
Bibirnya tersenyum, tangannya tengah mengusap gambar kecil berwarna hitam putih. Duduk di atas ranjang, dengan lantunan ayat suci yang terdengar dari sebuah ponsel. Dalam hatinya mengucapkan begitu banyak doa. Teruntuk anak tercinta yang kini masih berada di dalam rahimnya.
Hingga suara dari ponsel berhenti dan ia putar kembali. Seperti itu terus, dan terus sampai ia merasa sudah terlalu lama duduk. Akhirnya, perempuan itu turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah. Ia ingin duduk di bawah, siapa tahu sang ibu sudah keluar dari kamarnya.
Namun sayang, di bawah benar-benar sepi. "Mungkin ibu lelah," begitu ucap Yasmine. Dia sudah tidak merasakan kantuk, karena dia sudah tidur dalam perjalanan pulang tadi. Jadi, mungkin sekarang tinggal dua orangtuanya yang tidur karena capek.
Perempuan itu lantas duduk di sofa, menoleh ke kanan dan kiri. Rasanya ia seperti tidak berada di rumahnya. Entah apa yang ia inginkan, yang jelas ia seperti tengah menumpang di rumah orang.
Yasmine tersenyum sinis, lalu menunduk mengusap perut. "Bukan aku 'kan yang rindu, tapi kamu 'kan, Nak?" kilahnya.
"Lagi apa, Yas?"
Yasmine mendongak, ternyata sang ayah yang keluar dari kamarnya. "Ayah," ucapnya.
Ayah Ilyas tersenyum, lantas mendekat dan duduk disebelah sang putri. "Ada apa, Kenapa?" tanya sang ayah.
"Ayah nggak istirahat? Capek loh," tanya balik sang putri.
"Bagiamana kabar cucu Ayah? Baik 'kan di bawa sama ibunya capek-capek," tanya ayah balik.
"Kenapa kita di tanya, terus, malah nanya balik?" Yasmine menyandarkan kepalanya di pundak sang ayah.
"Karena kita sudah tahu jawabannya, Yas," kata Ayah. Yasmine mengangguk, ia membenarkan apa yang di katakan sang ayah.
"Yas," panggil Ayah Ilyas dengan pelan.
"Hm, kenapa Yah?" Yasmine tetap memeluk erat lengan sang ayah.
"Apa, menurutmu cincin kawin itu penting?" tanya Ayah. Seketika perempuan yang kini tengah hamil muda itu diam. Entahlah penting atau tidak, yang jelas karena pertanyaan ayah, ia jadi mengingat tentang pemuda yang ingin berkenalan dengannya dan mengira dia masih gadis lantaran tak ada cincin di jari tangan.
"Kenapa diam?" tanya Ayah lagi.
"Aku nggak tahu, Yah," jawab anak perempuannya. "Tapi, tadi ada yang mau kenalan sama aku, gara-gara nggak ada cincin di jari aku. Pria itu mengira aku masih sendiri," jelas Yasmine.
"Jadi, penting?" tanya Ayah Ilyas lagi.
__ADS_1
"Entahlah, Yah. Sudahlah Yah, aku tidak ingin membahas pasal cincin. Jujur saja, Yah. Aku sedih kalau mengingat tentang benda kecil berkilau itu. Karena, aku jadi mengingat waktu awal-awal nikah, di mana aku dan Alfin sama-sama tidak menginginkan ini semua terjadi."
"Tapi, sekarang kalian sudah sama-sama menerima 'kan?" tanya sang ayah memastikan. Bukan tanpa alasan sang ayah bertanya demikian. Karena ayah hanya ingin memastikan kebahagiaan sang putri. Apa benar, putrinya bahagia. Atau justru sebaliknya.
Yasmine tak menjawab, namun ia mengangguk.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Hingga saat yang ditunggu tiba, yaitu pergantian waktu. Berhubung sang suami pulang sore nanti. Maka, Yasmine pun memutuskan pulang ke rumahnya setelah mengajar, dan sore ini ia tengah menikmati teh hangat di teras dengan mbak Fifi.
Keduanya asyik ngobrol, sampai mobil Alfin tiba di halaman rumah. Yasmine tetap duduk di tempatnya, namun bibirnya tersenyum lebar menyambut kedatangan sang suami tercinta.
