
Alifa masih tersenyum lebar saat mobil sang suami pergi dari pelataran rumahnya. Ya, baru saja Yasmine dan Alfin pamitan, lantaran waktu yang sudah sangat malam. Awalnya dia menginginkan dua manusia itu untuk menginap saja, tapi sayang, Yasmine bersikukuh untuk pulang. jadi, antara Alfin dan Alifa tentu tidak bisa menolak keinginannya.
Sekarang, tinggallah sepi. Padahal baru saja ia merasa bahagia penuh dengan tawa. Ia masih tak percaya akan ini, namun seperti inilah kenyataannya. Perlahan ia memutar tumit, kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu besar itu. Lalu kembali melanjutkan langkah dan di sana ia bisa melihat mbak Ina yang tengah membereskan taman.
Perempuan cantik itu lantas mendekat, membantu pekerjaan sang asisten rumah tangga. "Sudah, Mbak Yas, tidak perlu membantu. Silakan istirahat," ucap mbak Ina.
"Tidak apa-apa, Mbak In." Tangan perempuan itu sibuk membereskan piring dan gelas, menaruhnya di nampan dan membawanya ke dapur. Sementara itu, mbak Ina membereskan tikar dan yang lainnya.
Alifa lantas mencuci semua peralatan, sampai di mana ia mendapati mbak Ina kembali masuk. "Kenapa, Mbak In?" tanyanya.
"Mbak Lifa, saya mau minta maaf. Kalau selama ini perkiraan saya sudah salah," ucap mbak Ina.
Alifa membalik badan seusai mengelap tangannya di lap kain yang menggantung. "Iya Mbak In, sekarang kamu sudah tahu 'kan, kalau aku bahagia dengan ini. Jadi, jangan pernah salahkan Yasmine lagi. Ok."
"Iya, Mbak. Jadi, sekarang Mbak Yasmine tengah hamil?" tanya mbak Ina dengan penasaran.
"Iya, Alhamdulillah. Sebentar lagi aku akan punya anak," jawab Alifa dengan mata yang menerawang, raut wajah yang bahagia.
Mbak Ina yang melihat itu turut bahagia, sekaligus bangga. Melihat hati sang majikan yang begitu besar. Di saat dia bisa menerima dan ikhlas dengan segala yang terjadi.
Alifa lantas pamit dari sana, kini sudah larut dan sudah saatnya dia istirahat.
...πππ...
Lantas paginya Alifa memberi kabar pada mama dan papanya, begitu juga pada umi dan abi, lantas mereka semua mengatakan kalau sore ini mereka akan pergi ke rumah Yasmine. Memberi kejutan untuk kebahagiaan ini.
"Kamu bahagia, Nak?" tanya mama saat tadi di telepon.
"Bahagia, Ma. Aku bahagia sekali," begitu jawab Alifa dengan tulus.
Pun sama saat umi yang bertanya. "Apa kamu baik-baik saja, Nak?" begitu tanya Umi.
__ADS_1
"Baik, Umi. Jika Umi ingin bertanya apa Lifa bahagia, ya ... Lifa bahagia, Mi."
"Semoga Allah selalu melindungimu, Nak. Semoga kamu selalu berhati besar dan sabar," ucap umi.
"Aamiin, Ya Allaah. Jadi, apa Umi dan Abi akan datang?" tanya Alifa pada sang mertua.
"Tentu saja, sesuai keinginanmu."
Ya, yang memberi ide untuk datang ke rumah Yasmine memang Alifa. Entahlah, ia ingin sekali memberi kejutan untuk sang madu. Ia juga tak lupa meminta ibu Radiah dan ayah Ilyas untuk datang. Namun sayang, Yahya tidak bisa ikut lantaran kini tengah banyak sekali pekerjaan.
Hingga sorenya, Alifa di jemput mama Widia dan papa Zaenal. Sementara yang lain sudah terlebih dulu jalan ke rumah Yasmine.
Alifa sudah siap dengan gamis biru muda bermotif bunga-bunga kecil, dengan jilbab panjang polos berwarna senada. Tampilannya membuat dia semakin cerah dan cantik. Tak lupa sedikit polesan di wajahnya, entah kenapa tiba-tiba dia ingin sedikit memberi warna pada bibir dan matanya.
Mobil sang papa terparkir di depan rumah, ia lantas mendekat dengan setengah berlari. Langsung masuk kedalam mobil bagian belakang. "Assalamu'alaikum, Ma, Pa," ucapnya dengan senang.
Mama dan Papa Zaenal menoleh dengan senyum yang merekah. Lantas keduanya menyodorkan tangan ahar sang putri salim.
