
Tangannya mengusap lembut perut yang kini sudah membuncit, ia tersenyum saat mengingat bagaimana bunyi detak jantung sang buah hati. Bahkan ia sampai memeperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Sayang ... jika nanti keputusan ibu di setujui ayah kamu, kamu jangan marah ya. Ibu janji, akan selalu ada buat kamu selagi napas masih bersama ibu," katanya.
"Entah kenapa, sekarang Ibu jadi sedikit-dikit melow, bawaan kamu apa ya?" tanyanya aneh.
"Huhh," dia mengembuskan napas kasar. "Padahal, ibu pengin banget nengok kamunya sama Ayah. Tapi kayaknya itu nggak akan terjadi," sambungnya pilu.
"Nggak papa ya, nanti kita bawa Uncle Yahya saja ya, sama Kakek. Buat gantiin sosok ayah, buat kamu."
Tes. Air matanya kembali menetes. Percayalah, begitu susah menabahkan hati agar tidak bersedih. Karena pada kenyataannya, hati lebih ber-perasa.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang yang sangat di kenali oleh Yasmine.
Mendengar suara tersebut, ibu hamil itupun lantas menoleh ke arah pintu. "Kakak," ucapnya terkejut. "Wa'alaikumsallam." Sambungnya sembari bangun dari tidurannya dengan mata yang berkaca-kaca saat Yahya mendekat ke arahnya.
Setelah duduk dengan sempurna di ranjang, sang Kakak pun lantas mengulurkan tangan. Lalu begitu sang adik sudah salim, tak menunggu lama lelaki yang sangat menyayangi adiknya itu langsung memeluk erat sang adik, ia langsung duduk di sebelah Yasmine dan menenggelamkan wajah wanita hamil itu di dadanya.
"Kenapa, Nangis? Rindu sekali kamu sama aku," ucap Yahya degan suara yang bergetar. Mendengar tangisan sang adik ia ikut merasakan sedihnya. Ia masih ingat betul kapan sang adik menangis seperti itu. Dulu ... saat adiknya tahu kalau calon suaminya meninggal dan di ganti dengan Alfin yang kini tengah menjadi suaminya.
Yasmine mengangguk di dalam dekapan sang kakak, ia tahu sang kakak tengah membuatnya agar tak menangis. Tapi nyatanya, itu malah membuatnya semakin menangis.
"Sudah ya, tenang dulu. Ada kakak," ucap Yahya menenangkan sang adik.
Yasmine lantas mengurai pelukan saat dia merasa sudah sedikit tenang. Di tatapnya sang kakak yang terlihat berwajah sendu, namun dengan bibir yang tersenyum lebar.
Tangan Yahya terulur mengusap pelan pipi sang adik, menghapus jejak-jejak air mata yabg bahkan membuat bajunya basah.
__ADS_1
"Sudah puas, nangisnya?" tanya Yahya. Yasmine menggeleng. Lelaki itu lantas tertawa, "sudah dong. Jangan nangis terus, sayang 'kan perawatan wajah kamu," sambung lelaki itu.
"Ck," Yasmine berdecak sembari memukul kencang lengan sang Kakak.
"Kok, sudah pulang?" tanya Yasmine.
"Iya, rindu sama Zahra," jawab Yahya dengan jahilnya.
Yasmine memajukan bibir bawahnya. "Iya, paham yang sudah bucin."
"Aku bawa dodol kesukaan kamu, kamu mau nggak?" tanya Yahya lagi. Yasmine mengangguk.
"Mau di gendong?" tanya Yahya lagi. Yasmine tertawa, tapi ia juga mengangguk.
Lantas Yahya jongkok di depan Yasmine, sang adik pun lantas membawa tubuhnya untuk menempel di punggung sang kakak. Tantu saja tidak terlalu menempel karena dia tidak mau sang anak kenapa-napa.
Selagi me ni k m a t i makanan mereka tidak ada yang membahas tentang Yasmine dan Alfin. Karena Yahya menang belum ingin berbicara tentang itu, melihat sang adik yang langsung menangis saat melihatnya membuat dia tidak tega jika sekarang harus kembali membahas hal yang menyakitkan bagi sang adik.
...πππ...
Hingga saat malam tiba, saat shalat isya sudah selesai. Yahya kembali duduk berdua dengan sang adik. Kini dia mengajak Yasmine untuk duduk di teras, tentu saja dengan sang istri.
