
"Sayang, kamu mau sarapan apa? Kata dokter kalau belum bisa makan nasi, bisa makan biskuit atau buah." tanya ibu pada sang putri.
Pagi ini di ruang makan. Sudah duduk ayah, ibu dan kak Ilyas. Sedangkan Yasmine, ia tengah duduk di sofa meminum susu hangat khusus untuk ibu hamil dengan rasa cokelat.
Yasmine menoleh ke arah sang ibu, "sudah bu, susu saja. Enggak mau yang lain." jawabnya.
Ibu mengangguk. Yahya yang sudah di siapkan roti tawar ber-selai kacang itu lantas beranjak dari duduknya, membawa serta piring kecil dan berjalan mendekat ke arah sang adik. Ia duduk di sebelah Yasmine menemani ibu hamil muda itu sarapan.
"Ngapain, ke sini?" tanya Yasmine sinis.
"Duduk dong! Mau nemenin keponakan sarapan." jawab Yahya dengan senyum merekah.
Yasmine tersenyum, kakaknya itu memang terbaik. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Oh, iya. Kak?" tanyanya. Membuat Yahya yang tengah mengunyah roti menoleh ke arahnya. "Kakak nanti, tinggal di rumah sendiri? Kalau sudah menikah?" Ia benar-benar penasaran, karena rasanya ia masih sangat kasihan jika ibu dan ayahnya berdua saja di rumah sebesar itu.
Yahya mengedikan bahunya, "terserah istri dong. Ya nggak bu?" jawab Yahya yang lalu bertanya pada sang ibu.
Ibu dan ayah yang duduk di kursi makan menoleh pada kedua anaknya itu. Lantas kedua paruh baya itu mengangguk.
"Hmmm, kasihan dong Ayah sama Ibu." ujar Yasmine.
Yahya merangkul sang adik dari samping, "karena memang sudah seharusnya seperti itu, Yas." ujarnya.
Yasmine mengangguk, "iya. Aku tahu."
"Ya, sudah. Nanti berangkat nya sama supir ya, jangan bawa mobil sendiri." Ujar Yahya yang masih merangkul sang adik.
"Enggak mau, ah! Aku tetap mau bawa mobil sendiri." jawab Yasmine tak bisa di bantah.
__ADS_1
"Ya, jangan dong! Di antar pokoknya. Aku nggak mau kamu sampai kecapekan gara-gara nyetir sendiri." ujar Yahya lagi.
"Tapi benar, Nak. Apa kata Yahya. Sebaiknya mulai sekarang kamu pakai supir." kata Ayah, yang kini juga mendekat ke arah sofa dan duduk di sebelah sang putri.
"Tapi, Yah." Yasmine menoleh ke arah sang Ayah. Ia menggelengkan kepalanya tidak mau.
"Sekarang, Yayas harus memikirkan bayi yang ada di sini loh," ucap Ayah sembari mengusap perut rata sang putri.
"Ck," Yasmine berdecak. "Ya, sudah lah. Tapi, nanti sore aku pulangnya ke rumah ya, kasihan mbak Fifi sendirian." jawabnya pasrah.
"Boleh, Yas." jawab Ibu yang masih setia di kursinya. "Tapi vitaminnya jangan lupa di minum ya, jangan capek-capek pokoknya. Habis ngajar, pulang jangan mampir ke mana-mana, istirahat." sambung ibu.
Yasmine tersenyum. Sungguh ia bahagia sekali memiliki orangtua dan saudara yang begitu baik. "Siap bu." jawabnya sembari memeluk sang ayah yang masih di sebelahnya.
"Anak pintar, nanti kalau supirnya sudah ada kakak kabarin." ujar Yahya.
"Tapi, hari ini sama supir Ayah dulu. 'Kan Ayah nggak kemana-mana." sambung Yahya.
Yasmine mengembuskan napas kasar, ternyata memang di mulai dari hari itu juga.
...πππ...
