
Senyum seorang ibu yang baru melahirkan itu terlihat begitu lebar, ia sudah menyiapkan nama ini dari jauh-jauh hari. Karena, entahlah, ia merasa sudah mengerti bahwa anaknya akan berjenis kelamin laki-laki. Walaupun, setiap USG ia tak mau jika dokter akan memberitahu.
"Siapa, Nak?" tanya ibu lagi, ia begitu penasaran dengan nama sang cucu.
"Namanya, Muhammad Taqa El Fatih, artinya kemenangan laki-laki islam yang bertakwa, taat dan rajin berdoa kepada Allah SWT," begitu jawab Yasmine seraya memandangi Taqa yang tampan, yang masih semangat menyesap sumber makanannya.
"Bagus sekali, semoga kamu bisa menjadi anak yang shaleh," ucap ibu pada sang cucu.
"Aamiin, Nenek. Semoga aku bisa jadi pelindung Ibu, karena setelah ini hanya akan ada aku dan ibu saja," jawab Yasmine sembari menggerakkan tangan bayinya yang tidak di bedong sebelah.
"Iya, sebelum mendapatkan kembali sosok seorang ayah," kata ibu. Yasmine langsung menoleh ke arah ibunya.
"Aku udah nggak mikir yang seperti itu lagi, Bu. Yang Yayas pentingkan sekarang dia tumbuh dengan baik dan bisa menjadi anak yang shaleh."
"Sudah, tidak usah membicarakan hal itu," ucap ibu sembari tersenyum. "Kamu baiknya setelah ini tidur, kamu pasti lelah 'kan?"
Yasmine mengangguk, "tapi aku pengin tidur sama Taka Bu."
"Iya, nanti biar Ibu jagain di sini," kata ibu.
...***...
Hingga saat pagi menyapa, Yahya dan Zahra tengah sibuk membawa barang bawaannya dari dalam rumah ke bagasi mobil. Mereka berdua akan pergi ke rumah sakit, menjenguk keponakan mereka.
"Sudah semua, Sayang?" tanya Yahya pada sang istri yang kini tengah berjalan dari arah rumah sembari menunduk, mengecek tasnya takut ada yang tertinggal.
"Sudah, Mas," jawab Zahra setelah di rasa tidak ada yang tertinggal.
"Ayo." Yahya membalik badan mengarah ke mobil, namun seketika ia berhenti lantaran ada sebuah mobil yang berhenti di belakang mobilnya.
"Loh, Mas. Itu bukannya mobil Alfin ya," ucap Zahra saat suami diam di tempatnya. Yahya mengangguk.
"Kita temui dulu, ya," kata Yahya.
"Ya, iya dong Mas. Ada tamu masak di biarkan," ujar Zahra.
Keduanya lantas mendekat ke arah mobil, tepat saat Alfin keluar dari dalam dan mendekat ke arah Yahya. "Assalamu'alaikum, Mas, Mbak," sapa lelaki yang baru datang itu.
"Wa'alaikumsallam," jawab Yahya dan Zahra bersamaan.
"Tumben nih, Al. Pagi-pagi sudah ke sini," ujar Yahya.
__ADS_1
"Iya, tapi kayaknya Mas sama Mbak mau pergi ya?" Alfin merasa tak enak dan takut mengganggu.
"Iya, tapi nggak apa-apa. Ayo bicara di dalam." Ajak Yahya sembari merangkul mantan adik iparnya itu.
Zahra juga turut memutar tumit, ia kembali masuk karena ada tamu.
Kini ketiga manusia itu sudah duduk di sofa ruang tamu. "Bagaimana, Al. Ada apa?"
"Aku pengin tanya keadaan dia, Mas? Maaf hanya menanyakan saja, karena entah kenapa aku kepikiran ...." kalimat Alfin menggantung.
"Dia baik-baik saja Al, bayinya juga. Kamu tenang saja," kata Yahya.
"Mmm, kapan perkiraan dia melahirkan?" tanya Alfin lagi.
Zahra dan Yahya saling pandang. Saling memberi kode dengan memajukan dagu.
Alfin pun heran melihat keduanya. "Mas, Mbak, aku tahu sudah tidak pantas lagi untukku bertanya tentangnya, tapi anaknya juga anakku bukan?" Lelaki itu merasa ada yang aneh dari sepasang suami-istri di depannya. itu.
"Iya, Al. Alhamdulillah, anak kamu semalam sudah lahir, laki-laki," ucap Yahya. Dengan sangat terpaksa dia memberitahu, karena memang sudah seharusnya Alfin tahu.
"Alhamdulillah," Alfin mengucap syukur diiringi dengan telapak tangan yang menyapu wajah.
"Di mana, Mas. Apa boleh aku ke sana, aku ingin bertemu dengannya, mmm ... maksudku, anakku," ucap lelaki itu lagi.
"Mas, kenapa? Coba Mas bayangkan jadi aku, berada di kedilemaan, berkahir dengan berpisahnya aku dengan dia, lalu berpisah juga dengan anak yang aku nanti-nantikan," mohon sorang ayah itu dengan sangat sedih. Bahkan air matanya menetes.
