
Malam semakin kelam, bintang tak bertaburan. Mungkin turut sedih lantaran masalah yang tengah menerpa sepasang suami-istri.
Dia tengah berdiri dengan tangan yang berpegangan pada teralis besi. Kepalanya menengadah menatap langit di angkasa.
Gelap tak ada apapun di sana. Bahkan satu kerlip bintang pun tak terlihat. Sudah benarkah keinginan istri yang tengah hamil itu?
Masih teringat jelas olehnya, kata-kata sang suami tadi sore sebelum pergi meninggalkannya. Masih terngiang-ngiang kalimat menyakitkan itu, sampai membuat air mata yang ia pikir sudah habis kini kembali keluar.
Penyesalan akan dirinya yang dengan mudah luluh dan mau menerima segalanya kini berputar dalam pikiran. Merasa menjadi orang paling bo do h yang dengan mudah menurut. Namun sayangnya semua sudah terjadi, dia bisa apa sekarang. Selain merutuki segalanya.
"Seandainya saja, dulu kamu nurut buat ceraikan aku. Sekarang kita tidak akan ada di antara dilema hati, Al," ucap wanita itu pada keheningan malam.
"Kamu tahu, aku mencintaimu saat ini dan aku harus bisa melepaskan kamu karena aku tahu, rasanya menunggu giliran itu menyakitkan. Biarkan Alifa kembali merasakan indahnya hidup berdua denganmu tanpa harus ada waktu untuk menunggu."
Yasmine masih berbicara sendiri, berbicara pada keheningan malam yang menenangkan hati. Ditemani air mata dan luka yang menganga. Luka yang akan selalu ada saat hati belum ikhlas dalam segalanya.
Sudah ia serahkan urusan cintanya pada Yang Maha Kuasa, tapi nyatanya hati manusia tetap saja belum bisa seutuhnya pasrah. Ia masih merasa kesal dan bertanya-tanya kenapa. Mungkin benar, jika antara ikhlas dan sabar memang tidak mudah begitu saja di lakukan.
Lama wanita hamil itu berdiri di sana. Sedari sore, ia memang hanya menghabiskan waktu untuk menyendiri. Tidak bicara dengan siapapun, sekalinya bersama dengan orang lain pun hanya saat makan. Demi untuk membuat semua orang tersayangnya tak terlalu khawatir akan dirinya.
...πππ...
Malam ini selain Yasmine, Alfin pun sama. Ia tengah berdiri di balkon dengan keheningan malam. Ia langsung beranjak dari ranjang setelah mendengar dengkuran halus dari sang istri.
__ADS_1
Rasanya ia begitu sedih, rasa cintanya kepada kedua istri membuat bingung akan sebuah pilihan. Sepertinya ia butuh bicara dengan Abi dan Umi. Ia tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Ia juga butuh bicara agar sedikit saja ia merasa ringan. Tidak terbebani seperti sekarang ini. Hati dan pikirannya seolah di timpa batu yang begitu besar, membuatnya susah bernapas apalagi berpikir.
Berkali-kali pria itu mengembuskan napas kasar, namun tak mampu melegakan hatinya. Kendati ia seorang lelaki, tapi air matanya tetap saja keluar saat mengingat apa yang di inginkan dan di katakan sang istri ke-dua.
Seusai magrib tadi, ia memutuskan pulang saat sang istri pertama bolak-balik menelponnya lantaran khawatir belum pulang. Tentu saja, Alfin tidak cerita akan apa yang tengah Yasmine pinta. Menurutnya belum untuk saat ini, mungkin nanti.
Walaupun Alifa berkali-kali bertanya 'kenapa' padanya, namun ia selalu menjawab lain. Seperti, "aku hanya lelah, Sayang. Itu kenapa aku diam," begitu ujarnya tadi saat sang istri sudah bertanya untuk kesekian kalinya.
"Mas," panggil Alifa dari dalam. Membuat Alfin menoleh ke arah sang istri.
Alifa mendekat dan ikut berdiri di sebelahnya. "Ada apa, Mas? Sepertinya kamu tidak sedang baik-baik saja," tanyanya dengan memandang wajah tampan sang suami.
