Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 127 # Deg-degan


__ADS_3

Bentangan langit malam ini begitu indah, ditaburi begitu banyak bintang yang membuat sedikit bercahaya di angkasa sana. Kendati bulan tak terlihat, namun tetap saja sinarnya mampu membuat manusia kagum akan keindahan malam.


Rasa syukur pada Yang Maha Kuasa akan keindahan pun di ucap oleh seseorang yang kini tengah menikmatinya.


Walaupun dia hanya seorang diri, namun tak ada rasa sepi di sana. Ia tengah tersenyum akan jawaban yang sudah ia berikan siang tadi pada seseorang yang ingin menghalalkannya.


"Saya, sebenernya belum ingin ke arah sana, Mas Arya. Saya masih nyaman akan kesendirian," begitu ucapnya tadi siang pada seseorang.


"Boleh shalat istikharah dulu, Mbak Yas. Saya juga akan melakukan hal yang sama, siapa tahu jawaban dari shalat kita sama. Apa, Mbak Yas mau?" tanya Arya tadi siang.


"Baiklah, In Syaa Allaah," begitu akhirnya jawaban dari Yasmine.


Kini, ia di landa kebingungan, ia sudah berada di batas nyaman. Namun, ternyata kenyamanannya tidak membuat sang anak juga merasakan demikian. Justru Taqa malah sebaliknya.


Lama wanita cantik yang gemar sekali menyendiri di balkon itu di sana. Jika tadi ia hanya memandang pemandangan indah di atas sana. Kali ini dia tengah duduk dengan Al-Qur'an nya.


Membaca ayat-ayat suci akan membuatnya lebih merasa tenang, dan lupa akan permintaan sang anak akan sosok seorang ayah. Walaupun pada akhirnya, saat setelah selesai ia kembali mengingat kata sang anak saat itu.


"Ibu tahu, Max?"


"Mami Max melarang dia untuk bertemu dengan papinya, tapi papinya tetap memaksa ketemu Max di sekolah. Dan bu guru nggak pernah marah, bu Jess membolehkan saja. Aku pernah berharap seperti itu, tiba-tiba ayah datang menemui ku di sana. Tapi, nyatanya ...."


Wanita itu lantas tersenyum sinis, "itu semua karena permintaan ibu, Nak. Ya, walaupun entahlah kenapa dia tidak pernah nekad saja untuk bertemu denganmu. Mungkin jika dia tetap kukuh untuk menengok dirimu, lama-lama ibu bisa luluh dan ...," kalimatnya menggantung.

__ADS_1


"Semuanya akan kembali seperti dulu," sambungnya saat memikirkan untuk mengganti kalimat yang tidak ingin ia ucapkan.


...----------------...


Setelah hari itu, Yasmine seolah menghindar dari Arya. Selepas mengajar ia akan duduk terlebih dulu di dalam aula yang di pakai untuk mengaji anak putri. Jika anaknya sudah selesai, maka ia akan menunggunya di depan aula.


Entahlah, Yasmine merasa kurang mantap akan jawaban yang akan ia berikan. Ia masih harus mempertimbangkan segalanya. Apalagi, ini bukan untuk sementara. Lagipula, jujur saja ia masih takut jika nanti apa yang ia rencanakan gagal dan berkahir menjadi kesedihan.


Sampai di mana saat malam, selepas isya Arya datang dengan sang ibu. Dan itu semua membuat Yasmine kelimpungan, ia bingung antara menemui atau tidak. Tapi, tentu saja walaupun rasa berdebar tidak karuan, ia tetap saja membukakan pintu dan bersikap biasa-biasa saja. Walaupun itu semua sangat ketara.


"Assalamu'alaikum, Nak Yasmine," sapa ibu Sufi.


"Wa'alaikumsallam, Ya Allaah ... ibu tumben sekali malam-malam ke sini, mari silakan masuk," kata Yasmine.


Setelah salim pada ibu Sufi, perempuan yang usianya setara dengan ibu Radiah itu lantas masuk dengan sang putra. Duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Makasih, Mbak Yas, jadi repot-repot," kata Arya.


Yasmine hanya tersenyum kikuk. "Taqa sudah tidur?" tanya ibu Sufi.


"Belum, lagi menghapal biasanya kalau jam segini, mau saya panggilkan?" jawab Yasmine yang lanjut dengan bertanya balik.


