Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 122 # Tidak Mau


__ADS_3

Sampai di mana ibu dan Taqa kembali turun dari lantai dua dengan wajah ceria. Yasmine yang masih menyandar di pundak sang ayah lantas menegakan duduknya.


"Sudah mainnya?" tanya Yasmine.


"Sudah, katanya kamarnya kayak cewek," jawab ibu Radiah di iringi tawa setelahnya.


"Ya, jelas. Itu 'kan kamar ibu. Sini duduk sama ibu," Yasmine melambaikan tangannya agar sang anak mendekat. Taqa pun mendekat dan duduk di pangkuan sang ibu.


"Dia mau ke mall, Kek," ucap ibu Radiah memberitahu sang suami.


"Ayo, Kakek siap," kata ayah Ilyas dengan mengusap kepala Taqa.


"Boleh 'kan bu?" tanya Taqa pada ibunya.


"Boleh, tapi ibu nggak ikut ya, ibu mau ngisi rapor, biar lusa atau setelahnya, ibu bisa santai di sini, enggak kerja terus," jawab Yasmine.


"Iya," Taqa mengangguk-anggukkan kepalanya semangat.


Akhirnya bocah kecil yang tidak mengenal lelah itupun hanya pergi dengan nenek-kakek nya saja. Sementara Yasmine langsung naik masuk ke kamarnya untuk menyelesaikan tugasnya, biasa kesibukan guru di saat liburan akhir semester.


...----------------...


Dengan di gandeng dua orang paruh baya anak tampan itu pergi ke satu tempat ke tempat lain. Tak ada yang di beli, hanya fokus jalan-jalan dan makan jajan.


Saat di tawari beli mainan pun anak tampan itu tidak mau. Sampai di mana sang nenek membawanya ke toko perlengkapan bayi. Ya, ibu Radiah ke sana untuk membelikan baju dan yang lain intuk anak perempuannya yang lain, yaitu Alifa. Alhamdulillah, setelah berbagai cara di lalui, akhirnya sekarang anak ibu Radiah yang lain tengah hamil tujuh bulan. Yang konon kata dokter saat di USG, bayinya kembar.


Tentu saja itu adalah sebuah kabar yang sangat membahagiakan. Tapi, ibu belum memberi kabar tentang kehamilan Alifa pada Yasmine. Niatnya ibu akan memberitahukan saat bayinya sudah lahir. Tapi, Jika sudah seperti ini, mungkin nanti bisa saja, ibu akan memberitahukan tentang itu pada anaknya. Mumpung sang anak ada di sini, siapa tahu mereka bisa bertemu dan saling meluapkan rasa rindu. Begitu pikir seorang ibu yang selalu menyayangi anak-anaknya itu.


"Nek, ini bajunya bagus," ucap Taqa sesaat setelah masuk ke dalam toko.

__ADS_1


"Wah, iya. Bagus, pilihan Kakak Taqa memang keren," kata seorang nenek itu.


"Bu," ayah mengingatkan sang istri akan panggilan yang ibu sematkan pada sang cucu.


"Kenapa, Yah. Lambat laun dia akan tahu, lebih bagus kalau dia tahu dari kecil, ibu yakin, dia pasti akan mudah menerima," ucap ibu Radiah pelan pada sang suami.


"Semoga saja," pasrah ayah.


Ayah Ilyas lantas mengajak Taqa untuk ke rak bagian lain, di mana di sana juga ada mainan banyak. "Taqa mau mainan tidak?" tanya sang kakek.


"Sebentar kek, Taqa pilih di sana ya." ucap bocah itu sembari berlalu.


"Iya, jangan jauh-jauh ya, Nak," ucap ayah Ilyas sembari memilihkan mainan untuk cucu kesayangannya.


Sementara itu, Taqa berjalan menuju seseorang yang sepertinya dia kenal. Sekilas ia bisa tahu kalau itu adalah seseorang yang ada di foto dalam kamarnya. Perlahan anak kecil itu mendekat pada seseorang yang tengah memilih beberapa kain. Sampai di mana akhirnya panggilan dari Taqa keluar begitu saja. "Ayah!" panggilnya lumayan keras.


Bocah itu berdiri dengan tegak menatap seseorang yang kini tengah menoleh ke arahnya. Seseorang yang mirip sekali dengannya, yang kini tengah berjalan ke arahnya dengan langkah lambat dan mata yang merah, seolah tak percaya pada keberadaan dirinya.


