
Rasanya dadanya berdebar, batinnya bertanya-tanya. 'Kira-kira apa alasan Yasmine?'
Sembari berpikir, tangannya sembari mengetik pesan untuk sang suami.
[Mas, apa kamu benar-benar tidak di beritahu?] begitu pesannya. Ia benar-benar tidak percaya jika keputusan seperti itu Yasmine tidak mengatakannya pada Alfin. Karena menurutnya, mau se-marah apapun, tentu saja setiap keputusan harus di bicarakan berdua dengan suami bukan.
[Tidak, Sayang. Serius. Nanti, seusai rapat aku langsung susul kamu ke rumah Ibu, sekalian kita bicarakan kembali dengan dia.] Jawaban pesan dari Alfin. Sungguh lelaki itu masih tak mengerti dengan sikap Yasmine yang menurutnya selalu saja semaunya sendiri.
Sampai membuatnya tidak konsentrasi akan perkerjaan. Di saat banyak proyek yang tengah ia kerjakan, namun pikirannya harus terbagi lantaran sikap sang istri ke dua yang masih sama.
Ia hanya berharap, alasan berhentinya dia dari mengajar adalah karena kehamilan, bukan karena alasan lain yang membuat dia semakin menjauh. Begitulah harapan Alfin.
Hingga akhirnya, taksi berhenti di depan pagar rumah mewah Ayah Ilyas. Alifa dan Mbak Ina pun lantas turun. Mbak Ina yang bertugas menemani, sedari tadi hanya diam. Namun tentu saja, dia pun juga bertanya-tanya dalam hatinya. Hanya saja, tidak ia pertanyakan pada Alifa, karena ia paham betul bahwa sekarang bos kesayangannya tengah di landa rasa khawatir.
Keduanya lantas masuk ke halaman besar rumah itu, setelah turun dari taksi online. Berdua berjalan dengan langkah yang lebar, terlebih Alifa yang seolah sudah tidak sabar untuk menemui sang sahabat.
Begitu sampai di teras, ia mendapati pintu utama yang terbuka, langsung saja ia mengucap salam. "Assalamu'alaikum!" begitu ucapnya sedikit keras agar orang ada di dalam sana mendengar.
"Wa'alaikumsallam," jawab suara yang sepertinya suara ibu Radiah.
Alifa lantas melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Membiarkan Mbak Ina yang tertinggal di depan, lantaran ia melihat ada Mbak yang tengah membersihkan taman. Jadi, ia memutuskan untuk ke sana.
Alifa berpapasan dengan Ibu yang akan keluar. "Loh, kamu Lif. Ibu pikir siapa," ucap ibu dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
"Iya, bu. Lifa tidak menggangu 'kan?" tanyanya.
"Ya, tidak dong. Masak mengganggu. Ayo, kita duduk di sana," ajak ibu Radiah menunjuk sofa, "kamu sama siapa?" tanya Ibu Radiah lagi saat keduanya sudah duduk.
"Lifa sama Mbak Ina, Yasmine mana bu?" rasanya ia sudah tak sabar, jadilah ia menanyakan langsung.
"Di mana?" tanya balik ibu dengan alis berkerut heran.
"Iya, sudah tidak mengajar lagi 'kan?" tanya Alifa. "Jadi, pasti di rumah dong," sambungnya.
"Kamu, beneran tidak tahu?" Pertanyaan ibu semakin membuat Alifa heran. Perempuan itu lantas menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Bukannya, Yasmine bilang dia sudah izin sama Alfin. Atau, Alfin tidak cerita?" Ibu pun sama bingungnya. Ia akhirnya hanya kembali bertanya.
Ibu Radiah terlihat mengembuskan napas kasar. Lantas menunduk. "Sepertinya, keputusan Yasmine untuk menyerah tidak bisa di ganggu gugat Lif," kata ibu.
"Ibu, kenapa mengatakan itu? Ibu Yasmine di mana?" matanya mulai berkaca-kaca, saat ia pikir masalah akan selesai dan ia akan kembali bersama sang sahabat, tapi apa ini ... kenapa ibu justru mengatakan hal yang seperti itu lagi.
