Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 089 # Tak Menemukan Jalan


__ADS_3

Suasana taman di rumah Ibu begitu hening, tiga manusia yang duduk di sana saling diam. Hanya sekilas saling memandang tanpa sepatah kata. Terlebih Alifa yang masih bingung akan mengatakan apa pada Yasmine, jujur saja ia merasa sangat bersalah setelah mengetahui jika sang madu mendengar apa yang ia tanyakan.


Pun sama dengan Yasmine, ia bingung akan mengatakan apapun untuk bisa membuat Alfin marah. Lantaran ada Alifa juga di sana. Ia pikir, yang datang hanya sang suami, agar ia bisa dengan leluasa mengatakan apapun yang jelas, lelaki itu mau melepaskan nya.


Selain rasa cinta yang semakin dalam, setelah mengetahui kekhawatiran sang sahabat ia semakin takut jika dia akan egois dan tidak memberikan kesempatan pada Alfin untuk Alifa. Walaupun jelas, jika cinta Alfin untuk Alifa begitu besar, menurutnya.


"Yas."


"Lif," ucap dua sahabat itu secara bersamaan.


Keduanya lantas tersenyum, "kamu aja dulu," kata Yasmine.


"Baiklah," ucap Alifa. "Yas, aku sudah tahu jika kamu ingin ...," ia tak bisa melanjutkan apa yang akan ia katakan. Bibirnya tak sanggup mengatakan kata pisah ataupun menyerah. Sungguh, Alifa tidak ingin, ia ingin selalu bertiga walaupun bagaimanapun keadaannya. Ia tak ingin sang sahabat menjadi janda, dan anaknya harus terpisah dari ayahnya. Lalu jika dia yang menyerah, ia pun tak sanggup, karena rasa cintanya pada sang suami begitu besar.


Ketiganya duduk dengan membentuk segitiga, di teras. Yasmine dan Alifa berhadapan, sedang Alfin menghadap kedua Istrinya.


"Ingin pisah dari Alfin," sambung Yasmine. Ia tersenyum, "aku nggak papa Lif. Aku memang ingin sendiri, bukan karena apa-apa. Tapi karena sebuah hubungan tidak akan bisa bertahan karena keterpaksaan," katanya.


"Siapa yang terpaksa, Yas?" tanya Alfin.

__ADS_1


Kedua istrinya menoleh ke arahnya, "kita," jawab Yasmine datar. Alifa lantas mengalihkan pandangan ke arah Yasmine.


"Tapi, kalian bukan sudah saling menerima. Kenapa sekarang kamu mengatakan itu, Yas?" tanya Alifa. "Aku minta maaf, Yas. Jika kamu mendengar pertanyaan ku pada Mas Alfin waktu itu, dan kamu harus tahu ini ... bahwa Mas Alfin tidak bisa memilih di antara kita, pun dnegan melepaskan kita. Jadi, aku mohon, apapun yang kamu rasa, apapun yang aku rasa, kita harus bertahan di posisi ini, aku nggak mau kalau sampai kamu ...," kalimatnya kembali tak tersambung lantaran tak bisanya dia mengatakan.


Yasmine hanya diam, dalam hatinya jelas menolak apa yang di katakan Alifa. Dia bukan wanita yang mudah percaya jika sudah mendengarnya sendiri kalimat pertama yang di ucap seseorang. Dan akhirnya ia hanya mengembuskan napas kasar.


"Yas," panggil Alfin. Wanita yang di panggil itu tak menoleh atau sekedar apa, ia masih mengingat dengan jelas saat hati nya merasakan sakit. Seperti saat di akui kalau dia hanyalah teman di bengkel dulu, saat ia tengah mengambil mobil. Pun saat di di katakan bar-bar, lanjut saat dia seolah tak terlihat ada, di saat pernikahan Yahya. Dan yang lain lagi, terkahir kemarin saat ia dengan jelas melihat bagaimana ekspresi suaminya itu saat menenangkan Alifa, tidak seperti saat bersamanya. Hatinya sudah se hancur itu, ia tak lagi bisa di paksa untuk bertahan.


