
Semua telah berlalu, kini sudah seminggu saja Alifa bangun dari koma. Perempuan cantik itu sudah mulai bisa menggendong sang anak dengan nyaman dan tenang. Bahkan dia juga sudah bisa memandikan walau masih di awasi baby sitter anaknya.
Tapi, itu semua sudah membuatnya bahagia. Rasa syukur tak lupa ia ucapkan pada Sang Maha Pemberi Hidup, dia benar-benar beruntung dapat kembali ke kedua anaknya serta keluarganya. Tentu saja juga ... suaminya.
Mengingat saat itu, saat di mana dia dan suami sedikit berdebat, ia merasa sedih. Tapi, sepertinya saat ini sang suami sudah benar-benar menyayanginya, sepertinya Alfin-nya itu sudah kembali seperti dulu, saat belum adanya kata me-madu.
Ya, tak dipungkiri saat itu, sebelum kejadian di mana dia tiba-tiba pecah ketuban, dia sempat sedikit ada sedikit perdebatan dengan sang suami. Dan saat ini, dia tersenyum saat mengingat waktu itu.
"Assalamu'alaikum," salam dari seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya membuatnya menoleh, menghilangkan bayang-bayang saat itu dari dalam pikirannya.
"Wa'alaikumsallam," jawabnya. Lantas munculah wajah cantik dari pintu yang di buka dari luar.
"Yayas," ucap Alifa.
"Aku ganggu, nggak?" tanya Yasmine seraya mendekat, pada sang sahabat yang tengah duduk menghadap jendela. Dengan dua anaknya yang berada di dalam gendongan dua orang suster.
"Ya, tidak dong ... kamu ada-ada saja," jawab Alifa dengan senyum yang merekah.
Yasmine mendekat dan duduk di sebelah sang sahabat, "aku ke sini lagi, soalnya besok aku mau balik," katanya.
__ADS_1
"Cepet banget, aku masih kangen sama kamu," ujar Alifa.
"Bisa aja kamu," Yasmine menoleh ke arah dua orang yang tengah menjaga dua bayi, dia seolah memberi isyarat agar dua orang itu pergi karena dia ingin bicara dengan sahabatnya.
Dua baby sitter itu mengangguk dan pergi dari sana. "Kenapa? Sampai nyuruh ncus pergi," ucap Alifa pada sang sahabat. "Pengin berduaan kayak dulu ya," sambung wanita itu.
"Iya," Yasmine memeluk Alifa dari samping. "Kamu yang kenapa Lif, aku merasa kamu sedang tidak baik-baik saja," tanyanya.
Alifa tersenyum, "aku tidak apa-apa, Yas."
"Kamu nggak bisa bohong sama aku, Lif," ucap Yasmine. "Aku mau pergi, pulang ke rumah aku, dan ke sini nya bakal lama lagi, entah seminggu, dua minggu, atau bisa jadi bulan-bulanan nggak ke rumah ibu," sambung wanita itu.
Alifa tertawa, "sekarang sudah tidak ada kata bucin lagi, Yas," katanya. "Setelah kamu pergi dari kami, aku dan suamiku berubah. Kita masih suami-istri, tapi rasa di dalamnya sudah hambar. Hanya sekedar menjalankan kewajiban saja."
Netra Yasmine berkaca-kaca, menatap sedih wajah cantik sang sahabat.
"Aku tahu, ini tidak boleh diceritakan kesiapapun. Tapi entah kenapa padamu aku begitu percaya," sambung Alifa.
"Maaf kalau ternyata setelah aku pergi, kalian bukan semakin manis. Jujur saja Lif, aku nggak mau jadi penghalang bahagiamu dengannya, jadi aku milih mundur. Sebelum aku egois, dan meminta dirinya hanya untukku saja," kata Yasmine dengan jujur.
__ADS_1
Alifa tersenyum, "jangankan kamu, Yas. Aku saja yang membawa kamu ke dalam rumah kita, merasakan yang sama."
"Untuk itulah aku memilih pergi, Lif," ucap Yasmine.
"Tapi aku sedih Yas, aku merasa gagal membawamu ke dalam bahtera kita, padahal yang aku inginkan kita tetap bertiga selamanya__"
"Tapi pada kenyataannya, semua tidak mudah 'kan?" tanya Yasmine dengan memotong kalimat sang sahabat. Alifa mengangguk setuju.
"Maafkan aku, Yas," ucap Alifa.
Yasmine menggeleng, "enggak. Maafkan aku, karena aku, kamu jadi seperti ini. Terimakasih juga, karena kamu, aku jadi memiliki Taqa," katanya dengan sedikit tertawa.
"Iya, kamu memiliki duplikatnya," ucap Alifa dengan tawa yang terdengar terpaksa.
"Saat itu, Yas, Setelah tujuh tahun lamanya, setelah kamu pergi, aku baru tahu tentang rasa yang begitu besar yang dia miliki, dan itu hanya untukmu," kata Alifa.
Yasmine diam ditempatnya.
"Saat itu ...," Alifa menerawang ke saat-saat itu.
__ADS_1