Alfin mengembuskan napas pelan, ia lantas tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Kenapa kamu bangun?" tanya balik lelaki itu.
"Entahlah, Mas. Aku merasa aneh, seperti ada yang mengganjal di dalam sini," ia menunjuk dadanya. "Seperti rasa kekhawatiran, dan rasa takut," sambung Alifa. "Aku seolah-olah tengah melakukan kesalahan besar, yang aku sendiri tidak tahu salah itu apa," katanya lagi.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku, Mas?" tanya Alifa dalam dekapan sang suami.
"Tidak ada," jawab Alfin.
Alifa mengangguk, 'mungkin masalah pekerjaan yang membuatnya tidak bisa tidur,' ucapnya dalam hati.
Tidak biasanya Alfin bersikap seperti ini, itulah kenapa Alifa heran. Biasanya setiap ada masalah, suaminya itu akan selalu cerita padanya. Baik masalah pekerjaan maupun masalah lainnya. Dan ini semua membuat Alifa penasaran, namun untuk bertanya kembali tidak mungkin.
__ADS_1
Lalu keduanya sama-sama diam dalam keheningan, dalam dekapan yang tak terasa hangat. Hanya saja terasa nyaman. Mungkin karena dalam hati mereka ada rasa kekhawatiran yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Setelah lumayan lama, Alfin mengajak sang istri untuk melanjutkan tidur sebelum kembali bangun untuk shalat sunah. Sebenarnya lelaki itu tak bisa tidur, ia hanya membaringkan tubuh tanpa terlelap.
Dalam pikirannya penuh dengan wajah sedih kedua istrinya. Dalam hatinya bertanya-tanya, 'benarkah keduanya sama-sama tersiksa?' begitu tanyanya dalam hati.
Bayangan sedih Alifa menari-nari dalam benaknya, pun sama dengan bayangan Yasmine tadi sore yang terlihat tertawa namun penuh air mata.
Lelaki itu sangat yakin, baik Yasmine dan Alifa hanya tidak ingin saling menyakiti. Namun, keinginnan Yasmine menurutnya benar-benar keterlaluan. Ia tak habis pikir jika istri keduanya bisa sebegitu yakinnya akan perpisahan. Yang tentu saja tidak akan mudah dia kabulkan.
Ia butuh penjelasan yang pasti, dan ia akan bicarakan nanti dengan keduanya setelah meminta saran dari Abi dan Umi.
Ia juga tidak habis pikir pada mertuanya yang biasa saja akan keinginan Yasmine, seolah-olah keinginan itu adalah hal yang sepele. Tidak kah mereka memikirkan perasaan pria yang dilema ini, begitu tanyanya dalam hati.
Lagi-lagi Alfin mengembuskan napas kasar, lalu begitu napas teratur kembali terdengar oleh Alifa. Ia lantas beranjak duduk, memunggungi tubuh istrinya.
Dalam duduknya, ia pandangi cincin yang sudah terisi tiga nama itu. Tiga nama yang ia harap akan abadi selamanya, sampai maut memisahkan mereka.
"Tidak akan aku lepaskan kamu, Ay. Kamu harus tahu itu," ucapnya pada nama yang ada di dalam lingkaran cincin, benda yang baru saja ia lepaskan.
Lantas ia memakai kembali cincin itu ke jari manis kanannya, ia cium benda kecil itu. Benda yang sudah terukir tiga nama.
"Semoga kamu tahu, Yas. Kalau untuk berpisah denganmu sama saja kamu membunuhku secara perlahan. Karena baik Alifa maupun kamu, kalian kini berada di setiap helaan napas. Tidak bisa begitu saja pergi, terkecuali kehendak Sang Ilahi."
__ADS_1
Kalimat yang baru saja di ucapkan Alfin, di dengar baik-baik oleh Alifa. Ia yang sedari tadi hanya berpura-pura tidur itu tahu apa yang tengah menerpa hati sang suami.
'Apa maksud Mas Alfin, Yas? Apakah kamu,' ucap Alifa dalam hati yang tidak mampu ia lanjutkan. Ia tidak mau menerka-nerka akan hal buruk. 'Tidak,' sambung wanita itu dalam hati.