
Yasmine menggandeng lengan umi, keduanya berjalan menuju ruang tengah. Di sana semua sudah duduk. Terlihat juga mbak Fifi yang tengah sibuk dengan melayani para tamu, menyuguhkan minum sesuai keinginan mereka, tentu saja di bantu Alifa si paling rajin.
"Sini, Nak. Duduk di samping Mama," ucap Mama Widia menepuk sofa di sebelahnya, yang memang masih cukup untuk dua orang.
"Ayo, Mi," Yasmine lantas duduk di sebelah mama Widia, dan Umi di sebelahnya.
"Berapa minggu, Nak, cucu pertama Mama?" Tanya Mama dengan mengusap perut Yasmine.
"Sepuluh minggu, Ma," jawabnya. Lalu wajah ibu hamil itu mengerucut. "Enggak asyik loh sebenarnya ini," ucapnya kesal. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Kenapa memangnya, Yas?" tanya Alifa khawatir. Takut mood Yasmine sedang tidak baik, dan tidak ingin ramai-ramai.
"Harusnya aku yang datang nanti malam, kasih kejutan. Ini malah aku yang terkejut," kata Yasmine.
Alifa mengembuskan napas lega, ternyata itulah alasannya. Ia bahkan tersenyum lebar, "maaf ya, ini ide aku, aku yang minta."
"Enggak papapa kok, aku seneng banget sebenarnya. Cuma masih nggak percaya aja, kini semuanya sudah tahu."
"Alifa bahagia sekali, Nak. Makanya buru-buru memberitahu kami, juga mengajak kami ke sini memberi kejutan untuk kamu," ucap Abi yang duduk di pojok kanan.
Yasmine tersenyum menatap sang sahabat yang kini tengah berdiri memeluk nampan, dan tersenyum ke arahnya. "Dia memang terbaik, Bi. Semalam dia menyambut kabar bahagia ini dengan penuh kemewahan. Antara suasana dan hati, Alifa benar-benar keren," ucapnya setengah menangis. Membuat semua orang yang ada di sana mengangguk setuju.
Yasmine berdiri, lantas berjalan mendekat ke arah Alifa. Tak menunggu lama, ibu hamil itu lantas memeluk sang madu. Membuat Alifa balas memeluk setelah menaruh nampan di atas lantai. "Dia ini adalah malaikat," ucap Yasmine dalam dekapan Alifa.
Alifa menggelengkan kepalanya, ia mengusap punggung Yasmine. "Bukan Yas, aku hanya manusia biasa."
"Tapi, hatimu besar sekali," ucap Yasmine.
"Itu karena rasa sayangku sama kamu yang besar," kata Alifa.
Tak ada yang tidak mengeluarkan air mata. Bahkan mbak Fifi saja sampai bolak-balik mengusap air mata yang keluar karena haru. Melihat antara istri pertama dan istri kedua begitu rukun. Bahkan semakin indah persahabatan mereka saat setelah menjadi madu. Pikir mbak Fifi.
"Sudah. Kamu tidak boleh sedih. Ibu hamil harus tetap senang, ya 'kan semuanya?" tanya Alifa pada semua orang yang tengah sama-sama mengusap sudut mata mereka.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ibu hamil itu harus happy," ucap Ibu. "Ayo, Mbak Fifi keluarkan makanan kita," sambung ibu.
"Eh, jangan dulu dong!" cegah Yasmine.
"Kenapa, Nak?" tanya Umi.
"Kita tunggu Alfin dulu, nanti setelah itu, baru deh kita makan," katanya dengan manggut-manggut.
Alifa mengangguk setuju, "iya benar. Aku sampai lupa, kalau mas Alfin belum pulang," katanya.
"Ya sudah, makan makanan ringan dulu kita," ajak Ayah yang lantas mengambil kentang goreng yang sudah ada di meja. Buatan mbak Fifi, pesanan Yasmine.
"Iya, benar. Cemilan Yayas biasanya banyak loh," ucap Ibu.
"Iya, ambilkan lah Mbak Fi, kita mau cobain cemilan ibu hamil," Papa Zaenal tak mau kalah.
Yasmine dan Alifa yang masih berdiri saling memandang dan tersenyum, sembari menggelengkan kepala heran dengan para orang tua.
