Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 093 # Membujuk 2


__ADS_3

"Apa kamu tidak tahu, kalau dia pun selalu ingin melihat antara aku dan kamu bahagia. Maaf, jika sedang bersamamu aku mengatakan tentang dia. Tapi, ini hanya pemberitahuan, bahwa wanita yang lebih dulu aku nikahi itu juga selalu memikirkan-mu."


Yasmine diam, ia kini tengah berdiri memunggungi sang suami yang duduk di ranjang. Ia masih menyilang tangan, tak menjawab apapun. Ya, jelas ia pun tahu itu. Tapi, jika pada kenyataannya sang sahabat juga merasa takut akan kehadirannya, apa tidak boleh jika dia menginginkan untuk mengalah. Toh, sudah lah Alifa membantunya dan sahabatnya itu audah mampu mengingatkan sang suami untuk menunaikan janji masa kecilnya. Walupun harus berujung seperti ini.


"Ay, kalian adalah wanita terbaik. Kebaikan kalian membuatku sangat beruntung karena memiliki kalian. Benar kata Umi, aku yang salah. Karena aku tak bisa membagi perhatian secara adil. Terlebih sekarang kamu hamil, dan kata Umi, wanita hamil membutuhkan perhatian yang lebih. Maaf Ay," sambung pria yang kini menatap punggung wanita hamil itu.


Memang, Umi mengatakan segalanya pada dia. Tentang semua yang di curhat-kan oleh Yasmine. Dari itulah ia tahu kesalahannya.


"Jika kamu punya permintaan agar bisa memberi kesempatan kedua untukku, aku akan mengabulkannya, asal itu bukan tentang kamu pergi atau aku pergi. Kamu boleh minta apapun asal tidak menjadikan kita terpisah."


Lelaki itu masih bicara, ia berharap dengan mengatakan ini, ia bisa kembali mengambil hati Yasmine agar mau kembali dengannya. "Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh protes atau apapun. Asal bukan menjauh, tolong ... aku tidak bisa mengabulkan jika permintaan-mu masih itu."


"Kamu tahu," ucap Yasmine. Alfin menggeleng, padahal jelas-jelas sang istri tidak melihatnya lantaran memunggunginya.


"Awalnya, aku ingin selalu menjauh. Karena aku takut jika sampai aku jatuh ke dalam cintamu. Tapi, nyatanya ... saat baru berteman saja, aku sudah sakit hati saat kamu mengatakan pada seseorang bahwa aku ini adalah teman dari istrimu," sambung Yasmine. Ia sedang ingin menunjukan kesalahan sang suami, karena untuk di ajak pisah lelaki itu tetap tidak mau.


"Setelah rasa itu, hatiku kembali sakit saat kamu melakukan hal dengan dia, saat kamu belum bisa melakukan itu padaku," kata wanita hamil itu lagi.


"Lalu, aku kembali sakit saat kamu tak ada di saat aku butuh. Dan saat itu, rasa yang awalnya samar semakin terlihat. Bahkan terasa, jatuh ke dalam jurang, dan sampai ke ujung hati. Untuk kembali ke atas, sangatlah susah."


Alfin masih diam, ia mendengarkan dengan baik apa yang di katakan sang istri ke-dua. Tentu saja dengan hati yang hancur. Se-j a h a t itu dia padanya. Sampai hanya mendengar saja ia ikut merasakan sakitnya.


"Apa kamu tahu, aku sedih sekali. Saat ada seseorang yang mendatangiku. Lumayan ganteng padahal, lebih ganteng dari kamu. Sayangnya aku sudah menjadi istri kamu, coba saja aku masih lajang, sudah mau saja aku sama dia," ucap Yasmine. Ia tersenyum miring. "Dia tak percaya kalau aku adalah wanita bersuami, karena aku tidak memiliki cincin pernikahan. Dan saat itu, aku sedih sekali karena ingatanku kembali pada masa-masa itu, masa-masa di mana kamu tidak mau denganku," sambung Yasmine.

__ADS_1


"Bukan tidak, tapi belum. Dan saat itupun kita satu sama Ay," lelaki itu menjeda ucapan sang istri, yang mana langsung membuat Yasmine membalikan badannya.