"Yasmine pergi, menenangkan diri. Dan dia bilang, dia sudah izin pada Alfin, katanya ... Alfin akan menuruti apapun yang dia mau, dan itulah yang dia mau. Menyendiri, me nik ma ti waktu untuk sendiri. Bahkan, ibu sama Ayah saja tidak di bolehkan ikut," begitu kata ibu.
Sungguh, Alifa masih tidak mengerti dengan apa yang ibu katakan. Ia masih terbengong-bengong, mencerna setiap kata yang sangat susah untuk ia artikan.
"Aku masih tidak mengerti, bu," ucap Alifa. "Maksud ibu dengan menenangkan diri, ibu dan ayah tidak boleh ikut, memangnya dia di mana?" sambungnya bertanya.
__ADS_1
"Dia ada di suatu tempat, yang ibu sendiri tidak tahu, yang jelas dia hanya akan menghubungi ibu dua hari sekali, saat ke pasar dan mendapat sinyal," ucap ibu dengan mengedikan bahu.
Semakin tak mengerti, air mata Alifa semakin deras. "Kenapa, ibu membiarkan Yayas pergi, Bu?"
"Sebenarnya, ibu juga tidak ingin Yayas pergi, Lif. Tapi dia memaksa, dia bahkan berlutut di depan Ayah agar di izinkan, dia bilang dia lelah, dia ingin sendirian," ucap ibu dengan air mata yang keluar saat mengingat seminggu yang lalu sang putri pamit untuk pergi kesuatu tempat, di mana ibu dan ayahnya tidak diberitahu.
Alifa semakin terdiam di tempatnya, kini harapan untuk kembali bersama mungkin benar-benar tidak ada.
"Oh, iya," ucap Ibu sembari mengusap air mata di pipinya. Ibu lantas beranjak dari duduknya dan pergi ke arah kamar. Tak lama, ia hanya mengambil sebuah amplop yang di tinggalkan Yasmine, untuk sahabatnya.
"Ini," ibu menyodorkan sebuah surat. "Ibu pikir, di balik surat ini tidak ada hal yang lain. ibu pikir, kalian akan tetap baik-baik saja, dan Yasmine akan kembali dari perginya. Jika seperti ini, ibu justru tidak tahu akan apa, ibu menjadi takut jika dia akan tinggal di tempat itu dengan waktu yang lama," sambung ibu dengan sangat sedih.
Ya, ibu Radiah tidak mengerti jika Yasmine pergi dengan hati yang masih sangat sakit. Ibu pikir, perkataan Yasmine waktu itu adalah jujur. Pasal dia yang sudah meminta izin untuk pergi dari sang suami, dan kepergian yang Yasmine bilang adalah untuk sekedar refreshing saja.
Alifa tidak mampu mendengar apa yang ibu katakan. Jujur saja, hatinya pun ikut sakit. Perasaan sesal selalu saja ada di dalam dada. Rasa bersalah kian membelenggu perasaannya. Kini, walaupun amplop yang bisa di pastikan adalah surat sudah di tangan, namun untuk membacanya ia belum mampu.
Namun, setelah ibu memeluknya juga menenangkan dirinya dengan mengusap punggungnya, ia mulai bisa membuka amplop dan membaca surat tersebut.
"Bacalah, Nak. Ibu juga ingin tahu. Semoga, dugaan kita salah. Semoga, dalam surat itu, isinya adalah kalimat yang baik, yang akan menyatukan kalian kembali. Sungguh, ibu juga tidak ingin kalian berpisah," begitu ucap ibu.
Dengan pelan, Alifa membuka amplop yang memang ter-segel. Yang bisa di pastikan kalau dialah yang baru membuka amplop tersebut.
Dengan hati yang takut, tangannya mulai membuka lipatan kertas yang berisi tulisan tangan sang sahabat. Dengan bibir yang mengatup rapat, mata yang memandang, hatinya mulai berucap membaca setiap kalimat yang ada di dalam kertas. Yang mana langsung membuatnya ....
__ADS_1