Setelah menaruh nampan, Alifa kembali dengan berbagai makanan yang di siapkan oleh mbak Fifi. Sampai cemilan Yasmine keluar ke meja semua. Tapi, Yasmine tentu malah senang saat melihat para bapak-bapak paruh baya me nik ma ti cemilan nya. Dan dirinya lantas meminta Alifa untuk duduk di sebelah Umi.
Mereka pun ngobrol sembari menunggu kedatangan Alfin.
...πππ...
Hingga saat pria tampan itu pulang. Ia begitu heran saat tak bisa memikirkan mobilnya di depan rumah lantaran sudah ada dua mobil, pun di pinggir jalan yang persis sekali di depan rumahnya. Lelaki itu benar-benar heran, bagaimana bisa semua orang datang tanpa memberi kabar.
Lantas pria itu memakirkan mobilnya di belakang mobil papa Zaenal. Setelahnya ia turun dan berjalan ke arah rumah. Gelak tawa terdengar sampai depan, membuat pria itu turut tersenyum dan sedikit lega. Setidaknya dengan adanya gelak tawa, mereka datang bukan karena ada apa-apa. Begitu pikir Alfin.
Ia lantas membuka pintu dengan pelan, sengaja biar semua orang tak mengetahui kedatangannya. Sampai tiba di mana di ruang tengah, ia bisa melihat semua orang tengah tertawa.
"Loh, aku heran Bu. Masak Mbak Yayas tiba-tiba seneng banget nonton kartun spon," ucap Mbak Fifi yang duduk di atas karpet dengan santainya menceritakan bagaimana saat awal-awal Yasmine hamil.
"Haha, iya, ya. Padahal dia paling tidak suka loh sama kartun gitu. Dia bahkan tidak pernah nonton televisi," ucap Ibu.
__ADS_1
"Tapi, pas nginap di rumah Umi juga. Heran sebenarnya, kok Yasmine jadi suka buah yang rasanya asam, terus kata si Mbak juga malam-malam bangun makan," jelas Umi mengingat saat sang menantu menginap di sana.
"Mas Alfin juga aneh, dia ikut ngidam loh Mi," ucap Alifa. "Dia tidak bisa mencium aroma nasi waktu pagi, juga suka sekali sama mangga muda, bahkan waktu abis belanja dia minta mangga sama bumbunya. Padahal, boro-boro 'kan biasanya makan pedas. Biasanya mah, sedikit cabai saja sudah minggir," tutur Alifa.
Yasmine yang tengah jadi bahan pembicaraan hanya bisa diam, pasrah. Tapi, tangannya sibuk mengambil kentang goreng dan memasukannya ke dalam mulut.
Begitu juga Alfin, ia tersenyum lebar saat semua orang tengah membicarakannya. Sampai akhirnya ia mengeluarkan suara dan mendekat.
"Khem! Assalamu'alaikum!" sapa nya dengan senyum lebar.
"Wa'alaikumsallam," jawab semua orang hampir bersamaan.
Mbak Fifi yang masih tersenyum lantas beranjak dan pamit ke belakang, guna menyiapkan makanan yang di bawa para orang tua.
"Sudah lama Mas, di sana?" tanya Alifa, perempuan itu beranjak dari duduknya dan menyalami sang suami.
"Lumayan, sampai bisa mendengar kamu membicarakan suamimu," jawab Alfin gemas sembari mencium puncak kepala istrinya.
"Bukan aib kok, Mas," kata Alifa.
"Kita jadi bahan obrolan loh, Al," kata Yasmine yang masih setia di tempat duduknya.
Alfin lantas menyalami semua orang, dari sang Abi terlebih dahulu dan terakhir Yasmine setelah salim dengan sang Umi.
"Tidak apa-apa, kita jadi bahan omongan orang, yang penting mereka bahagia," ucap Alfin saat sang istri ke dua salim padanya.
"Iya benar, bahagia di atas penderitaan orang," katanya pura-pura kesal.
"Penderitaan yang mana, Yas?" tanya ibu saking gemasnya sama sang putri.
"Pagi-pagi mual-mual, itu 'kan penderitaan, Bu," kata Yasmine menoleh ke arah sang ibu.
"Nikmati Nak, Alifa saja ingin merasakan itu," ucap Umi. Alifa yang masih berdiri di tempatnya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1