Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 088 # Flashback


__ADS_3

Tiga manusia yang ada di tempat duduk, mereka lantas melihat ke arah suara dengan tatapan terkejut. Bahkan Alfin langsung berdiri, "Alifa," ucapnya.


Alifa meneteskan air mata, "jadi ... Yasmine mendengar saat aku menangis waktu itu, Mas?" tanyanya memastikan. Ia kini sudah berdiri tepat di depan sang suami.


"Tenang dulu, Lif," ucap Umi.


"Duduk dulu, Nak," ucap Abi.


"Astaghfirullah," ucap Alifa yang baru sadar jika dia belum sempat mengucap salam apalagi menyalami tangan kedua mertuanya itu. Lantas perempuan berjilbab panjang itupun menghapus air matanya dan menyalami satu persatu dua paruh baya yang tengah duduk memperhatikan dirinya.


"Sini, duduk," ajak Umi, ia menepuk sofa di sebelahnya. Alifa pun menurut, ia duduk di sebelah sang mertua.


"Kamu, sudah lama?" tanya Umi. Alifa mengangguk. Sementara Alfin, ia kini audah duduk kembali di tempatnya.


"Iya, Yasmine mendengar apa yang kamu tanyakan," jelas Umi. "Dia juga meminta di lepaskan oleh Alfin," kata Umi lagi.


"Astaghfirullah." Alifa mengusap dadanya. Ia bahkan memejamkan matanya sejenak, dadanya kembali merasakan sakit.


"Apa aku salah, Mi. Jika aku menanyakan tentang kesiapan Mas Alfin?" tanya Alifa. "Bukan tentang ragu, Mi. Ini hanya ketakutan seorang istri yang belum di karuniai putra, ini hanya pertanyaan tentang kesiapan Mas Alfin yang tidak akan memiliki putra dariku," sambungnya.


Abi Sofyan yang duduk di sebelah sang istri hanya bisa menarik napas dan membuangnya dengan pelan. Urusan rumah tangga putranya membuat dirinya pusing di saat usianya sudah benar-benar senja.


Umi mengangguk, ia juga mengusap lengan sang menantu agar tenang. "Umi tahu, apa yang kamu rasakan. Kamu tidak sepenuhnya salah, pertanyaan mu manusiawi sekali," ucapnya.


"Saat seorang wanita sudah lama menikah, namun belum mendapatkan karunia berupa hamil. Dalam pikirannya jelas begitu banyak pikiran-pikiran buruk tentang suaminya. Apalagi kamu, seorang istri pertama yang memiliki madu dan madu-mu sudah hamil. Itu pantas saja kamu tanyakan, kamu takutkan. Tapi, kamu juga harus tahu. Jika hamil pun atas kehendak Allaah, Yasmine hanya sedang beruntung saat rezeki amanah begitu cepat ia dapat. Tapi bukan berarti kamu harus seperti itu," sambung Umi panjang lebar.


Alifa menganggukkan kepalanya setuju, "maaf Umi. Lifa hanya ingin juga merasakan hamil. Dan entahlah, tiba-tiba hati Alifa sakit saat mendengar Yasmine hamil, padahal sudah Lifa katakan agar tak cemburu akan rezeki, tapi nyatanya ... Lifa hanya manusia biasa yang masih mempunyai rasa iri dan cemburu, dan juga rasa takut akan kehilangan kasih sayang seorang suami," ucapnya jujur.

__ADS_1


Umi menggeleng, "kamu tidak bisa seperti itu, Nak. Jika kamu menginginkan sesuatu sampai seperti itu, sama saja kamu belum bisa pasrah pada Yang Maha Kuasa."


"Kamu hanya boleh berusaha dan ber-do'a, bukan mengeluh karena belum di berikan rezeki seorang anak. Allaah tahu mana yang terbaik untuk hamba-nya," sambung Umi.


Alifa dan Alfin mengangguk. Alifa lantas melihat sang suami, "maafkan aku, Mas," ucapnya.


Alfin menggeleng, "kamu tidak perlu meminta maaf, Lif."


"Apa, yang bisa aku lakukan Mas?" Alifa kembali bertanya.


Alfin menatapnya, "jika tadi Abi mengatakan, aku harus berbicara berdua. Sepertinya, karena kamu sudah tahu, sebaiknya kita bicarakan ini bertiga. Jujur, Sayang ... aku sudah mencintainya sama seperti aku mencintaimu. Jika di suruh memilih, aku tidak akan bisa memilih di antara kalian," ucapnya jujur.


Alifa mengangguk, ia tersenyum walaupun air mata kembali menetes. "Iya, Mas. Aku tahu, aku bahkan senang sekali mendengarnya," ucap wanita itu.


"Akhirnya, janji yang pernah kamu ucap terlaksana. Walaupun pada akhirnya harus seperti ini," kata Alifa.


"Ya, pernikahan yang selalu gagal, bahkan sampai ke tiga kalinya. Membuatku mengingat sesuatu, mungkin hanya ucapan anak kecil, namun aku yakini ucapan itu tulus dari hati. Sayangnya, aku menyadarinya setelah aku menjadi istri dari Mas Alfin," kata Alifa dengan menunduk membayangkan beberapa tahun yang sangat lalu. Saat mereka baru berusia delapan hampir sembilan tahun.


