Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 074 # Rasa Itu Kembali Muncul


__ADS_3

Sinar matahari sore memang indah, apalagi saat terlihat sebentar-sebentar lantaran tertutup dedaunan. Di sana, duduk seorang wanita dengan tasbih digital di jari tangannya. Dalam hati meng-gumamkan asma Allah, namun di bibirnya terbit senyum yang lebar karena lagi-lagi ia bahagia akan kejadian yang tak terduga seperti semalam.


Kebahagian itu kembali hadir saat ia mendengar mobil Alfin terparkir di halaman rumahnya. Senyumannya begitu lebar, langkahnya pun sama. Setengah berlari dia berjalan mendekat ke halaman.


"Alifaa!" teriak Yasmine begitu turun dari mobil.


"Salam dulu, Ayang," ucap Alfin yang baru saja menutup pintu mobil.


"Ya Allaah, apa ini mimpi?" tanya Alifa.


Kedua wanita itu berpelukkan. "Ini bukan mimpi, Lifa. Tapi kenyataan yang indah. Aku mau tidur di sini lagi," kata Yasmine.


"Sayang, Ayang, aku masuk dulu ya," pamit Alfin. Ia tengah banyak kerjaan, dan masih banyak yang akan ia kerjakan di rumah.


Kedua istrinya hanya menjawab dengan anggukan, tak perduli suami mereka itu akan apa.


"Kenapa harus bilang tidur di sini, mau tinggal kembali di sini saja aku akan sangat bahagia, Yas."


"Enggak bisa. Kalau tinggal di sini, aku takutnya nanti kamu bakalan bosan karena sikap aku yang bolak-balik," ucap Yasmine dengan senyum lebar dan jujur. "Kenapa aku ingin nginap di sini, ini semua bukan inginku, tapi inginnya anak kita yang lagi pengin di elus sama mamanya," sambung Yasmine.


"Iya-iya, apapun alasannya. Aku tetap senang Yas," ucap Alifa. "Mau duduk dulu tidak, di sana?" tanyanya menunjuk ke arah taman.


"Ayo, kita ngeteh sore." Yasmine menarik tangan Alifa dan berjalan ke arah taman.


"Yas, pelan-pelan jalannya," tegur Alifa.


"Hush, kata temen aku kalau hamil nggak boleh terlalu lemah, biar bayinya kuat," Yasmine tak menghiraukan apa yang di katakan Alifa. Ia tetap berjalan hingga akhirnya sampailah mereka di kursi yang bisanya di pakai ngeteh mereka berdua. Di bawah pohon, dengan tanaman berbunga di depan mereka.


"Kamu duduk dulu ya, aku buatkan teh," ucap Alifa.


"Eh, aku mau ikut." Yasmine beranjak dan mengikuti langkah Alifa.


Akhirnya keduanya berjalan menuju dapur. Alifa membuat teh dan Yasmine mengambil teman teh. Alifa membuat teh manis hangat tiga cangkir, yang dua untuk mereka dan satunya lagi untuk Alfin yang kini tengah di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Ini, punya Mas Alfin, aku atau kamu yang antar?" tanya Alifa sembari menunjuk secangkir teh. Bukan tanpa alasan dia menanyakan hal itu pada Yasmine. Karena mau seperti apapun, minggu ini adalah jatah waktu untuk Yasmine. Jadi, dia tidak ingin menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini.


"Mmm, aku aja deh," ucap Yasmine.


"Ok! aku bawa ini ke taman ya," kata Alifa.


Yasmine mengangguk. Lantas kedua wanita itu pergi ke arah yang berbeda dengan cangkir yang isinya sama.


Yasmine naik ke lantai dua, sedangkan Alifa berjalan lurus menuju ke taman.


"Suami Bucin!" panggilnya saat mengetuk pintu ruang kerja sang suami.


"Iya, Ayang. Masuk saja," kata Alfin dari dalam ruangan.


Yasmine membuka pintu, ia tersenyum. "Ini, teh buat Suami Bucin, bukan buatan aku kok. Tenang saja," ucapnya sembari menaruh cangkir di meja.


Alfin tersenyum, "mau buatan kamu atau buatan Alifa. Sama saja kok, sama-sama enak," jawabnya dengan senyum yang lebar. "Makasih ya," sambung Alfin.


