
Akhirnya, tiga perempuan dan satu laki-laki teman ibu dari bayi Taqa pun pamit. Selain sudah lama, mereka juga tentunya tidak ingin terlalu lama mengganggu, karena ibu melahirkan harus banyak istirahat.
"Makasih ya, semuanya ... makasih untuk kadonya," ucap Yasmine saat mengantar tiga teman mengajarnya pulang.
"Sama-sama, Mbak Yasmine. Semoga bermanfaat untuk bayi Taqa," begitu jawaban dari lelaki tampan yang tersenyum lebar sembari mengangguk.
"Aamiin, aamiin!" jawab kencang ustadzah Ami dan Gina, yang langsung membuat Yasmine mengangkat sudut bibir dengan senyum menyebalkan.
Ketiganya benar-benar pergi dari sana setelah mengucap salam. Lantas, wanita itu pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Ciee," goda Yahya saat sang adik melewatinya.
Perempuan itu berhenti dan menoleh ke arah sang kakak dan ayah, "apa sih, cia-cie," gerutunya kesal.
"Apa, ih baper, orang aku lagi bilang ayah sama ibu," katanya.
Yasmine melirik dua pria itu kesal dan melanjutkan langkah kembali menuju kamar. Sedangkan Yahya kini menghadap ke arah sang ayah, "bagaimana menurut ayah?" tanyanya sembari menaik-turunkan alis.
"Baik ya, kelihatannya," ucap Ayah.
"Iya, siapa tahu jodoh," kata Yahya lagi.
"Siapa yang jodoh?"
__ADS_1
Dua lelaki yang duduk di ruang tamu itu menoleh ke arah suara yang keluar dari arah dalam. Ternyata ibu yang ke sana dengan dua kopi untuk dua orang lelaki kesayangannya.
Ditaruhnya dua cangkir di atas meja dan duduklah wanita itu di sebelah sang suami. "Siapa, Yah?" tanya ibu lagi.
"Nak Arya. Itu loh, yang biasa ngajar sama Yasmine. Siapa tahu jodoh sama Yasmine," ucap ayah menjelaskan.
Ibu Radiah mengangguk, "iya. Ibu juga kalau lagi nemenin Yayas ngajar suka ngobrol sama dia," kata ibu lagi.
"Nah itu," Yahya langsung kembali nimbrung. Ketiganya membicarakan kembali Arya dan Yasmine.
...----------------...
Sementara itu ditempat lain, Alfin tengah duduk menatap ponselnya. Memandangi wajah tampan anaknya yang sangat mirip dengan dirinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Alifa. Perempuan itu bingung karena tiba-tiba sang suami sudah pulang dan katanya akan memberikan kabar baik untuknya.
"MaSyaa Allaah, tabarakallah, siapa ini, tampan sekali?" tanyanya penuh dengan rasa penasaran.
Alfin tersenyum saat melihat sang istri tengah memperhatikan gambar anaknya di dalam layar ponsel. "Mas, ini siapa?" tanyanya lagi. Di gesernya layar itu dan Alifa langsung melihat gambar suaminya yang tengah menggendong seorang bayi.
Dalam layar itu, Alfin terlihat tersenyum lebar menggendong bayi dengan layar belakang gorden rumah sakit. Wanita itu lantas menoleh, "Mas, apa ini ...," ucapnya menggantung.
Alfin semakin tersenyum lebar. Ia lantas mengangguk.
__ADS_1
"Ya Allaah, aku mau lihat, Mas," ucap Alifa dengan mata yang berkaca-kaca. "Alhamdulillah, Ya Allaah," sambung perempuan itu.
Alfin menggeleng. "Iya, Sayang ... itu adalah anak Yasmine. Alhamdulillah, semalam dia lahir. Namanya Muhammad Taqa El Fatih," katanya.
"Kenapa kamu nggak ngajak aku, Mas. Aku mau ketemu, dia di mana?" tanya Alifa beruntun.
"Tidak, Sayang. Tidak untuk saat ini, biarkan dia bahagia dengan anaknya. Nanti kalau sudah saatnya, kita pasti akan bertemu dengan Taqa."
Alifa menatap sang suami dengan heran. "Maksud kamu apa, Mas?" tanya Alifa tak mengerti.
"Mas, aku ingin bertemu dengannya, Taqa, Ya Allaah namanya bagus banget, tampan sekali. Dia mirip seperti mu, Mas," ucap Alifa dengan begitu senang. Perempuan itu masih setia menatap gambar Taqa di dalam layar.
"Mas, ayo." Alifa beranjak dari duduknya.
Alfin menggeleng. "Kenapa, Mas?"
"Sayang, sini. Dengarkan aku dulu," tangan Alfin menarik tangan Alifa agar istrinya itu duduk. Wanita itu lantas duduk kembali dengan lesu.
"Sayang, biarkan Yasmine bersama Taqa. Kita tidak akan menemuinya sampai dia yang menemui kita," jelasnya pada sang istri.
Air mata di netra cantik wanita itu menetes, namun ia mengangguk. "Baiklah, Mas," katanya pasrah.
Alfin lantas memeluk sang istri. Ia tahu kalau wanita itu jelas sedih akan hal ini. Tapi, ia juga tak mau mengingkari apa yang tadi sudah ia katakan pada ibu dari anaknya.
__ADS_1
Di usapnya penuh kelembutan punggung istrinya yang sedih itu. "Aku sudah bilang sama dia, kalau aku maupun kamu, tidak akan menemui apalagi membawa Taqa tanpa ibunya, terkecuali Taqa yang minta. Tak perduli pada seberapa lama waktu dia akan menjauh."
Alifa hanya bisa menurut. Karena, dia dan suaminya sudah pernah mengatakan ini. Membahas bahwasanya mereka tidak akan menemui Yasmine, kalau perempuan itu sendiri yang mau menemui mereka.