"Aku sudah pernah mengatakan bukan sama kamu, jika__" kalimat Alfin di pangkas oleh Yasmine. "Jika kamu tidak bisa seandainya di suruh memilih," katanya dengan menatap netra sang suami. "Tapi aku sedang tidak ingin di pilih, aku hanya ingin__"


"Yas!" suara Alifa menghentikan kalimat Yasmine.


"Tapi, Yas? Kamu tahu 'kan jika ber-ber-cerai itu dosa?" tanya Alifa dengan air mata yang siap untuk jatuh. Ia memandang Yasmine yang kini tengah menunduk.


"Aku tahu," jawab Yasmine. "Tapi di bolehkan bukan, jika tersakiti?" tanya balik Yasmine.


"Tapi, apa aku menyakitimu, Yas?" tanya Alfin.


Yasmine mengangguk, "iya," jawabnya. "Sesuatu yang di paksakan akan timbul rasa sakit, karena tidak ada rasa ikhlas di dalamnya. Kamu tahu, Lif?" tanyanya yang lantas melihat kembali ke arah sang madu. "Aku selama ini hanya selalu mencoba untuk menerima segalanya, mencoba menumbuhkan rasa cinta yang pada dasarnya tidak ada," sambungnya dengan pelan. Tentu saja dia membohongi kembali hatinya.

__ADS_1


Alfin tertawa sumbang, sedari tadi dia diam. Dia pikir dengan berbicara bertiga, semuanya akan selesai, Yasmine akan luluh dan mau melupakan masalah pisah. Tapi, ternyata dia malah mengatakan hal yang jelas-jelas lelaki itu tahu kalau semuanya adalah kebohongan.


"Kamu masih mencoba untuk mencintaiku?" tanya Alfin. "Lalu apa yang ada di dalam rahi-mu?" Lelaki itu kembali bertanya.


"Itu hanya sebuah hak dan kewajiban yang aku lakukan sebagai seorang istri," jawab Yasmine dengan hati yang seolah tengah terbelah. Sakit.


Alifa dan Alfin terdiam, keduanya melihat Yasmine dengan tatapan heran dan mata yang berembun. Bahkan Alifa kini sudah meneteskan air matanya.


"Ya Allaah," ucap Alifa. "Maaf jika karena keinginanku, semua jadi seperti ini Yas," sambungnya.


Yasmine menggeleng, "kamu nggak salah, justru kamu dan Alfin sudah membantuku dari masalah yang ada. Masalah malu yang tidak terkira, jika suamimu tidak mau menikahi ku, tidak terbayang bukan akan seperti apa malu-nya keluargaku untuk yang ke tiga kalinya."


Alifa menggeleng, "apa kamu tidak pernah mengingat sesuatu, Yas?" tanyanya. "Apa kamu tidak ingat perkataan Mas Alfin waktu dulu, Yas? Saat kita bersama di selasar masjid."


Yasmine mengerutkan kening dan menggeleng. Lantas Alifa menceritakan kembali masa-masa itu. Alfin bahkan menganggukkan kepalanya karena merasa senang saat sang istri menceritakan kembali kisahnya.


Yasmine tersenyum, lantas tertawa sumbang. "Pantas saja ya, tidak akan tumbuh cinta di sini," ucapnya sembari menunjuk ke arah dadanya. Membuat Alfin dan Alifa mengerutkan kening, heran. "Dari dulu, kamu tahu 'kan kalau aku sangat tidak suka padanya, dan karena perkataannya, aku jadi gagal menikah dengan almarhum Mas Rey, yang akhirnya ...," ucapnya terhenti saat ada dua rasa yang kini bercampur di dalam dada, antara senang dan sedih.


Alfin tak menyangka jika Yasmine masih kukuh untuk berpisah dengannya, terlihat dari jawaban Yasmine yang tidak mengenakan hati begitu Alifa menceritakan masa lalu mereka.

__ADS_1


Lelaki itu bahkan tak mampu lagi mengatakan apapun. Ia lantas beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan dua istrinya di sana. Hati lelaki itu benar-benar hancur, tak pernah ia sangka jika wanita yang dulu ia cari-cari untuk di jadikan istri, ternyata tak mengharapkannya. Dan sekarang saat sudah bersatu, ia tetap ingin pergi dari kehidupannya.


__ADS_2