Mbak Fifi lantas pamit ke dalam sembari membawa cangkir yang isinya sudah habis.
Sementara itu, Alfin turun dari dalam mobil dan mendekat ke arah sang istri. Mengulurkan tangan sembari mengucap salam. Setelah sang istri salim, ia pun lantas turut duduk di sebelah istrinya.
"Kenapa, duduk di sini?" tanya Alfin yang kini sudah duduk di sebelah sang istri kedua.
"Enggak kenapa, pengin aja," katanya pelan.
"Mood wanita hamil itu berubah-ubah Al, jadi kamu harus tahu, dan sekarang aku sedang ingin duduk dengan tenang tanpa banyak bicara."
"Oh, seperti itu." Alfin menganggukkan kepalanya, percaya saja apa yang tengah di katakan sang istri.
Padahal yang di rasakan Yasmine sekarang adalah perasaan yang sedih. Karena, entah kenapa rasa rindunya pada sang suami membuatnya merasa sakit karena kenyataan pahit.
"Ayang, kamu tahu nggak?" tanya Alfin.
Yasmine yang tengah menatap sang suami menjawab dengan gelengan kepala. Alfin tersenyum, "tadi aku lewat taman komplek sebelah. Di sana banyak sekali ibu-ibu hamil yang tengah jalan-jalan sore, dan seketika aku pengin ngajak kamu ke sana. Kita jalan-jalan. Di sana banyak ayunan yang pastinya muat untuk orang dewasa."
"Tapi, kalau lagi nggak mood ya sudahlah, besok sore saja," sambung Alfin.
Senyum Yasmine semakin lebar. "Aku mau," jawabnya.
"Tapi, ada syaratnya," kata sang suami.
__ADS_1
"Apa?" Yasmine mengerutkan keningnya.
"Kamu harus menceritakan segala sesuatu yang membuatmu menjadi tidak mood," kata Alfin dengan senyum yang lebar.
"Iya deh" jawab Yasmine pasrah.
Jujur saja perasaan Yamanie masih sedih. Memang hanya pasal cincin, tapi jujur saja itu semua tetap membuat hatinya sakit, karena dengan itu ia jadi mengingat saat di mana dia tidak diinginkan oleh sang suami.
Walaupun tidak terucap secara lisan, namun sebagai makhluk wanita yang memiliki perasaan, dia tentu bisa merasakan segalanya.
Kini, keduanya sudah tiba di taman komplek sebelah. Tempatnya memang indah, asri dan menenangkan. Banyak pohon, dan tempat bermain untuk anak yang benar-benar luas. Keduanya lantas berjalan dengan bergandengan tangan, menikmati hembusan angin sore.
Hingga pandangan Yasmine tertuju pada seorang ibu hamil dengan seorang suami yang tengah mengelus perut. Mereka berdua duduk di bangku yang ada di bawah pohon besar. Keduanya terlihat begitu bahagia, ngobrol dan seolah-olah tengah bercerita dengan sang anak.
"Al!" panggil Yasmine, ia mengehentikan langkahnya. Namun tangannya masih menggenggam erat tangan suami.
Alfin pun menoleh ke arah sang istri yang tiba-tiba berhenti, "kenapa? Mau duduk?"
Yasmine menggeleng, "Aku mau tanya."
"Apa?"
"Bagaimana perasaan kamu, sama aku?" tanya Yasmine.
"Maksudnya?" Alfin lantas berdiri.
"Perasaan kamu terhadap aku dan Alifa," jelas Yasmine.
"Aku tidak mengerti deh, coba sini dulu." Alfin melangkahkan kakinya menuju bangku dan menggandeng sang istri agar duduk juga di sana. Lantas menyuruh Yasmine duduk, pun dengan dirinya yang duduk di sebelah istrinya.
"Kamu kenapa?"
"Aku cuma ingin nanya itu," jawab Yasmine.
"Kamu, aneh. Kita sudah sepakat untuk menjalani semua ini dengan sabar dan ikhlas. Tapi, hari ini kamu berbeda, kamu tiba-tiba diam dan tiba-tiba juga menanyakan seperti itu, ada apa?"
__ADS_1