
Semua terlihat begitu indah, bibir semua orang tersenyum lebar. Dari ujung kiri Sofa, ada Abi yang bersebelahan dengan papa Zaenal, lalu di sebelahnya lagi ada ayah dan ibu, lantas mama Widia, Yasmine dan Umi. Di bawah, di atas karpet bulu yang lembut ada Alfin, Alifa dan mbak Fifi. Semua larut dalam obrolan seru.
Sampai adzan magrib mulai terdengar, mendiamkan semua orang. Lantas para manusia itupun shalat berjamaah di ruang tengah yang di sulap agar cukup untuk semuanya.
Dengan di imami shalat oleh Abi, semua shalat dengan khusyuk. Di barisan depan, tepat di belakang imam ada, Alfin, ayah Ilyas dan papa Zaenal. Lantas di belakang, di barisan ke dua ada umi, mama dan ibu dan di barisan ke tiga ada Yasmine, Alifa dan mbak Fifi.
Rasanya sangat indah, saat bersama-sama menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Hati Yasmine menghangat, kebahagian ini benar-benar membuatnya tak henti-henti untuk mengucap syukur. Bahkan seusai doa ia lantas menggandeng lengan Alifa dan memeluknya.
Alifa yang tengah menengadahkan tangannya ke atas lantas menoleh dan tersenyum saat melihat sang sahabat tengah tersenyum lebar padanya. Perempuan itu lantas mengusap dua telapak tangannya yang menyatu, lalu berbisik di telinga Yasmine. "Sudah do'a, belum?"
Yasmine mengangguk, "aku se bahagia ini karena kamu," ucapnya.
"Kita semua bahagia karena kamu," kata Alifa.
"Jadi, sebenarnya bahagia ini karena apa?" tanya Yasmine lagi, masih dengan bisik-bisik.
"Karena kita mensyukuri segala yang ada di dalam hidup kita. Saat kita bersyukur, seperti apapun kita, pasti akan merasa bahagia," jawab Alifa.
"Kamu, nginap ya di sini? Aku pengin tidur sama kamu," Yasmine memohon.
Alifa tersenyum, "tidak bisa. Nanti kita akan tidur di mana? Nanti ya, kalau kamu sudah mau nginap lagi di rumah kita satu lagi."
Yasmine melepas pelukannya, ia menatap sang sahabat. Ia lalu menggeleng. "Bukan, itu bukan rumah kita. Rumah kamu," ucapnya tersenyum.
"Jadi, apa ini hanya rumah kamu?" tanya balik Alifa.
Yasmine mengangguk dengan senyum yang lebar. "Iya," jawabnya yang lantas tertawa.
Tawanya itu mengundang tiga orang di depannya menoleh dengan dahi yang berkerut. Sedangkan mbak Fifi yang mengetahui hanya bisa tersenyum lebar.
"Yang lain lagi ber-do'a, kenapa kalian asyik ngobrol?" tanya mama Widia dengan heran.
Yasmine meringis, "maaf."
Sedangkan Alifa hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
...πππ...
Seusai shalat berjamaah, semua lantas makan bersama. Tentu saja masih di atas ruang keluarga, karena ruang makan yang tidak cukup untuk semua. Semua masakan sudah mbak Fifi siapkan, tentu saja di bantu Alifa dan Ibu. Maklum di antara para ibu-ibu, yang paling mudah untuk bergerak adalah ibu Radiah.
Alifa dengan sigap mengambilkan makanan untuk sang suami, bersamaan dengan Yasmine. Padahal, biasanya istri muda dari Alfin tidak seperti itu. Namun, karena Yasmine tahu kalau sahabat nya akan mengambilkan untuk sang suami, ia akhirnya mengurungkan niatnya.
"Sayang ... boleh tidak, yang kamu ambil untuk Ayah?" tanya ayah Ilyas saat sang putri sudah duduk kembali di sisi sang ibu.
"Boleh," jawab Yasmine. Ia tahu pasti kalau sang Ayah jelas memperhatikan dirinya. Dengan senyum lebar, akhirnya nasi yang sudah ia ambil, ia berikan untuk sang ayah tercinta.
"Mmm, mau dong di ambilkan juga," ucap papa Zaenal.
Yasmine tertawa. "Boleh, Abi mau sekalian tidak?" tanya perempuan itu. Abi Sofyan mengangguk dan tersenyum.