Seperti apa yang di perintahkan sang Kakak. Yasmine benar-benar pergi dengan supir. Namun begitu pulang, supir ayah ia suruh untuk balik juga ke rumah orangtuanya. Selain tidak ada kamar lagi, mereka hanya berdua dan perempuan semua. Jadi, tidak mungkin ia membiarkan sang supir istirahat di dalam rumahnya.
Kini ia duduk dengan mbak Fifi. Mereka berdua tengah menonton film kartun kesukaan Yasmine. Mbak Fifi tentu sudah tahu kalau sang majikan kesayangannya itu tengah hamil, jadi ia tidak akan protes perempuan cantik itu ingin nonton apa.
Sampai di mana, ponsel Yasmine yang tergeletak di atas meja berdering. Membuat mbak Fifi dengan sigap mengambilkan dan memberikannya pada perempuan yang duduk sembari makan potongan buah mangga.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Yasmine saat mbak Fifi mengambil ponselnya.
"Sahabat tersayang," jawab mbak Fifi membaca tulisan yang tertera di layar. "Panggilan vidio Mbak," ucap mbak Fifi lagi.
Yasmine menaruh piring berisi potongan buah di sofa sebelahnya duduk, lantas mengambil ponsel dan menjawab panggilan dari sahabat tercintanya itu.
"Assalamu'alaikum." sapa Yasmine dengan ceria. Di layar, ia bisa melihat Alifa tengah tersenyum lebar di taman.
"Wa'alaikumsallam. Lagi apa, kamu?" tanya Alifa sembari melambaikan tangannya.
"Nih," Yasmine menunjukan potongan buah dalam piring. "Makan mangga sambil nonton kartun, kamu ngapain di taman?" tanya balik ibu hamil itu.
"Enak itu, mau dong. Mangga di rumah habis." ujar Alifa.
"Sini, dong. Main. Enak banget loh, ini." Yasmine sengaja memasukan sepotong kecil mangga ke dalam mulutnya sembari memejamkan mata, "hmmm ... enak banget." katanya menggoda Alifa.
"Ih, kamu mah Yas. Sini, kamu saja yang main. Aku 'kan tidak bisa bawa mobil. Nanti aku bilangin ke mas Alfin kalau kamu mau." ujar Alifa sembari tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Yasmine.
"Iy_" ucapan Yasmine terhenti. 'Tapi, aku nggak boleh bawa mobil.' ucapnya dalam hati. "Eh, tapi aku ada kerjaan abis ini. Belum mengoreksi nilai." katanya dengan wajah kecewa. Padahal sebenarnya, ia juga ingin ke sana. Ah, seandainya saja suaminya bukan suami Alifa juga, pasti akan lebih mudah memberi kabar bahagia ini. Lebih mantap rasanya. Tapi, sekarang ... entahlah, ia tak tahu sampai kapan ia tidak mengatakan tentang kehamilannya.
"Ya, sudah tidak apa-apa. Jangan sedih gitu dong." ujar Alifa. "Kita masih bisa ngobrol seperti ini, 'kan? Sama-sama melihat, hanya tidak bisa berpelukan." sambungnya.
Yasmine mengangguk, dalam hatinya mengatakan. 'Bukan itu yang membuat aku sedih, Lif. Maafkan aku, jika nanti kabar baik dariku justru melukai perasaan mu.'
"Iya, padahal aku pengin banget peluk-peluk kamu. Pengin nge teh sama kamu di taman. Hmmm ... aku kangen, Lif." ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba saja sedih kembali melanda hatinya.
"Eh, kenapa nangis. Besok ya, In Syaa Allaah aku main." kata Alifa. Seketika ia tak tega melihat wajah sahabat sekaligus madu-nya itu bersedih. Jujur saja, dengan ini Alifa semakin merasa tak enak hati. Ia takut kalau nanti semakin banyak orang yang tahu, sahabat nya itu akan semakin terluka akan pendapat orang tentang statusnya.
__ADS_1
Penilaian mbak Ina, benar-benar menyadarkan diri Alifa. Bahwa semua keinginan yang menurutnya baik, belum tentu baik bagi orang lain. Dan setiap keinginan pasti memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi buruk.