Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 161 # S2


__ADS_3

"Semua butuh proses, Mas," ucap Arya pada pria yang kini berdiri di sebelahnya.


Dua pria dewasa tengah berdiri di balkon, dengan tangan yang sama-sama menumpu diatas teralis besi. Pandangan mata kedua manusia itu, ke arah depan sana. Melihat ke arah taman dan pelataran yang terdapat mobil terparkir.


"Proses yang sangat lama," begitu ujar Alfin, setelah lumayan lama diam.


"Aku nggak bisa memaksa, bukan." Arya menoleh ke arah pria tampan yang kendati sudah semakin bertambah usianya, wajahnya tetap tampan.


"Iya," jawab Alfin. Ia pun menoleh ke arah Arya dengan senyum yang lebar. "Aku justru berterimakasih padamu, sudah begitu banyak jasamu sebagai ayah, pengganti diriku," sambung pria yang memiliki tiga anak itu.


Arya tersenyum lebar. "Sudah aku katakan bolak-balik, terus-terusan, kalau aku bukan pengganti dirimu, Mas Alfin. Aku hanya menemani Yasmine untuk mendidik putra kalian dan putraku."


Kedua lelaki tampan itu lantas tertawa. Ya, sudah sering kali memang Alfin bersedih karena putranya yang tidak mau menemui dia dirumahnya. Pun sudah sering kali Arya mengatakan maaf atas nama Taqa. Bukan apa, ia sebagai ayah sambung tentu saja tidak ingin dianggap mempengaruhi hal buruk. Dan tentu saja, baik Alfin maupun Alifa tak pernah berpikiran demikian.


Namun, sakit hati pasti ada. Saat Alfin melihat putranya lebih terbuka dan terlihat bahagia dengan ayah lain, tidak dengan dirinya. Rupanya, mengikhlaskan anak kandung lebih dekat dengan ayah sambung begitu sakit, begitu perasaan Alfin.


Bukan lupa akan masa lalu, hanya saja ia juga ingin merasakan bersama dengan putranya. Ya, dia memang mengatakan sendiri pada Taqa, bahwa dia sengaja menjauh agar anaknya lebih dekat dengan ibunya, dibanding dengan dirinya yang menurutnya sangat tidak baik. Tapi pada kenyataannya, kini dia menginginkan dekat dengan putra kandungnya, ngobrol tentang urusan pria dengan anak pertamanya. Tapi sayang, jangankan untuk bicara. Bertemu saja semakin susah.


Hingga akhir acara, Taqi dan Arya baru pulang. Bahkan si cantik Taqi sebenarnya tidak ingin kembali ke rumahnya, saking senangnya dia dengan si kembar. Bermain sampai mengaji bersama. Jika saja, Arya tak mengatakan kalau ibunya akan di ambil oleh kakaknya, mungkin gadis itu akan membiarkan ayahnya pulang tanpa dirinya.


Saat ini, gadis cantik itu tengah duduk di ruang tamu dengan bibir yang mengerucut lucu. Baru sekitar lima menit yang lalu ia dan ayahnya sampai di rumah. Dan begitu sampai, ternyata benar, ibunya tengah di ambil oleh sang kakak. Terbukti kalau kedua manusia kesayangannya itu tidak ada di rumah.


Ya, tadi seusai ngobrol dan makan. Taqa mengajak ibunya pergi berdua. Rasanya, Taqa merindukan waktu berduaan dengan Yasmine. Begitu lama rasanya pemuda itu tak jalan-jalan dengan lengan yang melingkar di tangannya.


Kata Yasmine, "sebelum ada yang menggandeng lengan Kak Taqa, sebaiknya ibu isi dulu lengan kekar ini," begitu selalu katanya.


"Ya ampun, Taqi. Ibu sama Kak Taqa sudah di jalan. Jangan manyun dong," suara Yasmine dari layar ponsel Taqi terdengar. Bersamaan dengan wajahnya yang tersenyum lebar mendapati raut wajah putrinya yang cemburu jika dirinya pergi berdua saja dengan anak pertamanya.


"Kenapa, lama? 'Kan Taqi sudah lama di rumah si kembar," ujar gadis itu merajuk.

__ADS_1


"Taqi mau boba nggak? Kakak beli loh," suara Taqa terdengar.


"Nggak usah nyogok, ya," ujar Taqi dengan raut wajah yang tidak bisa di ajak kompromi. Bisa-bisanya kini wajahnya mulai senang saat kakaknya mengatakan minuman kesukaannya itu.


"Hmm ... Kakak 'kan baik hati, mana ada kakak nyogok," ujar Taqa lagi.


