Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 107 # Pulang


__ADS_3

Waktu semakin hari semakin berlalu, seminggu ini Yasmine semakin mudah untuk melupakan segalanya. Ia lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Terlebih ada ibu yang selalu bisa ia ajak bicara. Bahkan kadang saat keduanya tengah bosan karena tidak bisa menonton video pengajian di ponsel, keduanya akan bergantian ceramah.


Yang jelas seminggu ini Yasmine yang ceria itu kembali. Kadang juga, saat bosan kembali melanda ibu akan ikut para petani sayuran memanen sayur, seperti buncis, kacang panjang dan terong. Pernah hari itu ibu ikut memanen cabai, karena tak ada persiapan, ibu pun tidak memakai sarung tangan. Yang mana ibu langsung merasa panas memenuhi tangannya.


Saat itu Yasmine tertawa lepas saat melihat ibunya kepanasan, dan oleh petani lainnya tangan ibu di gosok menggunakan daun cabai, kata mereka itu bisa menyembuhkan. Ya, entah benar atau tidak, yang jelas setelahnya ibu merasa baikan.


Ibu tidak marah saat Yasmine-nya menertawakan dia, tapi ibu justru bahagia saat melihat Yayas-nya kembali tertawa lebar.


Hingga saat sang ayah datang dengan seorang supir. Di sanalah Yasmine bingung. Antara pulang atau tidak. Kendati sudah menerima segalanya, namun ia masih belum bisa jika di pertemukan dengan orang-orang tersayangnya saat-saat ini.


"Kamu boleh pulang ke rumah Zahra, Yas," ucap Ayah saat sang putri kebingungan.


Bukan tanpa alasan ayah mengatakan itu, karena dari rumahnya jelas lebih dekat ke rumah Zahra dari pada ke desa itu. Jadi, ayah mengatakan demikian. Lagipula, ayah juga tidak mau jika sang anak tetap di sana, apalagi hanya dengan mbak Fifi saja.


"Iya, Yas. Lagian ibu mana bisa pulang kalau kamu masih di sini," kata ibu.


"Nanti kalau di sini terlalu lama Yas, ayah takut Fifi jomblo terus, karena ayah yakin pekerja di ladang sekitar sini tidak ada yang muda," begitu gurau ayah.


"Nggak lucu, Yah" kata Yasmine.


"Ayolah, Nak. Atau kamu mau di mana, asal tidak di sini. Kita cari rumah, mau?" bujuk ibu.


Yasmine tersenyum, "ya sudah. Aku mau di rumah Kak Zahra," jawabnya.


"Alhamdulilah." Ayah mengusap kedua telapak tangan yang menyatu ke wajahnya.


"Nanti, saya gimana, bu?" tanya Fifi.


"Gimana apanya, Fi?" tanya balik ibu radiah bingung.


"Bukannya di rumah ibu sudah ada pengganti saya," ucap wanita muda itu.


"Tenang aja Fi, in syaa Allah masih mampu lah bayar kamu, walaupun di rumah sudah banyak yang kerja," kata ayah Ilyas.


"Jangan khawatir Mbak Fi, nggak dengar tadi apa yang ibu bilang. Beli rumah aja kayak beli permen, masa gaji Mbak Fifi kesayangan anaknya aja nggak bisa," kata Yasmine yang langsung di bawa ke dalam dekapan oleh sang ayah.

__ADS_1


"Jadi, saya beres-beres juga, ya," ucap Fifi lagi.


Ibu Radiah geleng-geleng kepala. "Iya, Fi. Kamu kayak sama siapa. Sekalian tolong bereskan punya Yasmine ya Fi," kata ibu.


"Siap, bu." Fifi berlalu dari sana.


"Semalam mau di beresin sekalian sama ibu, tidak boleh," gerutu ibu.


"Maklum bu, semalam masih mikir-mikir dia," kata Ayah.


"Yah," panggil Yasmine.


"Apa, Nak," jawab ayah.


"Nanti kalau sudah sampai, Yayas mau ngomong ya," ucapnya.


"Sekarang juga tidak apa-apa," kata ayah.


"Mau ngomong serius, Yah. Jadi nanti saja di rumah," begitu ujar Yasmine lagi.


Hingga akhirnya, mbak Fifi pun selesai beres-beres. Tiga koper siap untuk di angkut. Dan Yasmine, juga kedua orangtuanya pun lantas naik ke mobil, begitu juga mbak Fifi. Sedangkan koper di angkut oleh pak supir.