"Kamu Ayah?" tanya Taqa memastikan, saat seseorang itu sudah berlutut di depannya.


"MaSyaa Allaah, iya Nak. Ini ayah," ucap Alfin yang tak kuasa. Ia lantas memeluk erat sang anak. Begitu juga tangan mungil itu, ia memeluk erat leher sang ayah.


"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Alfin saat ia mengurai pelukannya. Namun, tangannya masih setia memegangi dua pundak Taqa.


"Aku ke sini sama Nenek, sama Kekek," jawab anak itu jujur. Lantas, Taqa meminta salim pada sang ayah. Dengan uraian air mata lantaran terharu, lelaki itu memberikan tangannya untuk di cium oleh sang anak. Lalu di cium pula tangan mulus sang putra.


"Mas," panggil wanita yang perutnya sangat buncit itu.


Alfin dan Taqa menoleh, "Sayang, sini. Ini Taqa," tunjuk Alfin dengan senangnya.

__ADS_1


Taqa menelan ludahnya dengan kasar, panggilan dari Alfin membuatnya heran dan bertanya-tanya. Namum, karena ia tak tahu akhirnya ia hanya menyalami perempuan yang seperti pernah ia lihat itu dengan takzim, saat perempuan hamil itu ada di depannya.


"MaSyaa Allaah, Taqa. Boleh peluk," ucap Alifa yang sama dengan sang suami. Wanita hamil itu bahkan menangis. Taqa hanya diam, tersenyum kaku. Maklum saja, di foto Alifa belum hamil, jadi masih terlihat kurus dan wajahnya dulu dengan sekarang sedikit berbeda.


Alfin lantas berinisiatif menemui ibu dan ayah, agar bisa ngobrol lama dengan Taqa. Lagipula jika terus di toko, pasti akan susah bukan.


Akhirnya di sanalah mereka. Di sebuah tempat makan yang menunya adalah burger. Taka masih diam memperhatikan dua orang di depannya, sementara dirinya duduk di apit nenek dan kakeknya.


"Bagaimana, cucu ibu ini, nakal tidak sama Mamanya?" tanya ibu Radiah sembari mengusap perut besar Alifa.


"Alhamdulillah, baik selalu ibu. Nggak pernah membuat mamanya kerepotan," begitu jawab Alifa.


"Taqa ke sini kapan, Bu?" tanya Alfin.


"Tadi, belum lama di rumah, langsung minta main ke mall. Mungkin memang sudah seharusnya, di pertemukan dengan kalian saat ini," jawab ibu. Semua orang mengangguk kecuali Taqa. Anak tampan itu masih tidak mengerti akan semuanya.


Apa, Yayas mau ketemu aku, bu?" tanya Alifa. "Aku ingi sekali bertemu dengannya," sambung wanita hamil itu.


Ibu Radiah saling memandang dengan sang suami. Lantas keduanya tersenyum. "Semua sidah berlalu sangat lama, kalian juga sudah bahagia satu sama lain. Nanti, kita pulang bersama."


Kini giliran Alifa dan Alfin yang saling pandang dnegan senyum yang merekah. Tapi, tidak dengan Taqa. Anak tampan itu bahkan masih tetap diam.


"Nak, ayo di makan," ucap Alifa. "Mau, mama suapi?" sambungnya.


Anak itu menggelengkan kepalanya, lantas menatap sang ayah yang tengah tersenyum lebar ke arahnya. "Nanti, izin sama ibu ya. Kalau di bolehin, Taqa ikut ya, ke rumah ayah," kata Lelaki itu.


Taqa semakin menatap lelaki yang sangat mirip dengannya itu. Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau, Yah," jawabnya.


Alfin mengernyitkan dahinya. "Kenapa, Nak?"

__ADS_1


"Karena, kalau aku ikut Ayah, aku ninggalin ibu sendirian. Dan itu bukan anak laki-laki sekali," jawaban Taqa membuat hati Alfin seolah tercubit. "Kata Pak Arya, anak laki-laki itu harus bisa menemani ibunya dan menjadi pelindung buat ibu. Jadi, aku nggak mau ninggalin ibu sendirian. Apalagi ...," kalimat anak kecil itu menggantung.


__ADS_2