"Sudah-sudah, tunggu ya Nak. Sebentar lagi ibu sama kakakmu yang tampan sampai. Ni, sudah sampai di perempatan," kini layar ponsel Taqi terpenuhi dengan gambar jalan. Dan Taqi tersenyum melihatnya.


"Hati-hati, Kak, Bu, assalamualaikum." dengan cepat Taqi memutus teleponnya dengan sang ibu setelah mengucap salam. Ia yakin, kalau di sana ibu dan kakak nya jelas menertawakan sikap dia yang aneh. Sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar baik.


"Hehe kamu kok lucu, sih Qi." Taqi menoleh ke arah sang ayah.


"Ayah dari mana?" tanya balik Taqi, yang memang begitu sampai rumah tadi, ayahnya entah langsung ke mana, pergi begitu saja.


"Teleponan sama Uwa Yahya, minta maaf, karena nggak nengok Uwa Zahra," ujar Arya yang kini duduk di sebelah putrinya. "Kamu nggak tahu, kalau Uwa Cantik, sakit?" sambungnya bertanya.


"Ya Allaah, kalau aku tahu aku pasti minta ke sana, Yah. Sudah sembuh belum sekarang?" ujar Taqi antusias. "Pantesan tadi aku nggak ketemu sama si Zaya," sambung Taqi sedikit bergumam.


Arya dan Taqi menoleh ke arah pintu utama. "Wa'alaikumsallam," jawab Arya pelan. Munculah wanita cantik kesayangan semua orang, dengan wajah tersenyum dan diikuti anak lelakinya yang amat sanggup tampan.


"Yah." ujar Yasmine seraya meminta salim pada sang suami. "Kurang keras, Sayang, salamnya," begitu ujar Arya. Yasmine hanya tersenyum malu. Sedangkan kedua anaknya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan keromantisan ayah dan ibunya itu.


"Bu, Ibu tahu kalau Uwa Cantik, sakit?" tanya Taqi sembari menyalami tangan sang ibu.


"Hm ... Tahu, tapi udah mendingan katanya," jawab Yasmine seraya duduk di sebelah sang putri.


"Ish, curang. Jangan-jangan, yang balun tahu cuma aku doang," gerutu si cantik Taqi.


Taqa yang sudah duduk di sebelah adiknya itu lantas mengusap kepala sang adik yang kini sudah tak tertutup jilbab dengan gemasnya. "Kamu tuh jangan suka ngomong sendiri terus makanya, kalau lagi di tempat orang. Jadi tahu apa yang tenga jadi topik pembicaraan seusai acara," katanya.

__ADS_1


"Ih, 'kan kata ibu nggak boleh nguping kalau orang tua lagi bicara, ya 'kan Bu?" jawab Taqi tak mau kalah. Ia sampai menoleh untuk memastikan kalau apa yang ia katakan adalah benar.


"Iya, Qa. Ayah setuju sama Taqi," kata Arya memasang wajah setengah tertawa.


"Jadi ... Ini nggak ada yang dukung aku?" tanya Taqa dengan pura-pura sedih.


Yasmine menggelengkan kepalanya. "Maaf kali ini si Taqisha Humaira benar, Nak," katanya.


"Yaaaah ... Taqa sedih deh, minum boba aja kali ya." tangan Tawa sudah siap untuk mengambil minuman yang sudah ia letakkan di atas meja.


"Eits, ini punya Taqi." Gadis cantik itu segera mengambil minuman itu dan dengan segera meminumnya setelah menusukan sedotan ke dalam gelas cup tersebut.


"Bismillah dulu, Nak!"


"Bismillah dulu, Qi!"


"Bismillah dulu dong!"


Tiga manusia besar itu memperingatkan anak gadis yang sudah mulai menyedot minumannya. Taqi hanya tersenyum kikuk, saking buru-burunya dan takut di minum sang kakak beneran sampai lupa baca basmalah.


"Qa, ayah mau bicara, ya," ucap arya pelan pada Taqa.


Taqa menoleh, "apa ayah kembali terlihat sedih, Yah?" tanyanya.


"Jangan di bahas lagi ya, Yah," ujar Yasmine pada sang suami.


Arya menoleh dan melihat ke arah sang istri. "Oh, baiklah. Ya sudah, sekarang ayah bicara sama ibu saja," ujarnya.


Arta beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada sang istri. "Ayo, ada yang ayah mau bicarakan."

__ADS_1


Yasmine mengangguk dan berdiri. Pamit pada kedua anaknya dan pergi dengan sang suami tercinta.


Taqa dan Taqi hanya saling menoleh dan mengedikan bahu mereka.


__ADS_2