Perlahan, roda mobil berputar melewati jalan bebatuan. Yasmine masih setia menatap rumah yang menjadi kenangan terucapnya kalimat sakti sebagai pemisah antara dirinya dan cinta pertamanya.


Ia tersenyum, lantas melambaikan tangannya pada bangunan itu. 'Bye, kenangan ... doakan aku semakin baik ya,' ucapnya dalam hati.


Netra nya masih memandang ke arah belakang sana, sampai bangunan itu terlihat begitu kecil dan menghilang di balik pepohonan yang di lewati. Setelahnya, ia lantas menyandarkan kepalanya ke bahu ibu, mencari rasa nyaman di sana. Ibu pun dengan senang hati mengusap kepala sang anak.


Di dalam perjalanan yang lumayan lama itu, Yasmine kembali merasa debar aneh. Karena semakin dekat dirinya akan rumah, ia takut jika bertemu kembali dengan sang sahabat. Bukan tidak mau, hanya saja ia belum siap.


Ia hanya takut, jika harapan-harapannya untuk sang sahabat agar bahagia, nyatanya sang sahabat belum sepenuhnya bahagia. Karena ia yakin, Alifa-nya itu jelas memikirkan dirinya, tidak akan mudah untuk merelakan dirinya pisah dari mereka.


...----------------...


Pada kenyataannya, ketakutan Yasmine benar adanya. Karena seminggu ini, baik Alfin dan Alifa tak sehangat dulu. Bukan tak ada lagi cinta di antara mereka. Hanya saja, rasa mereka sudah berasa hambar, mungkin bisa di bilang belum kembali hangat. Karena waktu yang masih sebentar, mungkin lambat laun akan lupa, mungkin ... jika mereka bisa lupa akan segala rasa yang terlanjur dalam.

__ADS_1


Karena baik Alfin maupun Alifa, rasa mereka terlanjur dalam untuk Yasmine. Apalagi Alifa yang sudah sangat menyayangi wanita itu layaknya seorang kakak terhadap sang adik.


Seperti sekarang ini, Alfin pulang dengan keadaan sakit. Ia demam, bahkan sampai tak mampu mengendarai mobilnya sendiri, sampai harus di antar oleh seseorang yang bekerja sebagai sekertaris-nya.


Alifa tentu saja khawatir, ia bahkan langsung mengompres sang suami. Membuatkan bubur dan memijit. Namun, keduanya masih hanya sekedarnya, tidak ada kata-kata manis di dalamnya.


Kini Alifa tengah memijit tangan Alfin. "Mas, periksa saja ya," ucap wanita itu. Wajahnya penuh kekhawatiran.


Alfin hanya sedikit tersenyum dan menggeleng. Lalu, ia kembali memejamkan mata. Alifa hanya bisa pasrah, ia menurut dan kembali memijit pelan lengan sang suami.


Lelaki yang tengah sakit itu lantas diam, menikmati pijitan lembut dari sang istri. Istri yang seminggu ini seperti teman baginya. Belum kembali ia ajak untuk menyatu, karena hatinya masih merasakan rasa aneh, walaupun ia sudah berusaha untuk segera lupa.


Setelah lumayan lama sang suami tidur, Alifa lantas membangunkan Alfin untuk memakan bubur yang sudah ia buat.


"Mas, bangun dulu yuk. Makan buburnya, biar cepat sembuh," ucapnya seraya membangunkan sang suami. Menggoyang-goyang lengan Alfin yang masih memejamkan mata.


"Mas," panggilnya lagi.


"Iya, sebentar," ucap Alfin yang lantas membuka mata, mencoba duduk dan mulai memakan bubur yang dibuatkan sang istri.


"Nanti minum obat yang ada dulu ya, Mas. Kalau tidak turun juga panasnya, Lifa panggilkan dokter ya," ucap Alifa sembari mengambil bubur yang tadi ia taruh di atas nakas.


Alfin mengangguk. Menuruti apa perkataan sang istri yang sudah begitu menyayanginya.


Dengan telaten Alifa menyuapi sang suami, namun baru sedikit Alfin menyudahi makannya.


"Sudah, Lif. Rasanya pahit," ucap Alfin.


Alifa mengangguk, karena ka tahu jika sedang sakit makan jelas tidak akan enak. "Tapi, nanti lagi ya, Mas, biar cepat sembuh," katanya.


Alfin menatap sang istri dan mengangguk, "iya. Makasih ya," ucapnya dengan air mata yang menggenang di matanya.


"Sama-sama, Mas," kata Alifa.


Alfin lantas membawa Alifa dalam dekapan tubuhnya yang panas.

__ADS_1


__ADS_2