Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 068 # Beda Bayangan


__ADS_3

Di bangku lumayan paling belakang, Alifa tengah menyuruh sang suami untuk duduk di sebelah Yasmine. Lantaran di sana ada kursi kosong. Namun, Alfin menolak. Karena kini saat dirinya untuk Alifa, jadi dia tidak ingin mencuri waktu. Terlebih untuk menjaga perasaan istri pertama tentunya. Kendati istri pertamanya lebih dewasa, namun Alfin tahu, yang namanya cemburu tidak pandang bulu dan batas usia.


"Tapi, Mas. Dia terlihat kesepian," ucap Alifa memohon pada sang suami.


Alfin menarik tangan Alifa dan menggandengnya, mengusap punggung tangan sang istri tercinta. "Sayang, aku tidak mau kalau sampai aku membagi waktu dengan ada selisih. Sudahlah, dia 'kan sedang bersama ibu," ucap lelaki itu.


"Lihatlah Sayang, pelaminan nya indah sekali. Aku jadi ingat saat kita dulu," sambung Alfin.


Alifa tersenyum dan menoleh. "Bisa saja," katanya.


"Benar, lihatlah! Sekarang semuanya semakin keren, dulu juga kita tidak kalah keren. Semua serba putih. Putih itu suci, Sayang. Se-suci cinta kita," ucapan Alfin membuat senyum Alifa semakin lebar. Bahkan sampai lupa pada bayang-bayang yang kini tengah ada di dalam pikiran seseorang yang duduk di bangku depan sana.


"MaSyaa Allaah, Mbak Zahra cantik sekali, ya Mas," ucap Alifa saat Zahra keluar dan di sambut mesra sang pria yang baru menghalalkannya.


"Secantik, dirimu," ucap Alfin.


"Mas, stop deh! Kamu tidak mengerti tempat," ucap Alifa gemas.


Beberapa orang di belakang sepasang pengantin lawas rasa baru itu senyum-senyum sendiri. Tidak fokus memperhatikan acara ijab, karena sepasang suami-istri di depannya lebih menarik karena keromantisannya.


Hingga kedua mempelai memamerkan jari mereka ke hadapan kamera yang mengarah padanya. Lalu memamerkan sebuah buku nikah, sesuai petunjuk photografernya. Alfin bisa melihat sendiri sang istri muda tengah memotret kebahagiaan sang kakak dengan ponsel pintarnya. Tepat di belakang sang ayah. Ia tersenyum, ia turut bahagia melihat sang istri bahagia. Tanpa tahu, kalau sang istri pun baru saja mengingat saat pernikahan mereka dengan hati yang sedih.


"Lihat, Sayang. Baju yang di pakai Yayas bagus 'kan?" tanya Alfin pada Alifa.


"Iya, bagus. Itu memang warna kesayangannya, dia yang pilih," jawab Alifa. "Perutnya sudah mulai buncit," sambung Alifa. Namun, tak terdengar oleh Alfin. Suaminya itu masih senyum-senyum memperhatikan sang istri yang kini tengah menjadi juru kamera. Entah memakai kamera siapa, dia pun tak mengerti.


Lain Alfin, lain Yasmine. Di depan sang kakak yang tengah bahagia. Ada sedikit saja rasa sakit yang menerpa hatinya. Ayolah, sekuat-kuatnya dia menguatkan hati. Pada kenyataannya, hatinya tak bisa melupakan kejadian yang telah lalu bukan.

__ADS_1


Setelah memotret kebahagiaan itu, ia juga mengambil gambar setiap orang dengan memakai kamera yang di bawa ibu. Seorang ibu memang lebih tahu, mau anaknya masih kecil ataupun dewasa, yang jelas sang ibu lah yang tahu segalanya. Terbukti dari ibu Radiah yang membawakan kamera milik sang putri. Karena ia tahu, kalau sang putri jelas akan mengambil gambar sampai puas.


Dia mengambil gambar setiap orang yang terlihat ceria. Jika orang itu tidak ia kenal, maka dia akan minta izin terlebih dahulu. Dari foto sang ibu, ayah, sampai semuanya. Tak luput sang suami dan sang madu. Ia bahkan memberikan aba-aba agar keduanya siap untuk hasil jepretannya. Memberi arahan juga agar keduanya terlihat bagus.


"Lebih dekat dong, Al."


"Saling pandang gitu loh, biar bagus di gambar!" Perintahnya pada dua orang tersayangnya.


Jelas saja Alfin dan Alifa menurut. Namun sebagai perempuan Alifa pun sembari mengerling ke arah sang madu. Tapi yang perempuan itu lihat, madu-nya terlihat biasa saja. Bahkan cenderung ceria.