Alifa menyalami kedua orangtuanya dengan takzim.
"Semangat sekali, Nak," ucap Papa Zaenal.
"Iya dong, Pa. Bagiamana tidak bahagia, melalui Yasmine aku akan mempunyai anak," katanya dengan senyum yang lebar.
"Semoga, selamanya seperti ini ya Sayang. Semoga kamu juga cepat-cepat dapat garis dua. Agar kamu bisa lebih bahagia," ucap Mama Widia.
"Aamiin, Ya Allaah," Alifa mengusap dua telapak tangan yang menyatu ke arah wajahnya.
Lantas mobil pun melaju, ketiga manusia itu saling ngobrol dengan senang. Hingga tak lama dari rumah Alifa, mobil papa Zaenal pun sampai di depan rumah Yasmine. Di sana sudah ada dua mobil jadi, papa Zaenal memakirkan mobilnya di jalan yang ada di depan rumah.
Ketiganya lantas turun dari mobil, yang ternyata semua orang masih di dalam mobil dan keluar saat Mama-Papa dan Alifa mendekat.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Umi," sapa Alifa pada Umi.
"Wa'alaikumsallam, Sayang," menantu dan mertua itu saling berpelukan seusai Alifa mencium punggung tangannya.
Lalu bergantian dengan salim ke Abi dan ayah, lantas ke ibu Radiah. Namun, Ibu langsung memeluk erat sang putri terbaiknya itu. "Terimakasih, Nak," ucap ibu Radiah.
"Ibu," ucap Alifa. Ia melepaskan pelukan dan menghapus air mata yang menetes di pipi ibu Radiah. "Tidak boleh menangis, kita akan memberi bahagia pada Yasmine. Kita akan memberi kejutan. Jangan membuatnya ikut menangis juga Bu. Ibu hamil tidak boleh menangis," sambung Alifa dengan menggelengkan kepalanya.
"Iya, benar apa yang di katakan Alifa. Ayo, mari kita masuk. Kita lupakan sedih-sedih, kita harus bahagia untuk menyambut dengan bahagia cucu pertama di keluarga kita," ucap Mama Widia yang lantas merangkul ibu Radiah.
"Anakmu hebat sekali," ucap ibu Radiah menoleh ke arah Mama Widia.
"Anak kita semua," ucap papa, ayah dan Abi bersamaan. Yang lantas mengundang tawa di orang-orang itu.
Lalu, Alifa mendekat ke arah pintu, la lalu mengetuk pintu berkali-kali, tanpa mengucap salam agar tak kentara kalau dia yang datang. "Kok, lama ya," gumamnya.
"Iya, sebentar!" teriak Yasmine dari dalam. Tadi ibu hamil itu tengah menonton televisi dan mbak Fifi tengah membuat kan cemilan untuknya. Jadi, dengan terpaksa dialah yang membuka pintu.
"Sia__" kalimat Yasmine terhenti saat membuka pintu dan mendapati senyum lebar tujuh orang di depan pintu. "Astaghfirullah! Siapa ini," ucapnya dengan senang, namun matanya berembun.
"Assalamu'alaikum!" suara semua orang dengan senyum yang lebar.
"Wa'alaikumsallam, Ya Allaah. Mbak Fifii! Kita kedatangan tamu istimewa!" teriaknya dengan senang. Semua orang yang ada di depannya tertawa.
"Kita tidak di ajak masuk, Nak?" tanya Abi yang berdiri di belakang Umi. Jujur saja sudah semakin tua, kakinya sudah tidak bisa untuk berdiri terlalu lama.
"Ah, iya. Ayo masuk-masuk," ucap Yasmine dengan senang. Ia menggeser tubuhnya untuk semua orang masuk. Sembari menyalami satu persatu orang yang masuk. "Jangan di sini, ayo kita masuk ke dalam," ajak Yasmine. Saat Ayahnya akan duduk di sofa ruang tamu.
Lantas semua orang masuk ke ruang tengah. Yasmine jalan paling terakhir dengan Umi Fitri. Ia di rangkul sang mertua, dan dengan senang umi mengusap perut rata sang menantu. "Alhamdulillah, ada Alfin junior di sini," ucap Umi.
"Ah, Umi sudah tahu?" tanya Yasmine dengan kecewa. Padahal niatnya malam ini ia akan datang ke rumah para orangtua dan memberi kabar bahagia ini.
__ADS_1
"Tahu, makanya kita semua datang," jawab Umi. "Ayo masuk, Umi punya masakan enak buat kamu, itu di bawa Abi," sambung Umi.