
Setelah sang adik ipar tidur, Zahra menceritakan segalanya pada sang suami. Ia mengatakan bagaimana sedihnya Yasmine pada suaminya. Ia juga mengatakan segalanya, sampai keinginan adik ipar untuk menyerah dari rumah tangganya.
"Aku sudah mengira akan seperti ini," ucap Yahya di sebrang sana. Di dalam layar ponsel.
Ia tengah memandangi wajah sang adik di layar ponselnya, Yasmine tengah terlelap di kasurnya.
"Biarkan saja dia di sana terlebih dulu, besok suruh dia izin agar tak mengajar. Besok aku pulang, aku ingin bicara dengannya, dia pasti tengah membutuhkan ku," kata Yahya lagi.
Zahra mengangguk. "Iya, Mas. Aku kasihan sekali padanya. Aku masih ingat betul saat kita lamaran, dia begitu sedih. Tapi ternyata, hari ini ia lebih sedih."
"Maaf ya, merepotkan kamu," kata Yahya.
"Kamu apaan sih, Mas. Dia sudah seperti adikku sendiri. Jangan pernah mengatakan seperti itu lagi, karena aku nggak suka, Mas."
"Maaf, Sayang. Aku hanya bersyukur mendapatkan istri yang sangat baik sepertimu."
"Inilah gunanya suami-istri, Mas. Aku harap keputusan Yasmine benar ya, Mas. Walaupun aku kasihan nanti jika berpisah, entah bagaimana anak mereka," ucap Zahra dengan menatap sang suami.
"Masalah anak mudah, Sayang. Anaknya pasti akan mendapatkan banyak kasih sayang. Justru yang aku khawatirkan adalah Yasmine. Jika sudah pisah, lantas sering bertemu, itu jelas tidak baik untuk hatinya," kata Yahya dengan wajah sendu.
Dia tidak pernah menyangka jika sang adik harus mengalami seperti ini. Ia pikir, setelah baik-baik dengan Alfin, adiknya akan semakin bahagia karena bisa bersama dengan sang sahabat. Tapi nyatanya, justru sebaliknya.
Zahra hanya bisa menatap sang suami dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya, sudah kamu istirahat. Tidur, jangan kelelahan. Karena nanti kalau aku sudah pulang, aku mau membuatmu lelah," ucap Yahya dengan senyum di wajahnya.
"Siap," jawab Zahra dengan senyum juga. Namun keduanya tidak melanjutkan candaan itu, karena mereka sama-sama sedih karena keadaan Yasmine.
"Besok aku pastikan pulang," ucap Yahya lagi.
Zahra mengangguk, "bilang sama Ibu, kalau Yasmine lagi menginap di sini. Biasanya ikatan ibu dan anak sangat kuat. Takutnya, tiba-tiba ibu merasa khawatir," katanya pada sang suami.
...π...
Pagi di depan rumah Zahra begitu indah. Halaman yang penuh dengan warna hijau itu begitu segar di pandang mata, terlebih saat sinar matahari yang mulai muncul ke permukaan, membuat sedikit cahaya yang membuat dedaunan berkilau.
__ADS_1
Yasmine, yang kini sudah cantik dengan pakaian yang diberikan oleh sang kakak ipar itu tengah duduk di teras memperhatikan istri dari kakaknya yang tengah menyiram tanaman.
"Di sini sejuk ya, Kak."
Zahra menoleh ke arah Yasmine yang tengah duduk sila memperhatikan dirinya. "Iya, kamu betah tidak kalau di sini lama?" tanyanya.
Yasmine tersenyum lebar, "aku di mana saja betah Kak. Kemarin setelah empat bulanan, aku menginap di rumah Umi," katanya menjelaskan.
"Oh, ya?" tanya Zahra memastikan. Yasmine mengangguk mantap. "Nanti, Mas Yahya pulang. Jadi, kamu tetap di sini dulu ya," sambung Zahra.
"Iya, aku juga masih malas pulang. Aku males ke rumah itu lagi." Yasmine lantas beranjak dan mendekat ke arah mobil sang kakak.
"Kok, Kak Yahya nggak bawa mobil ini, Kak?" tanya Yasmine. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tak suka jika harus mengingat kembali tentang rumah dan ... Alfin, ah rasanya Yasmine tidak ingin bibirnya mengucapkan nama itu. Jujur saja ia masih kesal, karena jawaban Alfin padanya dan pada Alifa berbeda. Jawaban yang membuatnya sakit hati.
Zahra memperhatikan di mana Yasmine berdiri di samping mobil sang suami. Ia mengangguk, "iya. Kemarin Mas pergi dengan sekertaris nya, katanya mobilnya baru, jadi pakai mobil dia," jelasnya.
Yasmine menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali memutar tumit dan mendekat ke arah sang kakak ipar. "Mangga nya belum berbuah lagi ya, Kak?"
"Ya, belum dong. 'Kan belum musim lagi." Jawab Zahra sembari menggulung selang dan menaruhnya kembali di bawah keran.
