
(Perlahan Lepaskanmu : Judul dari lagu yang di bawakan Raissa Ramadhani)
Kini, kamarnya sudah kosong dari gambar-gambar dia dengan seseorang yang dulu pernah bersemayam di dalam hati. Ponsel pun sudah bebas dari foto-foto lucu dan kenangan manis serta pahit.
Bibirnya tersenyum memandangi isi kamar yang kembali seperti saat dulu, saat dirinya belum mengenal akan cinta yang nyata.
Kendati kamar itu hanya jadi tempat singgah, karena kini dia tak lagi tinggal di sana, namun, tentu saja ia tak ingin nanti bermasalah jika takdirnya menikah dengan seseorang yang datang dan memaksa masuk kedalam hatinya, walaupun pintunya susah untuk terbuka.
Susah payah ia memaksa agar penjaga hati bisa dengan ikhlas membuka pintu itu, yang akhirnya kini perlahan rasa itu muncul. Bersamaan dengan rasa kagum dan harapan baru.
"Kamu tahu, aku pernah berada di harapan besar untuk kembali kepadamu. Pernah berharap kalau kau akan meluluhkan keras kepalaku," ucapnya pada seseorang yang entah sedang apa, bahkan di mana. Mungkin tengah ngobrol dengan bahagianya pada anak barunya yang belum lahir.
"Namun nyatanya ... tidak ada sesuatu yang mampu menggetarkan hatiku agar bisa kembali padamu. Jadi, bukan salahku 'kan, jika kini aku membuka hati untuk seseorang yang begitu perhatian. Bukan salahku jika kini aku berpaling darimu pada dirinya, karena pada kenyataannya, dia mampu membuatku melupakan rasa rinduku padamu, masa laluku."
Entah apa yang dia rasakan, yang jelas ada rasa ingin mengatakan segala sesuatu yang selalu membelenggu dalam dadanya. Jujur saja, untuk melupakan rasa cinta yang begitu dalam sangatlah susah. Namun, apalah daya cinta saja tidak cukup untuk membuat hati tetap pada titik bahagia.
Wanita itu sangat berharap, dengan menerima lamaran Arya dan mau menikah dengan pria itu, ia bisa hidup dengan aman dan damai. Membawa kebahagiaan juga untuk sang anak yang selama ini sangat merindukan sosok seorang ayah.
"Semoga nanti dia bisa menjadi ayah yang baik, yang bisa mendidik aku dan Taqa dengan benar, dan menuntun ku menuju jalan yang diridoi oleh -'Nya," ucap wanita itu lagi.
__ADS_1
Bibirnya entah kenapa tersenyum bahagia, saat mengingat kejadian di mana Arya mengulurkan tangan, dan seseorang itu hanya diam. "Apa kamu kaget?" tanyanya pada angin yang berembus. "Aku nggak mau kayak gini, sebenarnya sama Taqa saja aku sudah nyaman, tapi ... dia mampu membuatku memilihnya," sambung Yasmine.
"Tolong ... cintai sahabat tersayangku, jangan buat dia bersedih karena sikapmu," katanya lagi.
Lantas cukup sudah ia berbicara sendiri pada keadaan dan kenyataan. Saatnya ia mengistirahatkan pikiran dan hati, agar besok bisa kembali menjalani hari dengan hati yang bahagia, selagi masih ada kesempatan untuk bernapas.
...----------------...
Bibirnya tersenyum mendapati sang anak yang tengah sarapan dengan seseorang itu. Ia masih merasa aneh dan bertanya-tanya, benarkah? Tapi, ini nyata, bukan mimpi.
"Kenapa?" dia menoleh saat ada pertanyaan yang sangat lirih, terdengar berbisik di telinganya. Ternyata dia adalah sang kakak ipar.
"Lucu aja, lihat Taqa sama Mas Arya yang deket banget," jawabnya kembali melihat interaksi dua lelaki beda usia.
"Iya, Kak. Nanti begitu pulang, aku dan ayah juga ibu akan bicarakan segalanya," kata Yasmine yang masih setia pada apa yang ia lihat.
"Kamu mau pulang nanti?" tanya Zahra lagi. Yasmine lantas menjawab dengan anggukan.
"Tapi, ibu bilang kamu dan Taqa di suruh nemuin Umi dulu, soalnya beliau lagi sakit," kata Zahra.
__ADS_1
Yasmine diam, lalu mengangguk. "Iya, nanti aku ke sana dulu sama Taqa. Aku mau kenalin anakku dulu sama mereka, selama ini 'kan mereka hanya melihat lewat poto."
Akhirnya benar saja, Yasmine dan Taqa pergi ke rumah Abi Sofyan, tentu saja Arya ikut. Tapi kali ini, mereka pergi dengan satu mobil, dengan wanita itu duduk di belakang.
Dua pria di depannya benar-benar asyik bercerita, sedangkan dirinya hanya tersenyum sembari mendengarkan. Tak pernah menyangka akan berada di keadaan seperti sekarang ini, seperti mimpi. Bisa satu mobil dengan dua orang pria yang ... ada di dalam dada.
"Ke mana lagi ini, Mbak Yas?" pertanyaan Arya membuat Yasmine sedikit terkejut.
"Oh, ya. Sudah mau sampai ternyata, pertigaan depan belok kiri ya, Mas," jawab Yasmine.
Arya tersenyum sembari mengangguk, "baik, Bu," jawabnya bercanda.
"Makasih, Yah," Yasmine tak mau kalah.
Arya sedikit tertawa, "padahal yang saya maksud, Ibu majikan loh, Mbak," katanya.
Yasmine melongo, namun setelahnya dia malah melengos ke arah luar jendela. ia benar-benar malu. Arya tersenyum senang berhasil menggoda calon istrinya, yang ia yakin saat ini wajahnya jelas sudah semerah tomat.
Hingga akhirnya sampailah mobil yang Arya bawa tiba di depan rumah Abi Sofyan. Yasmine dan kedua lelaki itu turun dan melangkahkan kakinya ke teras rumah. Sampai di mana ada yang membukakan pintu dan mempersilahkan untuk ketiga manusia itu masuk, yaitu asisten rumah tangga di rumah Umi.
__ADS_1
Mbak yang kerja mengatakan jika Abi tengah menebus obat untuk Umi diapotek dengan Alfin, dan Umi sendirian. Akhirnya selagi Arya duduk, dia lantas masuk ke kamar Umi. Tak lupa juga dengan Taqa sang putra.
Begitu pintu terbuka, ia langsung di sambut senyuman manis dan lambaian tangan. "Sini, Nak," kata Umi, air matanya berderai melihat cucu pertamanya.