh, lelaki yang memiliki dua istri itu tengah memanjatkan doa. Ia tak mengerti dengan apa yang ia rasa, ia merasa sedih saat sang istri pertama bertanya tentang siapa yang akan ia pilih. Tentu saja, dalam hatinya menginginkan keduanya.
Tapi, demi untuk menenangkan perasaan cintanya itu ia harus mengatakan bahwa ia akan selalu ada bersama sang istri pertama. Tentu saja, dalam hati lelaki itu juga mengatakan kalimat lain, seperti tidak akan meninggalkan keduanya.
Kini, dalam duduknya air mata lelaki itu menetes. Tak pernah terpikirkan olehnya, kedua istrinya akan menanyakan hal demikian. Hal yang sama. Sama-sama menanyakan tentang siapa yang akan ia pilih. Tidak tahukah mereka, bahwa dalam hati lelaki berusia hampir 30 tahun itu ada dua nama, yaitu nama Yasmine dan Alifa.
Ya, mungkin awalnya dia tidak mencintai Yasmine. Namun bagaimana jika kini hatinya sudah menerima bahkan mencintai dengan porsi yang sama. Lantas, bagaimana dia selanjutnya. Ia benar-benar bingung, antara dua hati yang harus di jaga.
Alifa yang selama ini ia kenal dengan begitu dewasa, tiba-tiba menunjukan sisi lain yang baru ia tahu. Padahal ia masih ingat dengan jelas, bagaimana dulu semangatnya sang istri yang memaksa dia untuk menikahi wanita manja yang selalu ceria, yang jujur saja selalu membuatnya kesal lantaran selalu mengganggu waktu untuknya bersama istri tercinta.
Tapi, kini ... wanita manja itu sudah sukses membuatnya jatuh ke dalam cinta. Membagi hati dengan takaran yang sama.
"Mas," panggil Alifa.
"Ya," Alfin menoleh. Dia hampir lupa kalau sang makmum belum salim padanya. "Maaf, aku terlalu khusyuk ber-do'a," ucapnya sembari mengulurkan tangan untuk di cium sang istri.
"Apa, ada yang kamu pikirkan?" tanya Alifa.
"Apa aku, salah?" tanya Alifa lagi.
Alfin menggeleng. "Aku hanya tidak mengerti. Dulu ... kamu begitu memaksa aku untuk menikahi sahabatmu, sekarang ... saat semua sudah berjalan lancar, kamu menanyakan hal yang aneh," jawabnya.
__ADS_1
"Tapi, aku hanya takut, Mas. Aku takut kamu tidak lagi menyayangiku. Kita sudah bersama hampir sepuluh tahun, tapi kamu tahu 'kan sampai sekarang bahkan aku belum hamil," kata Alifa.
"Tapi, apa aku pernah menyinggung perasaanmu tentang kehamilan?" tanya Alfin. Alifa lantas menggeleng.
"Sayang," kata Alfin. Dia memegang kedua bahu sang istri. "Kalian sama-sama istriku, aku tidak pernah membandingkan kalian. Tapi kenapa kamu menanyakan demikian?" tanya balik Alfin.
"Maaf, Mas," ucap Alifa dengan menunduk.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Sayang? Agar kamu tahu, kalau aku tidak akan meninggalkanmu. Mau punya anak atau tidaknya dirimu. Aku akan ada si sisimu."
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, Mas. Maaf jika pertanyaan ku membuatmu bingung. Jangan terlalu di pikiran, tolong maklumi saja perasaan ku yang begitu cemburu. Karena rasa yang aku miliki padamu begitu besar," kata Alifa.
"Tapi kamu juga tahu, Sayang. Perasaan ku pun sama besarnya padamu. Untuk apa yang di dapatkan Yasmine, itu bukan kehendak kita. Itu adalah rezeki yang Allaah beri. Kamu tidak boleh iri," ucap Alfin lagi.
Alifa mengangguk. Ya, Alifa tahu. Tapi, bukankah rasa cemburu itu wajar. Karena mau sekuat apapun dia, dia hanya manusia biasa. Dia hanya perempuan biasa yang memiliki rasa cemburu yang begitu besar.
Alifa tidak mengerti, entah kenapa kini hatinya mulai susah untuk berbagi. Padahal, ia sudah berkali-kali mengatakan pada hatinya untuk lebih ikhlas lagi. Tapi ternyata, ikhlas yang sesungguhnya benar-benar sangat sulit untuk di lakukan.
"Mas, tolong jangan bilang pada Yasmine jika aku cemburu akan kehamilannya," ucap Alifa.
"Tidak akan, Sayang. Aku tidak pernah menjelekkan dirimu di depannya, pun sebaliknya. Kalian memiliki keistimewaan sendiri-sendiri, jadi jangan pernah berpikiran jika aku akan melakukan hal yang seperti itu."
"Maafkan aku sekali lagi, Mas."
"Sudah, jangan di pikirkan. Satu yang harus kamu lakukan, ber-do'a dan berusaha. Jika sudah berdoa dan berusaha belum juga mendapatkan apa yang kamu inginkan, berarti bukan rezeki," ucap Alfin.
__ADS_1
Alifa kembali mengangguk. Dalam hatinya mensyukuri karena tidak hidup dalam satu rumah dengan sang sahabat. Karena pada kenyataannya, saat seperti ini saja dia merasa sakit, tak terbayang jika mereka tinggal dalam satu atap.
Bukan menyesali akan permintaan nya yang meminta sang suami menikahi Yasmine. Ia hanya kesal pada hatinya sendiri yang memilki perasaan cemburu dan iri hati yang berlebihan sampai tidak bisa menyimpannya sendirian. Sampai akhirnya sang suami mengetahui, bahkan sampai membuatnya bertanya akan pilihan.