"Iya, kamu benar Al," ucap Yasmine. "Kita tidak menginginkan satu sama lain, tapi ... kenapa saat itu kamu tidak menuruti keinginanku untuk kita berpisah saja?" sambung wanita hamil itu.


"Tolong, Ay. Jangan ungkit itu lagi. Kamu boleh mengatakan apapun, tapi untuk yang saat ini, bukan untuk yang lalu. Biarkan semua yang lalu itu pergi bersama luka, sekarang ... mari kita sambung hari berikutnya dengan bahagia. Beritahu aku, apa yang menjadi bahagia untukmu," kata Alfin.


"Keinginan untuk bahagiaku hanya itu," kata Yasmine dengan menatap lamat-lamat wajah sang suami yang terlihat sendu. "Aku nggak punya keinginan lain untuk saat ini," sambungnya.


Alfin mendesah kecewa, ia hanya mampu menatap wajah sang istri yang terlihat datar. Ia benar-benar bingung, apa sebenarnya yang ada di pikiran istri mudanya itu, sampai selalu saja meminta pisah darinya.


Hening lantas mengambil alih, baik Alfin maupun Yasmine sama-sama diam. Saling melihat bayangan di bola mata orang yang berdiri di depan mereka. Hingga kedatangan mbak Fifi mengagetkan keduanya.


"Maaf, Mbak Yas. Saya pikir__" ucap mbak Fifi yang akan berlalu setelah melihat dua manusia tengah saling berhadapan.


"Bawa masuk aja, Mbak Fi. Aku lapar," kata Yasmine. Tadi dia memang menyuruh mbak kesayangannya itu untuk membuatkannya sop makaroni.


"Tidak, terimakasih," jawab Alfin sembari menatap ke arah lain.


"Silakan Mbak Yas," mbak Fifi tersenyum dan berlalu pergi dari kamar Yasmine setelah wanita hamil itu tersenyum lebar padanya.


Setelah pintu di tutup kembali oleh Mbak Fifi dari luar, Yasmine lantas duduk di sofa dan mulai makan makanan yang tengah ia inginkan itu. Tal perduli pada lelaki yang kini masih berdiri.


"Kalau kamu mau makan di bawah aja, aku lagi pengin sendiri," kata Yasmine begitu akan menyuapkan sendok ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Alfin tersenyum. "Tidak, aku tidak lapar. Aku mau di sini." Lelaki ia mendekat dan duduk di depan sang istri.


Memperhatikan wanita hamil yang kini tengah makan walaupun tak terlihat lahap, mungkin rasa sesak di dalam dadanya itulah penyebabnya.


"Di makan semuanya, Ay. Biar anak kita sehat di sana," kata Alfin, saat hening kembali mengambil alih. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk.


Yasmine lantas mengehentikan aktivitasnya, ia lalu kembali menatap sang suami.


"Kamu beneran mau membiarkan aku bahagia bukan?" tanyanya.


Alfin mengangguk, "iya. Asal bukan meminta aku pisah dari kamu.


"Kalau aku mau waktu buat sendiri, kamu mau berikan?" tanya Yasmine lagi.


"Iya, asal tidak lama. Dan kamu mau kembali padaku," jawab Alfin.


"Baik, sekarang kamu temani lagi Lifa. Aku mau sendirian. Jangan dulu nemuin aku, kalau aku belum menemuimu. Jangan pernah hubungi aku, kalau aku belum menghubungimu. Apa kamu bisa memberikannya?" tanya wanita itu serius.


"Dan kamu harus janji, kalau kamu harus kembali memperlakukan Alifa dengan sangat baik, anggap aku tidak ada di antara kalian," sambung Yasmine.


Alfin terdiam. Jujur saja ini jelas akan berat baginya. Tapi ....


"Kalau kamu mau, kamu boleh pulang sekarang juga. Jika tidka mau, kamu boleh tetap di sini, tapi aku akan tetap kukuh dengan pendirian-ku."

__ADS_1


"Apa sebelum pergi aku pergi, aku boleh menciumu, mencium anak kita?" tanya Alfin dengan sedih. Bahkan air matanya kembali menetes.


Dengan perasaan yang sama, Yasmine menganggukkan kepalanya.


__ADS_2