Dengan teh hangat di meja, mereka duduk saling berhadapan. Yahya memperhatikan sang adik yang duduk di depannya, di samping Zahra.
"Zahra sudah cerita, Yas," ucap Yahya membuka pembicaraan. Yasmine mengangguk.
__ADS_1
"Apa keputusan kamu sudah bulat?" tanya Yahya lagi.
"Sebelum aku mendengar Lifa bertanya tentang pilihan pada Alfin, aku sudah ingin mengakhiri pernikahan ku kak," ucap Yasmine. "Aku sudah mulai menerima segalanya, mencoba sabar dan ikhlas. Tapi, ternyata semua itu sulit Kak."
"Pertama, aku pernah merasa sedih saat aku seolah-olah tidak di inginkan oleh Alfin. Ya ... aku tahu, kita terpaksa waktu itu. Lalu, aku merasa jahat karena aku menginginkan Alfin seutuhnya, saat Alfin sudah bisa menerima diriku. Tapi entahlah aku selalu saja merasa aneh, saking tidak bisanya dia berbuat baik kepadaku. Maksudnya, sebaik dia memperlakukan Lifa," sambung Yasmine.
Zahra yang duduk di sebelahnya hanya bisa mengusap punggung Yasmine. Sementara Yahya hanya bisa mendengar penuturan sang adik. Karena jujur saja, dia pun baru mendengar itu.
"Aku selalu sedih, Kak. Saat banyak yang bertanya tentang bagaimana suami aku, di mana, dan semua tentangnya yang tidak bisa aku ceritakan. Terlebih aku sedih saat aku ingin berdua saja, tapi waktu selalu tidak berpihak dengan baik padaku."
"Kemarin, saat sorenya aku mendengar pertanyaan Alifa pada Alfin. Siangnya di sekolah, Bu Zahra mengatakan padaku bahwa dia melihat Alfin di rumah Alifa, dan dia bertanya kepastiannya. Aku ke rumah Alifa sebenarnya buat minta saran, yang baik buat aku harusnya kayak gimana, jujur aku bingung Kak, aku nggak tahu harus apa, sementara semakin lama semua orang jelas tahu tentang aku," kata Yasmine menjelaskan.
Yahya menganggukkan kepalanya, ia membenarkan apa yang di katakan sang adik. Mau seperti apapun jalannya dia menjadi istri ke dua, tanggapan orang lain jelas tidak akan baik padanya.
"Kalau nanti, Alfin nggak mau pisah, bagaimana?" tanya Yahya.
Yasmine mengedikan bahu. "Egois kalau gitu," ucapnya. "Aku sudah jatuh ke dalam cinta yang begitu dalam Kak. Aku nggak mau nanti cintaku merebut Alfin dengan paksa dari Lifa. Makanya aku ingin menyerah, dan jika Alfin tidak mau melepaskan ku, aku akan pergi tanpa pamit Kak. Aku nggak mau sakit, dan aku nggak mau menyakiti Lifa," jawab Yasmine lagi.
"Sebenarnya, untuk masalah seperti ini aku bingung kasih solusi Yas," ucap Yahya. Di mengembuskan napas kasarnya. "Sekarang kamu tenang dulu, selagi Lifa belum tahu kalau kamu sudah mendengar jawaban Alfin kemarin. Kamu biasa saja dulu, hadapi harimu dengan seperti sebelum ini. Kalau memang mau di sini atau di rumah ibu, kamu masih harus minta izin. Karena sekarang Alfin tidak tahu tentang perasaanmu. Dia dan Alifa tidak tahu, kalau kamu mendengar apa yang mereka katakan."
Zahra mengangguk, pun sama dengan Yasmine.
"Nanti, kalau sudah di izinkan. Kita bicarakan dengan ibu dan Ayah. kita tetap butuh solusi dari mereka. Kita jelas akan susah jika melakukan semuanya dengan gegabah. Memutus tali silaturahmi tidak baik Yas, jadi kita harus memikirkan semuanya dengan matang. Kita harus bisa bicara dengan baik-baik."
Yahya masih bicara panjang lebar. Sebagai kakak ia jelas tidak ingin sang adik menjadi masalah dari kekeluargaan yang sudah terjalin begitu lama. Apalagi dengan persahabatan sang adik dan Alifa yang sudah sangat erat. Tidak bisa di hilangkan begitu saja.
__ADS_1
Yahya ingin mereka tetap berbaikan, tetep menjaga tali silaturahmi.