Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 113 # Sadar Akan Hati


__ADS_3

(Maap kalau part ini membuat kalian kecewa πŸ™πŸ˜”)


Langkah kaki itu semakin menjauh, meninggalkan lelaki yang kini menatap punggungnya. Wanita itu tak kuasa berada di sisi lelaki yang pada kenyataannya tidak mencintainya. Dulu, ia begitu bahagia sampai ia lupa pada kenyataan yang mengatakan 'Tuhan Maha Membolak-balikkan hati manusia'.


Di saat inilah ia sadar, dan saat semuanya sudah hilang. Anak yang ada di kandungan sang sahabat di bawa pergi oleh ibunya, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Selama ini, ia juga sebenarnya tak tinggal diam. Ia selalu bertanya pada ibu dan ayah pasal keberadaan Yasmine.


Tapi, mereka selalu bungkam akan keberadaan dari Yasmine. Bahkan ibu dan ayah selalu mengatakan, "sudahlah. Dia sudah bahagia, kamu juga suamimu pun harus bahagia. Kalian masih tetap saudara."


Ia tersenyum sinis, kepalanya terasa sakit seiring dengan bertambah derasnya air mata yang mengalir. Kini, dia sudah sampai kembali di kamarnya. Diam, menikmati hujan. Malam ini, akan ia ingat selalu, bahwasannya dia bukan lah cinta dari suami yang terlihat begitu menyayanginya.


Ya, menyayangi tanpa mencintai. Ah, jika di ingat-ingat kenapa begitu menyakitkan. Apakah selama ini ia hanya mencintai lelaki itu sendirian?


"Sayang," pelukan dan panggilan itu tak lagi sampai ke hatinya, ia merasa panggilan itu hambar.


"Kenapa malah di sini, aku tidak mau kamu sakit." Alfin memeluk sang istri. Ia tahu, cintanya lebih besar untuk Yasmine, tapi, sekarang istrinya adalah Alifa bukan, jadi dia harus bisa membuat wanita itu tahu kalau dia akan bertahan di sisinya.


"Aku juga tidak mau kamu sakit, sampai sekurus ini." Alifa mengangkat tangan sang suami yang memang semakin hari semakin kurus. Sering sakit dan, ia sangat yakin kalau sang suami jelas rindu pada keberadaan anak yang jauh bersama ibunya.


Alfin menenggelamkan wajahnya di balik leher sang istri. "Maaf jika rasa yang aku miliki tak lagi penuh, tapi kamu harus tahu, kalau aku juga tidak bisa jika meninggalkan mu. Kamu tahu, jujur sebenarnya aku tidak bisa jauh dari kamu dan dia, tapi ... apa dayaku saat dia tak mau lagi bersamaku."


"Itu karena dia tidak mau menyakitiku, padahal aku lah yang menyakitinya," ucap Alifa.


"Cukuplah Sayang, aku mohon. Aku harus apa jika kalian berdua sama-sama seperti ini?" tanya Alfin bingung.


"Cari dia, Mas. Aku mau ketemu," ucap Alifa lagi.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, Sayang. Kamu jelas tahu apa alasannya."


Bungkam. Keduanya lantas diam. Menyelami pikiran masing-masing.


...----------------...


Hingga sore nya, terik matahari masih terlihat padahal semalam turun hujan sampai pagi hari. Ia tengah duduk di sofa ruang tamu, kendati semalam antara dirinya dan sang suami saling bicara tentang perasaan, namun pada kenyataannya, pagi tadi Alfin tetap bersikap seperti biasa padanya.


Selama tiga bulan ini, Alfin memang tetap memberikannya nafkah, dari lahir sampai batin, pun tidak ada bedanya seperti saat dulu. Mungkin yang berubah hanya waktunya, sekarang lelaki itu lebih suka menyendiri di malam hari.


Lelaki yang tak bisa marah padanya, lelaki yang walaupun ia sudah menyuruhnya pergi namun tetap saja ingin bersama dirinya. Yang hanya bisa memberi rasa nyaman, tanpa bisa di cintai.


Alifa mengembuskan napas kasar, ia tengah membayangkan kini pasti perut Yasmine sudah besar. Ah, seandainya saja dia masih bersama di rumah itu. Jelas Alifa akan sangat bahagia, pun dengan suaminya. Tapi sayang, lagi-lagi itu semua hanya inginnya saja.


