Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 104 # Cinta Ibu


__ADS_3

Dia masih dalam dekapan hangat sang mama, ia masih butuh usapan lembut di punggungnya. Yang terasa begitu menenangkan juga menghangatkan perasaan.


Selama di perjalanan pulang tadi, Alifa meminta izin agar di antar ke rumah sang mama. Ia butuh mamanya untuk saat ini, dan di sanalah ia sekarang.


Sementara sang suami, begitu basa-basi sebentar langsung pamit ke kantor karena memang waktu yang hampir siang.


Apakah mama Widia dan papa Zaenal, membahas masalah Alfin dan Yasmine? Jawabannya adalah tidak. Mereka berdua tidak membahas sama sekali, karena mereka tahu, saat ini hati sang menantu jelas masih tidak baik-baik saja.


Sedangkan sang anak, begitu sang suami pamit, ia lantas menangis dan memeluk erat tubuh wanita yang sudah melahirkannya hampir 30 tahun yang lalu itu.


"Sudahlah, Lif. Kenapa harus di tangisi. Keputusan Yasmine sudah benar, dia tidak ingin menyakitimu juga menyakiti dirinya dengan rasa cemburu," begitu ujar papa Zaenal yang terpaksa masih di rumah lantaran mendapatkan kabar yang bisa di bilang tidak baik.


Karena tentu saja, baik mama dan papa juga inginnya semua kembali baik tanpa ada perpisahan seperti sekarang. Tapi, ternyata semua harus seperti ini.


"Tapi, Pa ... aku sedih saat melihat Mas Alfin yang sering bengong, pandangannya kosong," ucap Alifa. "Apa aku salah, Ma, Pa?" tanya perempuan itu.


"Sudahlah, Lif. Ini semua sudah terjadi," ucap mama Widia menenangkan sang putri. "Lagian, bagaimana Alfin tidak seperti itu, jika pada kenyataannya mereka sudah saling mencintai. Tugas kamu sekarang adalah menemani suamimu, berada di sampingnya," sambung mama.


"Iya, benar apa yang dikatakan Mamamu, nanti pasti lambat laun semuanya akan kembali baik, kamu sabar saja," ucap papa Zaenal.


"Sekarang justru yang papa pikirkan adalah Yayas, Lif," kata papa lagi.


"Aku juga, Pa," kata Alifa. "Aku merasa bersalah, aku hanya ingin kita bertiga baik-baik saja, bukan seperti ini, terpisah," sambung wanita itu.


Mama Widia mengembuskan napas kasar. "Sudahlah, Nak. Sekarang kamu nggak boleh nangis, mama nggak mau kamu sampai sakit." Mama mengurai dekapannya pada sang anak dan menghapus air mata yang masih mengalir di pipi mulus putrinya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Sementara itu di dalam mobil yang kini tengah membelah jalanan desa, lima manusianya tengah ngobrol membicarakan pemandangan di setiap jalan yang mereka lewati.

__ADS_1


"Rumah Fifi bukannya sudah pindah ke sini, ya Yah?" tanya ibu yang duduk di belakang sang suami. Netra nya terbuka lebar saat melihat pemandangan indah. Mobil tengah melewati sebuah desa.


"Iya, tapi yang di tinggali Yayas 'kan yang dulu, tempatnya jauh dari pemukiman," jawab sang suami.


"Terus ini masih jauh Yah?" tanya Zahra, pada sang mertua.


"Masih, Ra. Lumayan lah kalau kamu masih ngantuk," gurau ayah Ilyas.


Umi dan pak supir hanya tersenyum. "Sejuk banget ya di sini, padahal matahari juga terlihat," ucap Umi Fitri.


"Di sini memang dingin banget, Mi," jawab ibu Radiah. "Kata Fifi," sambung ibu.


"Aku pikir Ibu pernah ke sini," ucap Zahra yang sama tengah melihat pemandangan indah.


"Belum lah, Ra. Ini baru pertama kalinya," ujar ibu. "Ibu aja masih heran, kok anak ibu yang biasanya luar biasa bisa betah ya, di sini," sambungnya.


"Namanya juga ngadem, Bu. Ngademin hati, ya jelas betah," begitu ujar Zahra yang lantas menutup mulutnya. Merasa tak enak mengatakan itu karena ada Umi. "Maaf, Mi, maksud Zahra bukan--"


Setelah itu semua diam. Hanya ada suara angin yang masuk lewat jendela mobil yang terbuka dengan sengaja.


