
Taqa berjalan di belakang sang ibu, menggandeng tangan sang calon ayah. Bahkan bocah kecil itu bolak-balik melihat wajah pak Arya demi untuk memberi senyum terbaiknya.
"Kenapa, Taqa?" tanya pak Arya.
"Taqa senang akhirnya sebentar lagi aku punya ayah," ucap bocah itu jujur.
Arya lantas jongkok di depan Taqa, "kamu nggak boleh bilang seperti itu, selama ini 'kan Taqa punya ayah," ucapnya pada calon anaknya itu.
Sementara itu, Yasmine sudah sampai di ruang keluarga. Dari tempat Yasmine berdiri, ia bisa melihat orangtuanya kedatangan dua orang yang sangat ia ... sayangi. Ya, ia masih menyayangi keduanya, maka dari itu ia memilih pergi dari dua manusia itu.
Bisa dia lihat betapa susahnya wanita yang menjadi sahabat dan pernah menjadi madu-nya itu, duduknya terlihat kesusahan, perutnya lebih besar dari perutnya saat hamil dulu.
Ia tersenyum, dalam hati tentu saja mengucap syukur atas terkabulnya doa yang selalu ia panjatkan. Sampai di mana, netra nya dan netra sang sahabat saling bertemu pandang. Sampai gumaman terdengar keluar dari mulut Alifa.
"Yayas," begitu ucapnya, sampai membuat tiga orang yang duduk di sana menoleh.
"Assalamu'alaikum," ucap Yasmine dibarengi dengan senyum yang manis di akhir kalimatnya.
"Ibu! Tunggu aku sama Ayah!" teriak Taqa dari luar.
Bagaikan slow motion semua bergerak dengan sangat lambat. Dari Alfin yang menanti suara sang anak yang mengatakan hal tentang ayah, sampai Alifa yang sangat penasaran akan anak kecil yang setelah hari itu membuatnya merasakan rindu padanya.
Juga ayah Ilyas dan ibu Radiah yang penasaran, dengan sosok ayah yang dimaksud sang cucu. Namun, tidak dengan Yasmine. Dia menoleh dengan senyum yang lebar, menunggu datangnya sang anak dan ... sang calon suami barunya.
"Ibu, kenapa nggak nunggu aku sama Ayah Arya?" tanya bocah itu lagi. Kini dia sudah sampai di depan sang ibu dengan wajah bahagia, masih menggandeng tangan sang calon ayah baru.
Pak Arya tersenyum kikuk, "maaf, mb--"
"Maaf ya, Mas. Aku lupa nggak nungguin kamu. Saking antusiasnya aku mau kenalin kamu ke ibu dan ayah," kata Yasmine memangkas Kalimat yang akan di ucapkan Arya.
__ADS_1
Arya mengangguk bingung, namun ia tetap tersenyum. Sedangkan dari sofa, ayah dan ibu mendekat. "Nak Arya, MaSyaa Allaah, ayo masuk," ajak ibu.
"Iya, ayo. Saya kenalkan ke anak saya yang belum pernah bertemu denganmu," ucap Ayah.
Yasmine tersenyum dan mengangguk, sementara Arya lantas menyalami kedua paruh baya itu. "Assalamu'alaikum, Pak Bu. Maaf tidak memberi kabar.
"Wa'alaikumsallam, tidak apa, ayo." ayah merangkul dan mengajak lelaki yang bisa dimengerti maksud kedatangannya.
Sementara Yasmine kini menggandeng tangan sang anak untuk mendekat ke arah sofa.
"Mas," ucap Arya pada Alfin.
Tangannya terulur, namun tak kunjung diterima oleh sang lawan. Alfin bahkan diam di tempat dengan bolak-balik menelan ludah kasar. Sudah lama sekali, harusnya ia sudah ikhlas bukan, dan tentunya sudah menerima akan keadaan seperti ini. Tapi pada kenyataannya, dia masih merasakan sakit saat mengetahui ada seseorang yang bisa menggantikan posisinya di hati sang mantan istri dan anaknya. Anak pertamanya.
"Ekhem," Yasmine berdehem sangat kencang, sampai membuat Alfin sadar dan menjabat uluran tangan Arya.
"Alfin," katanya dengan senyum kaku.
Kini, giliran dua wanita yang sudah lama tidak bertemu. Berdiri berhadapan, saling memandang dengan senyum yang mengembang, namun dengan air mata pula yang menemani.