"Ya, sudah. Selamat berkerja my husband, aku mau ngeteh dulu sama Alifa." Yasmine memutar tumit dan pergi dari sana setelah mengecup sekilas pipi sang suami.


Alfin tersenyum lebar, mengusap pipinya yang selalu hangat saat baru saja di kecup oleh Yasmine maupun Alifa.


Sementara itu, Yasmine dengan cepat berjalan menuruni tangga. Hingga sampailah dia di taman dengan senyum yang lebar. Perempuan cantik itu juga lantas mengecup pipi sang sahabat.


Namun perlakuan Yasmine yang seperti itu sudah tak mengherankan bagi Alifa. Kedua wanita itu lantas menikmati sorenya dengan menyesap teh hangat favorit mereka. Ditemani dengan suara lantunan indah yang sengaja di putar di ponselnya oleh Yasmine.


"Di mana, Mas Alfin?" tanya Alifa.


"Di ruangan kerja," jawab Yamanie. "Di rumah dia sibuk terus di depan laptop, ya sudah mending ke sini 'kan aku," sambung Yasmine.


Alifa tertawa, "hehe memang seperti itu, suka sibuk kalau lagi banyak kerjaan."


"Iya, makanannya malas banget 'kan di cuekin. Mending di sini sama kamu," kata Yasmine lagi.

__ADS_1


"Hihi, dasar kamu tuh. Berarti Mas Alfin harusnya sibuk terus ya, biar kita bisa berduaan kayak gini," ucap Alifa.


"Iya, benar-benar."


Keduanya lantas tertawa bahagia. Ah, begitu indah sore ini. Dua wanita berjilbab panjang yang tengah menikmati teh hangat dengan bersenda gurau. Menceritakan segala sesuatu yang berbau lucu. Yang jelas keduanya melebarkan senyum mereka.


...❤️❤️❤️...


Kamar yang semalam di huni tiga manusia, malam ini kembali seperti semalam. Tiga manusia yang terdiri dari satu suami dan dua istri itu kembali tidur di atas satu ranjang.


Tak lagi canggung, bahkan kedua wanita itu berebut saat memeluk pria yang sudah berbaring di tengah-tengah mereka. Bahkan Alifa dan Yasmine malah mengajak bercanda, menggelitik perut Alfin. Tak tinggal diam Alfin pun sama, ia menggelitik perut kedua istrinya.


Begitu indah di pandang, Yasmine tertawa lebar lantaran kegelian. Begitupun Alifa yang sama-sama merasa geli.


Tawa mereka pecah, bahagia itu benar-benar terasa sampai hati. Tangan Alfin masih bergeraklah ke perut kedua istrinya. Tangan kanan menggelitik Alifa, tangan kiri menggelitik Yasmine. Sampai akhirnya istri ke-duanya itu minta ampun lantaran tiba-tiba perutnya kaku.


"Ampun, Al. Perutku sakit," ucapnya meringis dengan memeluk perut.


"Ya Allaah, kamu kenapa, Yas?" tanya Alifa khawatir.


"Ya Allaah, Ayang. Kamu kenapa?" Alfin langsung menyuruh Yasmine berbaring dan mengusap lembut perut istrinya itu.


"Ke rumah sakit ya?" tanya Alfin penuh kekhawatiran.


Sementara Alifa, ia langsung turun dari ranjang dan keluar kamar. Ia mengambil air hangat untuk sang madu.


Begitu dapat ia membawa kembali ke kamar dan menaruhnya di atas nakas. Ia lantas jongkok di samping ranjang. "Masih sakit, Yas?" tanyanya.


Yasmine yang berbaring dengan mata terpejam itu mengangguk.


"Maafin aku ya, Ayang. Gara-gara aku kamu jadi sakit," ucap Alfin penuh kekhawatiran. Tangan kirinya mengusap kepala Yasmine, tangan kanannya mengusap perut. Tak mengerling barang sedikit saja ke arah Alifa.


Alifa bisa melihat itu dengan jelas. Raut khawatir itu sama, seperti saat dia yang sakit. Ia juga merasa khawatir dan takut, jangan sampai bayi yang ada di rahim Yasmine kenapa-napa. Namun, jujur saja, dalam hati perempuan itu ada rasa yang aneh. Sedikit saja, di sudut hatinya. Rasa cemburu yang muncul dengan sendirinya, yang tengah ia tepis rasa itu dengan istighfar di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2