Ketiga manusia lainnya hanya mendengar dengan heran, lalu Alifa pun menceritakan obrolan anak kecil yang masih ia ingat di masa lalu.


Flashback on.


Cuaca cerah sekali siang itu, terik nya matahari bahkan seolah membakar kulit. Namun, itu semua tidak di rasakan oleh ketiga anak kecil yang tengah duduk ngobrol di selasar masjid. Ketiga anak itu, tengah mengikuti ibu mereka masing-masing yang kini ada di dalam, mengikuti pengajian.


Dialah Yasmine, Alfin dan Alifa. Tiga bocah berusia delapan tahun. Bocah yang duduk memperhatikan kendaraan yang lewat di depan sana. Alifa duduk dengan menyangga dagu, begitu juga Yasmine. Mereka berdua merasa bosan menunggu orang tua mereka di dalam.


Sebenarnya, Alifa ingin masuk, namun Yasmine tidak mau jika di luar sendirian, hanya bersama Alfin.

__ADS_1


"Eh, Ayas. Kenapa sih, kamu kalau duduk di sini sama aku suka nggak mau?" tanya Alfin yang duduk di undakan paling atas. Memunggungi dua perempuan yang duduk menyandarkan punggung mereka ke tembok.


"Enggak tahu!" Yasmine kecil mengedikan bahunya. "Aku malas saja sama kamu. Kamu tahu? Kamu itu sok ganteng, padahal lebih ganteng kakak aku. Ih, amit-amit, nanti kalau sudah besar. Aku nggak mau ah, punya suami kayak kamu," jawab Yasmine yang memang entah kenapa terlihat begitu tak suka pada Afin. (Panggilan waktu kecil.)


Alfin kecil memajukan bibir bawahnya, ia terlihat kesal. Lalu, ia membalik badannya, menatap gadis cantik yang kini sudah tak memakai jilbab lantaran kegerahan. "Kamu, inget ini ya Ayas. Kalau bukan aku yang jadi suami kamu, kamu nggak akan menikah!" kesal Alfin kecil waktu itu.


Alifa yang ada di sana hanya jadi penonton saat dua orang yang sering ia temui itu selalu saja ribut, tidak pernah akur. "Maaf, Mas Afin nggak boleh asal bicara. Begitu kata Ibu," ucap Alifa kecil yang memang sudah bersikap dewasa.


Alfin tak perduli, ia bahkan memajukan duduknya dan menatap mata Yasmine lekat-lekat. "Kamu dengar 'kan? Apa yang aku katakan?"


Yasmine kecil tidak perduli, ia malah mendorong keras tubuh Alfin sampai terjungkal kebelakang. Lalu, ia pergi dari sana menuju sang ibu yang ada di dalam masjid.


Alifa segera menolong anak dari sahabat orangtuanya itu. Beberapa kali mereka bertemu, dan setiap bertemu dengan Yasmine, keduanya tidak pernah akur. Selalu saja ribut.


Alfin yang kerap di panggil Afin itu berterima pads Alifa. Keduanya bahkan lantas ngobrol, membicarakan sekolah.


Flashback Off.


Alfin membuka mulutnya lebar-lebar, ia ingat sekarang. "Jadi ... dia Ayas?" tanyanya tak percaya.


"Ayas yang ...," kalimatnya kembali terhenti saat ia ingat ada sang istri di depannya. Namun, ia menyambungnya dalam hati.


'Ayas, cinta pertamaku, cinta masa kecilku. Wanita yang selalu jadi alasan kenapa aku mau ikut ke pengajian Umi, yang di mana isinya adalah perempuan semua. Perempuan cerewet yang selalu membuatku kesal dan tertawa pada malam harinya, perempuan yang aku cari-cari begitu keluar dari pesantren, yang aku pikir dia tinggal di Bandung, dan ternyata kini ... dia bersamaku, menjadi istriku. Ya Allaah, pantas saja, tatapan matanya sama seperti Ayas, bahkan cantiknya pun sama. Ayas, bagaimana bisa? Bukankah nama Ayas adalah Yayas, makanya aku memanggilnya dengan sebutan Ayas. Tapi, Ya Allaah,' lelaki itu tak bisa berkata-kata. Saat ingatannya kembali pada masa silam.


Jujur saja dia begitu Bahagia, saat ternyata wanita yang pernah ia cari-cari kini sudah ada di dalam hatinya.


Dulu, saat Alfin memutuskan untuk kuliah, ia sengaja mencari ilmu di kampus ternama di Bandung, karena ia pikir Ayas tinggal di Bandung, karena dulu pernah mendengar bahwa teman Umi yang sangat akrab akan pindah ke Bandung. Kebetulan dengan itu, minggu selanjutnya saat dia mengikuti pengajian Uminya, Ayas tak ada. Dan disitulah ia berpikiran demikian.

__ADS_1


Kini, giliran tiga manusia di depan Alfin yang heran saat melihat Alfin terlihat begitu bahagia, ia bahkan tersenyum lebar seolah tengah mendapat kan sesuatu yang sangat istimewa.


__ADS_2