
Semua orang diam membisu, sedang seseorang yang mengucap salam itu lantas masuk mendekat ke arah semua orang duduk.
Ayah Ilyas dan Yahya berdiri menyambut seseorang itu. "Wa'alaikumsallam," jawab Yahya.
Seseorang yang datang itu adalah Alfin, ia sebenarnya ke sana karena ia mengambil berkas yang tertinggal di rumah Yasmine. Namun, saat sampai di sana dia tidak mendapati sang istri dan hanya ada mbak Fifi saja.
Tentu saja ia penasaran, kenapa sang istri tidak pulang ke rumahnya. Kenapa tetap di rumah sang ibu. Awalnya ia khawatir, takutnya Yasmine sakit atau apa. Tapi ternyata, saat ia datang ke rumah sang mertua, ia justru harus mendengar perkataan sang ayah mertua yang membuatnya heran dan bingung. Apa maksudnya, tanyanya dalam hati.
"Apa kabar, Yah, Mas?" tanya Alfin sembari menyalami dua lelaki itu.
"Baik, alhamdulilah. Kamu gimana?" tanya balik ayah.
"Alhamdulillah, baik juga," jawab Alfin. Ia lantas menyalami ibu mertua dan menyalami istri ke dua. Dengan Zahra tentu saja tidak, karena bukan mahrom.
Semua orang lantas bingung. Ibu dan Ayah saling menoleh, seolah memberitahukan kekhawatiran mereka akan Alfin yang mendengar apa yang tadi di ucapkan ayah.
"Kamu, masih di sini?" tanya Alfin pada Yasmine yang duduk di sebelahnya.
Yasmine mengangguk, dia hanya melihat sekilas lantas menunduk. Tentu saja itu semua semakin membuat Alfin heran. Tidak biasanya sang istri diam seperti ini.
Zahra lantas beranjak dari duduknya, ia berinisiatif untuk mengambilkan minum untuk suami dari adik iparnya itu.
Semetara itu, lima orang yang ada di sana hanya bisa saling pandang. Lalu, Alfin yang begitu penasaran pun lantas bertanya pada ayah mertuanya.
"Maaf Yah, sebelumnya," ucap Alfin. "Kenapa, tadi Ayah mengatakan jika Yasmine tidak boleh takut, kalau harus membesarkan anak sendirian. Maksudnya apa, Yah?" sambung nya benar-benar penasaran.
Ayah Ilyas tersenyum, ia menatap sang menantu. "Maaf, Al. Jika nanti kamu harus mendengar keinginnan yang tidak baik. Sebaiknya, sekarang kalian bicarakan dulu berdua," jawab Ayah.
Alfin semakin mengerutkan kening, ia lantas menoleh ke arah Yasmine. "Ada, apa Yang?" tanyanya.
"Sebaiknya bicarakan ini di kamar, Yas," kata Ibu.
__ADS_1
Yasmine menarik napas lantas mengembuskan nya kesal. Lalu ia mengangguk dan beranjak, "ayo," ajaknya pada sang suami.
Tanpa menunggu lama, Alfin pun mengikuti langkah sang istri ke kamarnya. Bahkan saking penasarannya, lelaki itu sampai lupa untuk sekedar pamit pada tiga orang yang masih duduk di sofa.
Zahra datang membawa minum, namun ternyata sangat tamu sudah tak ada di sana. Akhirnya ia pun duduk di sebelah sang suami sembari menerka-nerka apa yang terjadi di antara sepasang suami-istri yang tengah berbicara. Sebagai seorang kakak ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keduanya di dalam hati.
...πππππ...
Sementara itu di dalam kamar, sepasang suami-istri itu tengah saling diam. Yang satu berdiri di dekat jendela dan yang satunya lagi duduk di ujung ranjang, menghadap punggung seseorang itu dengan heran.
"Tolong katakan sama aku, Yang. Apa yang di maksud dengan perkataan Ayah," ucap Alfin memecah keheningan.
"Maaf, Al," ucap Yasmine yang masih memunggungi sang suami. "Aku ingin menyerah," sambungnya pelan.
"Ma-maksunya?" tanya Alfin tak mengerti. Ia lantas beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sang istri. Ia juga membalik badan Yasmine agar menghadap ke arahnya.