Hingga saat waktu sang suami pulang, ia masih duduk di sana. Menyapa dengan senyum dan mengulurkan tangan begitu sang suami terlihat. Alifa beranjak, berniat akan pergi ke dapur untuk membuatkan teh. Tapi, tangannya keburu di cekal oleh sang suami.


"Tapi, kamu mau teh hangat 'kan? Biar aku buatkan," katanya sembari menatap wajah sang suami.


Alfin menggeleng, "aku ingin minta maaf. Jika selama tiga bulan ini kamu tersiksa akan segala yang aku lakukan," katanya tulus.


Seharian ini, Alfin berpikir keras. Ia sudah kehilangan cintanya, jadi ia tak akan bisa kehilangan kenyamanannya.


Alifa menggeleng, "aku tidak tersiksa, Mas. Aku justru kasihan padamu. Karena, aku jadi penghalang menyatunya cinta pertama kalian."


Alfin menarik tangan Alifa dan sang istri pun terduduk di pangkuannya. "Kamu bukan penghalang bagi aku dan dia. Dan, dia juga bukan penghalang di antara aku dan kamu. Bagaimana caranya aku menjelaskan, kalau kalian sama-sama berharga untukku. Dan aku sudah sering kali bilang aku tak akan bisa memilih, hanya saja kenapa aku melepaskannya. Itu semua karena itu adalah keinginannya. Ayolah, Sayang. Kamu mengerti ini."

__ADS_1


Alfin menjelaskan panjang lebar. Memang seperti itulah nyatanya. "In Syaa Allaah, aku tidak akan melakukan hal yang membuat hati kamu sakit. Maafkan aku sekali lagi, Sayang," ucapnya tulus.


"Sudah ya, sebaiknya kita jangan bahas ini," kata Alfin lagi.


Alifa hanya menganggukkan kepalanya. Karena benar apa yang di katakan suaminya. Semua ini atas permintaan sang sahabat, jadi, apa sekarang ia juga harus ikut menyerah dan meninggalkan suami yang baik, yang masih memberikan nafkah, tidak pernah kdrt padanya? Peduli apa tentang cinta, jika pada kenyataannya rasa nyaman lebih utama.


Akhirnya, Alifa menyetujui apa yang di katakan suaminya. Ya, mereka sudah lama bersama, dan untuk apa membahas lagi pasal rasa yang memang susah untuk di lupa.


...----------------...


Hingga akhirnya, perlahan, hari demi hari di lalui pasangan yang sudah begitu lama hidup bersama. Kendati seminggu lalu mereka ada masalah sedikit, tapi hari demi hari selanjutnya adalah tak ada lagi bahasan yang seperti waktu itu.


Keduanya kembali menerima hati dengan lapang. Karena memang sebenarnya itulah kenyataan yang ada. Kendati antara Alfin dan Alifa tidak diberitahu kabar Yasmine. Namun saat-saat seperti ini, Alfin tetap memberikan uang untuk persiapan persalinan Yasmine.


Bahkan Alfin sudah membicarakan ini pada sang istri. Pasal memberi uang setiap bulannya nanti untuk anaknya, walaupun keberadaan nya masih belum mereka ketahui.


Sebesar pengorbanan Alifa mencintai suaminya, menyayanginya dengan begitu penuh, hingga akhirnya ia mendapatkan kebahagiaan karena sang suami kembali seperti dulu. Walaupun entahlah dalam perasaan di dalam hati lelaki itu, yang ia perdulikan adalah sikap dan tanggungjawabnya.


Bahkan akhir-akhir ini Alfin sering mengajaknya keluar untuk berdua menikmati waktu mereka. Tak ada lagi yang perlu di pikirkan maupun di risau kan. Karena pada kenyataannya, semua baik-baik saja. Tiga keluarga tetap aman, walau kini satu di antara mereka menjauh.


Mereka semua tetap menyetujui, karena itulah pilihan hidupnya. Pilihan hidup wanita muda yang kini berstatus janda.


...----------------...


Maaf kalau nggak nyambung, ternyata aku nggak bisa membuat Alfin dan Alifa bertengkar. Karena karakter mereka bukan yang suka teriakΒ² hanya karena emosi. Biarkan mereka bahagia ya, dan Yasmine bahagia juga. Maaf yang kecewa πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Serius nggak tega banget πŸ₯².


__ADS_2