Setiap mata yang memandang, mereka mana tahu, jika kini, sang juru kamera yang tengah memotret sepasang suami-istri itu adalah sang madu. Tapi, lain dengan yang sudah kenal. Bahkan sampai sepasang pengantin baru pun saling pandang saat melihat adegan itu.


Pun sama dengan para orangtua. Di bibir mereka memang tersenyum bahagia, namun dalam hati mereka pun saling mengatakan tentang penilaian mereka terhadap perasaan Yasmine.


Tiba di mana Yasmine minta tolong seseorang untuk mengambil gambar mereka bertiga. Yasmine bahkan meminta izin agar kursi di sebelah di kosongkan untuk dirinya duduk.


Dengan senyum yang lebar, Alfin merangkul dua istrinya dan ketiganya memperlihatkan barisan gigi mereka yang rapi kehadapan kamera.


Yasmine lantas pergi dari sana seusai selesai berfoto ria. Lanjut ke acara resepsi. Kini Zahra sudah cantik dengan baju pengantin kebaya dengan mahkota ber-siger Sunda. Cantiknya membuat Yasmine yang siap untuk mengambil gambar terpesona. Apalagi dengan sang suami yang baru menghalalkannya. Mereka berdua terlihat sangat cocok.


Hingga acara selanjutnya berjalan lancar, dan kini hanya tersisa acara foto-foto keluarga saja. Yasmine yang merasa lelah dan sedikit merasa sakit di bagian perutnya mencoba untuk menyingkir sebentar dari keramaian. Tentu saja setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


Setelah saat tadi dia sibuk, perempuan itu seperti tak memikirkan keberadaan sang suami. Ia lebih fokus pada objek yang ia ambil untuk dijepret. Sampai akhirnya ia duduk di kursi di ujung tenda. Lumayan jauh dari keramaian, karena ia duduk di luar tenda.


Sedikit panas, namun masih bisa merasakan semilir angin. Jadi sepoi-sepoi menenangkan. Dia menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan jalanan yang tak terlalu ramai, namun suara di dalam tenda hajatan tetap saja terdengar. Namun itu semua tidak masalah. Selagi dia bisa istirahat sejenak, kenapa tidak.


Lantas dengan iseng ia melihat-lihat kembali gambar-gambar yang ada di kameranya. Ia tersenyum saat mendapati gambar yang lucu. Lalu setengah tertawa saat mendapati gambar yang lucu. Bisa-bisanya dia hanya memotret sepasang kaki, yang entah itu kaki siapa. Lantas dihapusnya gambar-gambar yang tidak bagus menurutnya.

__ADS_1


Masih merasa santai sendirian, sampai ada seseorang yang datang menghampirinya.


"Assalamu'alaikum!"


Yasmine yang terkejut lantas mendongak. "Wa'alaikumsallam," jawabnya singkat saat yang mendekat adalah seorang pria. Lantas perempuan itu kembali menunduk.


"Maaf, boleh kenalan?" tanya pria itu.


"Maaf juga, saya sudah menikah," jawaban Yasmine.


"Oh, ya? Jangan bohong," ucap pria itu. "Saya, Fadil. Keluarga dari Teh Zahra," sambung pria yang mengaku bernama Fadil itu.


"Untuk apa saya berbohong. Tanya saja, pada Kak Zahra. Saya adik dari mempelai pria."


"Mmm ... percaya tidak ya? Soalnya saya lihat-lihat jari manisnya masih kosong," ucap Fadil dengan senyum tulus. Pria yang saudara jauh Zahra itu memang langsung terpana saat pertama kali melihat Yasmine.


Dengan berdiri jarak satu meter, Fadli bisa melihat jika saat ini Yasmine tengah gugup. Itu semua membuat pemuda itu tersenyum senang. Ia berharap kalau perempuan cantik itu mau berkenalan dan lanjut ke arah yang baik.


Padahal yang Yasmine rasakan adalah kesal. Lagi-lagi pasal cincin. Apa karena cincin, jadi orang tidak mengetahui kalau dirinya sudah menikah.


Yasmine menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Tolong tinggalkan saya. Saya benar-benar sudah menikah, dan kenapa tanya pasal cincin? Jari saya alergi, itu kenapa saya tidak memakai cincin," jawabnya dengan kesal.


"Tapi, dari tadi saya tidak melihatmu dengan seseorang yang bisa dibilang suamimu," ucap pria itu lagi.


Yasmine masih menunduk, namun dia tersenyum. "Suami saya berkerja di luar Negeri. Tidak bisa begitu saja pulang. Beliau akan pulang nanti, saat kita ada acara empat bulanan."


Pria bernama Fadli itu mengangguk. Entah apa yang tengah pria itu pikirkan, yang jelas dia mundur perlahan, tentu saja mengucapkan salam. Salam perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2