Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 155 # Bonus 2


__ADS_3

Rasanya ia benar-benar bahagia, dari saat melihat ekspresi bahagia di wajah Arya dan Taqa, kini dia harus bahagia karena sang suami yang sangat antusias akan kehamilannya. Sungguh, wanita cantik yang saat ini tengah terbaring lantaran perutnya yang tengah tertempel sebuah alat yang tertuju pada layar yang menampilkan janinnya itu hanya bisa tersenyum tanpa bisa menutup kembali bibirnya.


Bagaimana tidak, saat sang suami dengan sangat antusias bertanya tentang kehamilan, tentang apa saja yang boleh dan tidak dilakukan dirinya selama hamil, dan apa saja yang harus para suami lakukan saat istrinya hamil.


Rasanya, Yasmine seperti baru hamil. Maklum saja, saat hamil pertama ia sampai menginginkan seperti ini, tapi sekarang, tanpa ia minta, suaminya langsung saja memberikan segala yang ia mau. Yaitu, berupa perhatian penuh.


Dokter tentu saja menjawab dengan antusias pertanyaan Arya itu, pun sama dengan anak tampan yang ikut memeriksakan keadaan calon adiknya itu. Dia juga sangat antusias, bahkan anak tampan itu juga turut bertanya bagaimana caranya menjadi kakak yang baik.


Ah, sekarang ... apa yang Yasmine minta, tidak ada. Selain kesehatan untuknya, bayinya dan dua lelaki kesayangannya itu. Ia selalu berdoa agar lebih lama lagi bersama mereka, sampai ada rasa untuk sudah sedikit puas.


Seusai memeriksakan kandungan, barulah keduanya mengantar Taqa, lantas Yasmine pun pergi mengajar. Awalnya, tidak di perbolehkan, namun karena Yasmine merasa baik-baik saja, alhasil Arya mengizinkan dengan catatan ponsel tidak boleh sampai lowbet, agar saat Arya mengirim pesan bisa langsung mendapat jawaban dari istri tercintanya.


"Mas, aku nggak papa. Kamu tahu 'kan, kalau aku wanita kuat," begitu bujuk Yasmine tadi, saat belum diizinkan untuk mengajar.


"Ah, rasanya aku ingin mengurung dirimu di kamar. Tidak akan aku biarkan kamu lelah. Pokoknya, kalau aku belum jemput, kamu jangan pulang dulu ya," ucap Arya dengan pasrahnya.

__ADS_1


Yasmine tentu saja menyetujui, lantas setelahnya, Arya mencium puncak kepala Yasmine dan perut ratanya. "Jangan rewel sama Ibu, ya Nak. Kalau pengin mual biar ayah aja," begitu kata Arya.


Karena memang benar, hamil ke dua saat inipun. Yasmine tak merasakan apapun, dan yang merasakan morning sickness adalah Arya. Ah, sungguh nikmat sekali rasanya jadi dirinya.


...----------------...


Kabar bahagia itu tentu saja langsung menyebar ke keluarga besar, bahkan sampai ke telinga Alfin dan Alifa. Keduanya tentu saja bahagia, apalagi Alifa, ia sangat bahagia akan itu.


"Mas, Yasmine hamil," begitu katanya pada sang suami, saat baru saja ibu Radiah memberikannya kabar.


"Apa, kamu bahagia, Mas?" tanya Alifa lagi yang saat ini tengah menyusui Lisha.


Alfin menoleh ke arah sang istri, lantas lelaki itupun tersenyum lebar. "Aku bahagia, kenapa tidak?" tanya balik dirinya.


"Jangan lagi memikirkan hal yang tidak mungkin aku rasakan, Sayang. Aku sudah berjanji padamu bukan, aku akan kembali menjadi Alfin yang dulu," sambung lelaki itu.

__ADS_1


Alifa tersenyum, lantas mengangguk. "Aku tahu, aku hanya bertanya. Mungkin saja, masih ada sedikit serpihan di sana."


"Ada," jawab Alfin.


"Serpihan rasa sesal dan seandainya. Menyesal karena aku terlalu menuruti apa katamu, sampai membuatnya terluka karena kesalahanku," sambung pria itu. "Tapi, sekarang aku bahagia, saat dia menemukan lelaki yang sangat baik, yang teramat sangat menyayanginya juga Taqa," kata Alfin lagi.


Alifa mengangguk setuju. "Satu doaku yang belum dikabulkan sama Allaah, Mas," katanya.


"Apa?"


"Kehamilan untuk Kak Zahra dan Kak Yahya, semoga keduanya segera mendapatkan keturunan ya, Mas. Aku tahu bagaimana rasanya menikah tapi lama tak hamil, jadi aku selalu berdoa semoga orang lain tak merasakan seperti apa yang aku rasakan, termasuk Kak Zahra dan Kak Yahya," ucap Alifa jujur.


"Aamiin, kita doakan saja ya. Semoga mereka juga segera mendapatkan amanah, agar cucu Pak Ilyas semakin banyak," kata Alfin seraya menggendong anaknya mendekat ke arah sang istri.


Setelahnya di tidurkan lah bayi Lisi ke atas ranjang, karena setiap digendong dirinya pasti saja tertidur bayi perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2