"Tidak usah, Nak Yasmine," ibu Sufi tersenyum. "Apa kamu penasaran, Nak, kenapa ibu dan Arya ke sini malam-malam?" sambung ibu dengan bertanya.

__ADS_1


Yasmine mengangguk. "Iya, tumben sekali," jawabnya gugup. Sebenarnya, ia sudah bisa menerka-nerka, hanya saja tidak mau terlalu ge-er.


"Pertama-tama, maaf jika kedatangan saya dan anak saya ini mengganggumu, Nak Yasmine," ucap ibu Sufi. Yasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Jangan tanya apa yang dia rasakan, sungguh deg-degan tidak karuan.


"Yang kedua, saya dan Arya ingin menanyakan, bagaimana, jawaban dari shalat kamu. Karena anak saya ini sudah mengatakan segalanya, dan dia memang bukan orang yang pandai berbohong, dia Selalu mengatakan apapun pada ibunya ini," sambung ibu Sufi.


"Dan yang ketiga, bagaimanapun jawabannya. Saya dan anak saya ke sini, bertujuan untuk melamar Nak Yasmine, siapa tahu berkenan untuk menjalani sisa hidup bersama dalam ikatan halal, mencari jalan menuju Surga 'Nya bersama-sama, karena ... selain usia kalian yang sudah sangat dewasa, kalian juga sudah lumayan lama kenal, pastinya sedikit-sedikit pasti tahu kehidupan masing-masing, walaupun hanya sekilas," lanjut Ibu Sufi yang langsung membuat dada Yasmine semakin berdebar kencang. Rasa cemas langsung melandanya. Perutnya mulas, dan mulutnya kaku tak bisa mengeluarkan kata-kata.


Bahkan untuk menelan ludah saja rasanya sangat susah, seolah-olah ada sesuatu di tenggorokannya. Dan yang bisa ia lakukan adalah mengatur napas dan tersenyum selembut mungkin, agar rasa yang ia tengah rasakan tak terlalu terlihat.


Yasmine menoleh dan mengembuskan napas pelan, lantas istighfar dan membaca basmalah.


"Ibu Sufi, yang pertama. Kedatangan ibu dan Mas Arya tidak mengganggu sama sekali. Yang kedua, jawaban dari salat saya belum jelas," jawabnya bohong. "Dan yang ketiga ini, saya masih belum tahu Bu, untuk masalah lamaran saya harus meminta pendapat dari kedua orangtua saya dan kakak saya dulu, apa tidak apa-apa?" akhirnya itu yang keluar dari mulut Yasmine.


Ibu Sufi tersenyum lebar. "Tentu saja boleh, Nak Yasmine. Keluarga itu penting, jika mau, nanti saat ke sana bisa mengajak Arya, tenang saja bisa dengan mobil masing-masing," kata ibu Sufi.


"Agar semakin mudah dibicarakan. Biasanya orangtua menginginkan keseriusan, dan serius itu biasanya harus mau menemui keluarganya terlebih dulu, sebelum benar-benar mendapat jawaban," sambung ibu.


"Benar, Mbak Yas. Saya juga sudah sering ngobrol dengan Mas Yahya, dan Pak Ilyas, beliau pasti tidak akan menolak saya," ucap Arya dengan senyum lebar di akhir kalimatnya. Sengaja, dia mengatakan itu agar Yasmine tak terlihat kaku. Ia lebih suka perempuan itu saat bicara dengan nada kencang tapi enak di dengar.


Benar saja, Yasmine tersenyum. "Bisa saja. Jangan ke pe-de an dulu, Mas Arya."


Ibu Sufi juga tertawa, "iya jangan di bawa pusing Nak Yasmine. In Syaa Allaah, kalau Allah meridhoi pasti akan mudah jalannya," begitu kata ibu satu anak itu.

__ADS_1


"Iya, saya tahu Bu. Sebenarnya, saya ada rasa trauma sedikit Bu," ucap Yasmine sembari menunduk. "Saya pernah dua kali gagal menikah, dan ketiga kalinya harus--"


"Mbak Yas, jika menyakitkan tidak perlu di ceritakan. Mbak Yas hanya boleh pasrah pada Allah, In Syaa Allah, rasa trauma yang ada bisa hilang saat Mbak Yas mau menyerahkan segalanya pada Yang Maha kuasa," Arya segera memangkas kalimat Yasmine. Dan itu membuat janda beranak satu itu sebentar mendongak, melihat ke arah lelaki yang kini tengah tersenyum namun menunduk.


__ADS_2