"Ck, belum lapar, Kak. Pengin jalan-jalan deh," ucapnya.
"Jalan kaki, mau?" tawar Zahra. "Sambil cari sarapan yang Yasmine mau," sambungnya.
"Mau," jawab Yasmine dengan anggukan antusias.
"Sebentar ya, Kakak izin dulu sama Mbak Cucu." Zahra berlalu ke dalam rumah untuk mengatakan bahwa dia akan pergi mengantar sang adik ipar jalan-jalan.
Yasmine menunggu sembari melihat sekeliling. Komplek tempat tinggal Zahra memang tidak se ramai tempat tinggalnya ataupun tempat tinggal ibunya. Di sana lebih seperti di desa, mungkin karena tempatnya yang jauh dari kota.
Tak lama setelahnya, Zahra keluar dengan dompet kecil di tangannya. Lantas keduanya pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan halaman rumah.
Jalanan di sana lumayan lengang, tidak terlalu banyak kendaraan. Kendati rumahnya padat, namun terlihat sepi. Menurut penuturan Zahra, mayoritas orang di sana adalah pedagang pasar dan makanan keliling. Jadi, setiap jam pagi di sana selalu sepi. Akan ramai kembali saat sore hari sampai malam.
Rumahnya pun tidak besar-besar, ada beberapa yang berlantai dua. Namun itu karena tanahnya yang sempit, jadi di buat tinggi.
__ADS_1
Dua perempuan cantik berjilbab panjang itu berjalan dengan santai, sesekali akan menyapa orang jika tengah melewati sebuah warung kecil yang penjualnya tengah duduk sembari ngopi di depan warungnya.
Sebentar saja, Yasmine bisa melupakan kesedihannya. Ia bahkan sangat senang saat jalan-jalan di sana. Rasanya ia ingin tetap tinggal di sana, selain tempatnya yang nyaman, di sana juga tenang. Cocok untuk dirinya yang menyukai keheningan.
"Enggak capek 'kan, Yas?" tanya Zahra saat ia melihat keringat di dahi Yasmine.
"Enggak, aku malah seneng," jawabnya dengan senyum lebar.
Kini keduanya sudah sampai di perempatan jalan. Di sana terdapat begitu banyak tenda yang kata Zahra hanya akan ada di waktu pagi dan malam hari saja.
Banyak sekali tenda jualan yang terpasang di pinggir jalan, dan semua tenda sangat ramai Yasmine sampai terdiam di tempatnya, bingung akan melanjutkan jalan ke kanan atau ke kiri.
"Kamu, mau sarapan apa?" tanya Zahra lagi, sekandi menyodorkan tisu untuk sang adik ipar.
Yasmine menerima tisu dan mengelap dahinya. "Mmm, apa ya Kak? Aku jadi bingung," jawabnya.
"Hehe, mau ke pasar pagi nggak? Nggak jauh dari sini, siapa tahu kamu pengin di masakin sesuatu," tawar Zahra saat sang adik ipar kebingungan.
"Wah, boleh tuh," jawab Yasmine dengan semangat.
Lantas Yasmine pun mengikuti langkah Zahra yang melangkah kan kakinya, belok ke kana dan jalan terus melewati deretan tenda penjual sarapan.
Hingga sampailah mereka di jalan yang penuh dengan lalu-lalang orang. Ada yang jualan dan ada yang membeli. Seperti biasa, Yasmine hanya akan membuntuti seseorang jika di ajak je tempat belanja. Dia hanya akan maju saat ada yang menjual cemilan. Karena untuk masalah masakan ia tidak tahu sama sekali.
Hingga saat Yasmine melewati sebuah toko yang menjual berbagai baju anak, ia berhenti sejenak untuk sekedar melihat. Sebenarnya ia ingin membelinya, namun ucapan ibu akan kata-kata pamali membuatnya mengurungkan keinginannya.
Lanjut dia mengatakan kepada sang kakak ipar kalau dia ingin memakan semur ayam, dan tentu saja Zahra langsung membelikan bahan-bahan untuk masak keinginan Yasmine.
Yasmine yang tidak pernah ke pasar hanya bisa meringis saat melihat tempat pemotongan ayam.
Lanjut membeli sayuran, dan terakhir keduanya lantas sarapan bubur ayam. Yasmine terlihat tak terlalu selera, ia bahkan hanya mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuk tersebut.
"Ayo, di makan. Kasihan si utun, dia pasti sudah kelaparan," ucapan Zahra langsung membuat Yasmine sadar akan bayi yang ada di dalam kandungan. Perempuan itu lantas memakan buburnya.
Sudahlah, pikirnya. Ia harus memikirkan dirinya sendiri, lepaskan tali yang mengikat terlalu kencang agar dada tak lagi sesak. Kini, dia harus bisa memikirkan hatinya, membuat bahagia walau akhirnya harus sendirian.
__ADS_1