"Jelaskan sama aku, Ay?" tanya Alfin lagi. Ia membawa dagu Yasmine agar mendongak, menatapnya.
Alfin tersenyum miring, ia bahkan tertawa sumbang. "Kamu, bercanda? Kamu mau kasih kejutan?" tanyanya mencoba untuk tidak mempercayai apa yang di ungkapkan sang istri.
"Aku tidak lagi ulang tahun," sambung Alfin.
"Aku serius. Tolong lepaskan aku," kata Yasmine lagi. Ia bahkan melepaskan cincin yang di dalamnya ada tiga nama itu. "Aku nggak bisa berbagi," begitu ucapnya sembari menaruh cincin di telapak tangan Alfin.
"Kamu tidak boleh bercanda seperti ini," Alfin menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu kenapa?" Alfin kembali memasukan cincin ke jari Yasmine dengan paksaan. Lelaki itu bahkan mengeluarkan air mata.
"Kamu kenapa? Ayolah cerita sama aku, aku ada salah?" Pria itu bertanya kembali sembari menggenggam tangan sang istri. Menatap wajah Yasmine yang bahkan terlihat datar padanya.
"Aku nggak bisa berbagi," jawab Yasmine serius. "Aku sudah bilang 'kan, alasannya. Sekarang talak aku sekarang juga," sambung Yasmine menatap wajah sedih sang suami.
"Tidak, tidak akan. Kamu kenapa? Ayolah ... bicara sama aku, ada apa? Aku yakin bukan itu alasannya," kata Alfin masih sabar. Walaupun jujur ia begitu kesal.
__ADS_1
Saat ia tengah rindu pada istrinya, tapi begitu bertemu ia malah di suruh untuk menalaknya. Lelaki itu tengah pusing dengan sang istri pertama yang cemburu, sekarang dengan istri ke dua nya. Ini benar-benar membuat lelaki itu s e t r e s.
"Alasannya, karena aku nggak bisa berbagi Al. Aku nggak mau sama kamu. Kita berdua bersatu karena terpaksa, jadi kita tidak akan bisa bersama selamanya!" teriak Yasmine yang kesal setengah m a t i.
Hatinya sakit saat mengatakan itu, tapi ... ini semua harus ia lakukan. Karena ia tak ingin terbelenggu dalam rasa cemburu dan menyakiti.
"Ko n y o l," ucap Alfin dengan setengah tertawa. Bahkan tawanya terdengar sangat menyedihkan karena air mata yang keluar menemani. Ia lantas memunggungi sang istri. Menjambak kasar rambutnya.
"Ada apa dengan kalian?" tanyanya sedih, ia bahkan mengusap wajahnya dengan kasar.
Sementara Yasmine yang berdiri di belakangnya hanya menatap punggung Alfin dengan air mata yang menetes. Namun, ia buru-buru menghapusnya. Ia tidka mau kalau sampai Alfin melihatnya.
"Alifa meminta aku memilih," ucap Alfin. "Sekarang, kamu meminta pergi dariku, apa sebenarnya salahku. Apakah selama ini aku kurang adil?" sambungnya pelan.
"Kurang," jawab Yasmine. Alfin lantas menoleh.
"Harusnya seperti apa, Yas? Kasih tahu aku," tanya Alfin. Percayalah saat ini, wajah Alfin penuh dnegan air mata.
"Kamu tidak akan bisa adil, Al," jawab Yasmine dengan tersenyum miring. "Karena baik aku, maupun Alifa tidak ada yang mau berbagi. Sekarang tolong talak aku," katanya sembari memohon dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Tolong, ceraikan aku sekarang juga," pinta Yasmine lagi.
"Tidak," jawab Alfin.
"Please, aku nggak bisa sama kamu," kata Yasmine lagi.
"Tidak akan Ayang!" teriak Alfin. Lelaki itu lantas berlutut dan memeluk sang istri, ia menenggelamkan wajahnya di perut Yasmine. Perut yang ada anaknya di sana.
"Aku tidak bisa pisah dari kalian," ucap Alfin pilu.
"Aku tidak bisa milih di antara kalian, aku sudah pernah bilang bukan padamu," sambung pria yang kini tengah bersedih karena pertanyaan dan pemintaan kedua istrinya.
__ADS_1