"Apa kabar?" tanya kedua wanita bersahabat itu bersamaan.
Keduanya lantas tertawa, "seperti yang kamu lihat," lagi-lagi jawaban mereka sama. Pun dengan tawa yang keluar.
Lantas tanpa menunggu lama, kedua wanita itu saling berpelukan. Tangis mereka semakin kencang, membuat siapa saja ikut terharu dengan pertemuan dua sahabat itu. Pertemuan yang sudah begitu lama tertunda, dua wanita yang dulu amat sangat dekat dan harus terpisah jarak karena sebuah alasan.
Lama sekali kedua perempuan yang kini bergelar mantan madu itu berpelukan dengan tangis yang keluar. Sampai membuat empat orang lain yang duduk di sana ikut meneteskan air mata, mengusap sudut mata mereka. Hanya ada satu anak kecil saja yang tak mengerti akan maksud dari tangis ibu dan seseorang yang harus ia panggil dengan sebutan mama.
Lantas, Yasmine mengurai pelukan itu dan berlutut. Ia lantas mengusap perut besar itu. "Halo, anak-anak ibu," ucapnya. "Baik-baik ya Nak, di perut Mama. Jagain mama dengan baik, jangan nakal, mama kalian kecil, jangan sampai mama kalian kelelahan. Boleh lelahnya kasih ke ayah kalian saja. Oh, ya ... mau ketemu sama Kakak Taqa nggak," Yasmine menoleh ke arah sang putra.
__ADS_1
"Sini, Taqa, tengok adik-adiknya," tangan Yasmine melambai mengajak sang putra.
Anaknya menggeleng, "maaf ibu, aku nggak mau," ucapnya dengan pelan.
"Sudah, Yas. Ayo sini berdiri, aku masih pengin peluk kamu," kata Alifa pada sang sahabat yang kini masih berlutut di depan perut besarnya.
Lalu, Yasmine beranjak berdiri dan mengajak ibu hamil itu untuk duduk. Gerak-gerik keduanya tak lepas dari pandangan seseorang yang sekilas melihat, sekilas menoleh ke arah sang putra yang duduk menempel dengan seorang lelaki yang sepertinya ia tahu, untuk apa kedatangannya.
"Sudah, melow nya, sekarang kita ngobrol yang bikin kita bahagia, semuanya sudah bahagia bukan," kata ibu.
Yasmine mengangguk dan tersenyum lebar. "Iya, Ibu benar. Kita sudah bahagia, tapi ... sebenernya memang kita sudah bahagia Bu, Ibu nih ada-ada saja," katanya.
"Ayo di minum dulu, Nak Arya, Nak Alfin. Ayo Alifa ... Taqa Sayang, sini sama Kakek," ujar ayah Ilyas.
"kebetulan sekali Yas, kamu datang pas Alfin dan Alifa juga baru sampai," sambung ayah Ilyas.
"Oh, ya?" tanya Yasmine pada Alifa.
Alifa mengangguk, "iya. Aku pikir kamu akan lama di sini, dan akan nemuin aku. Jadi, aku tunggu di rumah. Tapi nyatanya, sampai aku ke sini, kamu sudah tidak ada. Tapi ... alhamdulilah nya, kita ketemu juga hari ini," katanya dengan panjang lebar.
"Maaf ya, hari itu ... Taqa minta langsung pulang, sudah rindu katanya sama Mas Arya," katanya dengan tawa yang terdengar di buat-buat. Sampai membuat Arya mengerutkan keningnya heran. Namun, bisa dia mengerti kenapa Yasmine mengatakan itu. Apalagi dari tadi lelaki itu melihat raut aneh dari wajah seorang pria yang tak langsung menjabat uluran tangan darinya.
"Apa, dia ...?" tanya Alifa menggantung dengan nada yang sangat lirih.
Yasmine semakin tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Doakan saja, semoga ini yang terakhir untukku dan dia," katanya.
"Dia ...," ucapan Alifa lagi-lagi menggantung. Dan Yasmine kembali mengangguk.
"Semoga sampai surga," ucap Alifa tak kuasa. Ia meneteskan air mata kembali, lalu memeluk kembali sang sahabat. Tak menyangka, lama tak berjumpa, kini keduanya berada di keadaan yang berbeda. Namun tentu saja sudah dengan kabar yang terlihat bahagia.
__ADS_1
Entahlah dengan seseorang yang kini menunduk, tersenyum namun terluka.