Hingga akhirnya jalanan yang dilewati mobil itu pun berubah, dari aspal yang halus ke jalan bebatuan. Kendati terlihat rapi, namun tetap saja jika dilalui mobil pasti akan membuat penumpangnya bergoyang-goyang mengikuti roda yang naik turun melewati jalanan.


Hingga akhirnya, sampailah mobil mereka di depan rumah semi permanen yang menurut ibu sangat kecil. Apalagi tempat tinggalnya begitu besar, jadi saat melihat rumah yang ditempati anaknya untuk menyendiri, ibu merasa melihat sebuah gubuk di tengah-tengah ladang.


'Ya Allaah,' batin ibu. Ia lantas turun sebelum semua orang turun. Dengan tak sabar ibu dua anak itu berjalan ke arah rumah itu. Mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Assalamu'alaikum," ucapnya. "Fii! Yas," panggilnya.


Ayah, Umi, Zahra dan pak supir juga turun dan mengikuti langkah ibu yang kini sudah berdiri di depan pintu kayu.

__ADS_1


"Wa'alaikumsallam," jawab Fifi dari dalam.


"Ya Allaah, Ibu, Bapak, Umi, Mbak Zahra, Pak Supir." Mbak Fifi terkejut. Saking terkejutnya ia sampai terbengong-bengong sembari menutup mulut. "Eh, lupa, ayo-ayo silakan masuk," ucapnya begitu sadar dia masih diam di tengah-tengah pintu.


Ibu menggeleng kan kepalanya, lantas masuk. "Mana, Yayas Fi?" tanya ibu sembari melihat ke kanan dan kiri.


"Tidur Bu," jawab Fifi sembari menyalami Umi dan Mbak Zahra. Setelahnya, ia membantu pak supir membawa kardus dan koper dari dalam bagasi mobil.


"Tidur di mana?" tanya Umi dengan pelan saat semuanya sudah duduk di kursi.


Fifi yang baru masuk itu tersenyum, "di sini, Mi," jawabnya seraya menunjuk sebuah kamar dengan jempolnya. "Mbak Yas, baru saja minum vitamin, jadi tidur. Biasanya mah duduk di belakang rumah di atas tikar," sambung Fifi.


"Fi, ibu mau lihat anak ibu," ujar ibu Radiah.


"Silakan Bu, biasanya Mbak Yas tidak kunci kok," kata Fifi. "Saya buatkan minum dulu ya, semuanya." Sembari mengangguk ia berlalu ke belakang.


"Umi juga mau lihat," kata Umi Fitri pada ibu Radiah.


"Ayo," ajak ibu Radiah.


"Zahra tidak ikut?" tanya Ayah.


"Nanti Yah, Zahra mau kasih kabar dulu sama Mas Yahya," jawab Zahra.


"Percuma Ra, di sini 'kan tidak ada sinyal," kata Ibu. "Ayo, kita ke kamar Yayas," ajak ibu Radiah yang kini sudah berdiri.


Zahra mengangguk, ia lantas ikut mertuanya ke kamar sang adik ipar. Dan benar saja, kamar itu tidak terkunci, lantas ketiga wanita beda usia itupun masuk ke kamar yang tidak lebar. Di sana bahkan hanya cukup untuk menaruh satu ranjang dan satu lemari. Tidak lebih tidak kurang, tidak ada meja rias yang tersimpan. Hanya ada cermin yang menggantung di samping lemari.


Ibu lantas mendekat ke ranjang, di mana sang anak tengah tertidur pulas. Berselimut tebal miliknya yang sengaja dia bawa. Rambut panjangnya tergerai, wajahnya terlihat begitu tenang. Seolah tak merasakan apapun, termasuk sedih lantaran kini statusnya sudah sendiri.

__ADS_1


Ibu Radiah tak kuasa, ia lantas menunduk dan mencium puncak kepala sang putri. Di ciumnya dengan lama sampai membangunkan putri tidur yang tengah hamil itu.


"Mmm." Yasmine menggeliat, lantas membuka mata. "Ibu," ucapnya dengan serak saat menyadari ada sang ibu di depan matanya, tersenyum ke arahnya.


__ADS_2