Yahya mengembuskan napas kasar jujur saja ia bingung. Tapi pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya setuju kalau Alfin ikut.
...----------------...
Suasana ruangan itu begitu hening, Hanya ada kebisuan di sana. Sampai seseorang yang tengah bersama dengan anaknya itu bertanya. "Boleh 'kan, jika aku juga ingin mengadzani dia," ucapnya pada ibu dari bayinya yang masih duduk di ranjang dengan ditemani mbak kesayangannya.
"Silakan," jawab Yasmine.
Di ambilnya bayi tampan yang tengah terlelap itu dari tempatnya. Di gendong dengan takut dan mulailah lelaki itu mengadzani sang anak.
Mbak Fifi mengusap lengan Yasmine. Membuat wanita itu menoleh ke arahnya dan mengangguk.
"Siapa, namanya?" tanya Alfin saat sudah selesai adzan. Ia masih betah memandangi bahkan mencium bayi kecil yang mirip sekali dengan dirinya.
"Muhammad Taqa El Fatih," jawab Yasmine.
__ADS_1
"Taqa, nama yang indah. Kenapa kamu beri nama Muhammad di depannya?" tanya lelaki itu lagi.
"Karena, Kakeknya Muhamad Soyfan, Ayahnya Muhamad Alfin," jawab Yasmine dengan tersenyum getir.
"Terimakasih, sudah melahirkannya ke dunia. Semoga dia menjadi anak yang shaleh, yang berbakti dengan sangat kepadamu," kata Alfin dengan uraian air mata.
"Aku mengingat apa yang pernah kamu katakan waktu dulu, jika kamu akan mengizinkan dia bersamaku dan Alifa walaupun tanpa kamu," katanya mengingatkan Yasmine.
Yasmine mengangguk, walaupun pada kenyataannya Alfin tidak akan melihat dirinya, karena mantan suaminya itu, melihat ke arah lain. Mereka saling memunggungi.
"Tapi, aku tidak akan melakukan itu. Setelah ini, aku akan menunggu saat di mana dia yang menanyakan aku, tolong bilang padanya kalau aku bukanlah ayah yang baik," kata Alfin. Yasmine menggeleng tak setuju, ia tak mau seperti itu.
"Saat itu, barulah aku akan bertemu dengannya. Jika sampai besar dia tidak menanyakan keberadaan ku pun tidak apa. Karena dia pantas melakukan itu, dia anakmu. Kamu yang sudah mengandungnya tanpa diriku. Jadi, aku tidak akan meminta itu," sambung lelaki itu.
Lalu, Alfin tertawa lirih. "Jam berapa dia lahir?" tanyanya lagi.
"Dua," jawab Yasmine yang tak sanggup rasanya untuk bicara.
"Pantas saja, rasa sakit di perut dan pinggangku berhenti di jam itu," kata Alfin.
Yasmine tersenyum, "benarkah?"
"Aku memang pernah bilang pada Taka. Jika nanti, saat dia ingin keluar, biarkan ayahnya saja yang merasakan sakitnya. Karena aku sudah merasakan sakitnya dari lama, sedangkan Ayahnya ...," kalimat Yasmine terhenti.
"Ayahnya bahagia, begitu?" tanya Alfin. Ia bahkan tertawa sumbang. "Saking bahagianya aku, Yas. Sampai sakit terus-menerus, tidak bisa tidur tiap malam. Harus berdoa dengan kuat, agar cinta yang sudah hadir di setiap helaan napas kembali ke awalnya. Tapi sayangnya, rasa itu tidak mudah untuk pergi. Namun, karena tak lagi halal, maka aku pun selalu mencoba selalu untuk lupa."
Kedua mantan yang saling memunggungi itu sama-sama menangis. Cinta yang mereka miliki memang besar, tapi apalah daya saat hati pun mengatakan bahwasanya, cinta tak harus memiliki.
"Yas," panggil Alfin.
"Hm," jawab Yasmine.
"Jangan halangi aku untuk tetap memberikan uang padanya, karena mau seperti apapun hubungan kita. Aku tetap wajib memberikannya nafkah," kata Alfin.
"Silakan," ucap Yasmine.
Hati yang berdebar, ingin sekali mengatakan bahwa rasa yang sudah sering di paksa untuk lupa kini kembali terasa. Benar apa yang di lakukan Yasmine, jalan satu-satunya untuk lupa adalah menjauh. Karena jika dekat terus-menerus, bukan lupa, tapi akan semakin terasa menyakitkan di dada.
Saat cinta ada di depan mata, namun dinding besar menjadi penghalangnya.
Alfin lantas pamit dari sana, setelah minta tolong mbak Fifi untuk memotret dirinya dengan sang anak yang ada di dalam gendongannya. Untuk sebuah kenangan yang akan dia kenang.
__ADS_1
Jujur saja, rasanya ia sangat tak rela meninggalkan bayi tampan yang saat ia tidurkan kembali ke kasur, menangis kencang. Seolah menyuruhnya untuk tetap tinggal dan menggendong dirinya.
Hati seorang ayah itu hancur, saat terpisah dari buah hati yang menggemaskan, yang selalu ada di dalam angan.