"Wah, sudah saatnya kita santai-santai Mi," ucap Ibu Radiah dengan menepuk paha sang besan.
"Betul sekali, sekarang sudah ada yang melayani para bapak-bapak, jadi kita terima duduk manis," ucap umi. Semua orang tertawa.
Begitupun Alifa dan Alfin yang duduk bersebelahan dengan piring di tangan masing-masing. Lelaki itu tak paham akan sang istri muda, namun para lelaki lainlah yang memahami.
Baik sekali bukan keluarga besar ini.
"Oh, ya. Bagaimana kalau nanti acara empat bulanannya di rumah Abi?" tanya Abi saat dirinya sudah selesai makan.
"Alfin sih, terserah Ayas Bi," ucapnya.
Yasmine mengerutkan dahi, selama ini ia memang sering di panggil 'Ayang Ayas,' tapi baru kali ini, dia merasa tidak asing untuk panggilan itu. Perempuan itu malah terbengong di tempatnya, memikirkan panggilan siapa kira-kira. Yang pernah memanggilnya dengan sebutan 'Ayas.'
"Yas, kok malah bengong."
Suara Alifa mengagetkan dirinya. Ia lantas menaikan alis, "apa?" tanyanya bingung.
Alifa tersenyum, "bagaimana, kalau empat bulanan kehamilan kamu. Di lakukan di rumah Abi dan Umi?"
"Oh, boleh-boleh. Terserah di mana saja, yang penting doanya 'kan?" tanyanya tak terlalu perduli. Jujur saja, Yasmine masih memikirkan siapa yang pernah memanggilnya seperti itu, dan kenapa dia baru ingat ada seseorang yang memanggilnya dengan panggilan itu.
__ADS_1
Alfin yang melihat itu tentu heran, namun untuk bertanya tidak mungkin sekarang.
"Apa kamu keberatan, Nak? Kenapa ekspresi wajahmu terlihat bingung," tanya Umi.
"Hah, bingung?" tanya balik Yasmine. Ia lalu tersenyum lebar. "Itu, Mi. Ini 'kan baru sepuluh minggu, aku sedang menghitungnya di dalam hati, kira-kira berapa minggu lagi, gitu," ucapnya sembari cengengesan.
Semua orang geleng-geleng kepala dengan tingkah Yasmine, pun dengan Alifa yang ada di depan Yasmine.
Hingga akhirnya acara makan malam selesai, acara ngobrol pun selesai lantaran waktu yang susah malam. Semua orang pamit, dan tuan rumah mengantar sampai depan rumah.
Pertama adalah Umi dan Abi, lantas Ayah dan Ibu. Lalu di susul Mama, Papa dan Alifa.
Kedua manusia itu masih di teras memperhatikan mobil yang pergi satu persatu dari halaman rumah. Yasmine tersenyum, setelahnya manyun lantaran sepi kembali.
"Kenapa?" tanya sang suami yang berdiri di sebelahnya.
"Sepi, padahal kalau kumpul kayak gini ramai sekali ya, makanan yang kita makan lebih terasa nikmat," jawab Yasmine.
Alfin mengangguk setuju, lalu tangannya mengusap kepala Yasmine yang tertutup jilbab. "Sabar, nanti akan ramai jika sudah saatnya."
Yasmine mengangguk.
"Aku, masukin mobil dulu ya," ucapnya pada Yasmine.
"Mau ikut," kata Yasmine dengan manjanya.
Alfin tentu tersenyum lebar, "boleh, asal kasih aku hadiah," katanya sembari menaik-turunkan alis.
Bibir Yasmine mengerucut, namun setelahnya mengangguk. "Iya, aku kasih hadiah yang istimewa."
"Bener ya?" tanya Alfin memastikan, ia mencubit hidung sang istri.
"Iya. Buruan ayo," Yasmine menarik lengan Alfin. "Tapi, mau muter-muter dulu," sambung Yasmine.
Alfin hanya bisa pasrah, ia pun menuruti keinginan Yasmine. Sebelum memasukan mobil ia membawa kendaraannya melaju dengan kecepatan sedang memutari komplek, sampai akhirnya ibu muda itu tertidur. Yang pada kenyataannya, tidak ada hadiah istimewa. Yang ada adalah, menggendong tubuh Yasmine dari depan ke kamar.
__ADS_1