
Usapan lembut di punggungnya hanya ia tanggapi dengan anggukan, ia bahkan tak bisa berkata apa-apa. Hanya sekedar mengangguk seolah menjawab bahwa ia tidak apa-apa, ia sabar dan ikhlas. Walau jujur saja, dalam dadanya tetap saja merasa sesak dan sakit. Bahkan saking sakitnya, ia sampai tak bisa berkata-kata.
Pemakaman telah usai, pria berpakaian serba hitam itu masih duduk diam ditempatnya, di samping makam yang masih sangat basah. Kelopak bunga-bunga segar bertabur begitu banyak di atasnya, nisan berbahan kayu pun sudah tertancap di sana.
Masih ada beberapa pelayat yang menemani dirinya, memberi kekuatan agar dia bisa kuat menerima cobaan yang lebih dari sebulan ini ia alami.
Pria lain turut jongkok di sebelahnya, kembali pria itu usap punggung lelaki yang tengah berduka itu. Dikatakan nya, "sabar, Mas. Saya hanya bisa menyuruh untuk sabar. Iklhas dan doakan saja, agar beliau tenang di sana, mendapat tempat terbaik di surga 'Nya."
Lelaki yang tengah berduka adalah Alfin, dan dia hanya mengangguk dengan apa yang dikatakan oleh Arya. Ya, pria lain yang menemaninya adalah Arya.
Lantas keduanya diam, tangan mereka sama-sama berada di atas makam. Sampai perempuan yang dari tadi berada di belakang mereka memanggil.
"Mas," ucapnya, yang mana membuat dua pria itu sama-sama menoleh. Dia tersenyum ke arah keduanya, "sebaiknya kita pulang, sudah terlalu lama kita di sini," katanya.
Alfin menoleh ke arah Arya, "silakan, saya masih ingin di sini," katanya.
Arya diam, namun istrinya lantas membuka suaranya kembali. "Mmm, Al, kita tidak bisa di sini terus, kita sudah lama sekali. Bahkan yang lain sudah pulang dari sejam yang lalu," katanya.
Alfin mengembuskan napas kasar, lantas menyetujui apa yang dikatakan sang mantan istri. Karena memang benar, bahwa mereka sudah sangat lama di sana.
Alfin berjalan terlebih dulu, tentu saja dengan langkah pelan dan dengan kepala yang bolak-balik menoleh ke belakang. Rasanya ia tak sanggup meninggalkan orang yang sangat-sangat ia sayangi tertinggal di sana. Di tempat peristirahatan terakhir manusia.
Sampai akhirnya, dengan menaiki mobil sang mantan, ia pulang. Duduk di sebelah seseorang yang kini adalah suami bagi mantan istrinya itu.
__ADS_1
Namun, ketiga manusia itu diam, bahkan sampai di rumah yang di depannya penuh dengan rangkaian bunga dengan ucapan belasungkawa.
Alfin turun dari dalam mobil, lantas berjalan dengan gontai menuju ke dalam rumah. Di dudukannya kembali p a n t a t nya di sofa yang mana di sebelahnya sudah terduduk sang abi, dan para pria lain. Seperti ayah Ilyas, Yahya dan papa Zaenal. Sementara para wanita yang lain ada di bagian dalam dan luar, karena ada pelayat yang belum pulang dan ada juga yang baru datang.
Sementara itu, di depan rumah, lumayan jauh, anak kecil tengah diberi sedikit ceramah oleh sang ibu. "Kenapa, Qa? Taqa nggak boleh gitu, Ayah kamu sekarang lagi sedih, dan sudah sebaiknya bukan bagi anak untuk menghibur, menemani," begitu kata sang ibu.
Taqa hanya menunduk, tak berani menjawab apapun. Sampai saat ibunya diam dengan waktu yang lumayan lama, barulah ia bicara. "Terus, pas aku sedih, kenapa ayah nggak datang, buat hibur aku, Bu?" tanya bocah itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Yasmine terdiam ditempatnya, menatap nanar pada sang putra. "Ma-maaf, Qa," ucapnya merasa bersalah.
Anak dan ibu itu saling pandang dengan wajah sedih. "Bu, aku sedih melihat ayah kayak gitu. Tapi aku juga kesel, ayah nggak pernah ada buat aku," kembali sang anak mengatakan isi hatinya.
Usapan lembut di bahunya membuat Yasmine menoleh, ternyata Arya lah yang datang. Lelaki itu tersenyum dan, "dia masih kecil, Bu. Mana ngerti dengan apa yang kamu katakan. Biarkan saja, nanti kita beritahu pelan-pelan, seenggaknya dia masih memiliki rasa sayang itu, hanya saja rasa kecewanya masih lebih besar."
...----------------...
"Kenapa Ibu nggak kasih tahu aku, kalau dia belum sadar, Bu?" tanya Yasmine pada sang ibu yang duduk disebelahnya.
Saat ini, ia dan sang suami serta anaknya sudah kembali ke rumah sang ayah, untuk ganti pakaian. Dan sekarang, ia tengah duduk dengan ibu, kakak serta kakak iparnya dan juga sang ayah. Sedangkan suaminya tengah menemani sang anak yang meminta ditemani istirahat di kamar.
"Bu, seenggaknya kalau ibu dan yang lain kasih tahu, aku bis--"
"Arya," ucap empat orang itu bersamaan, yang langsung mengentikan apa yang di katakan Yasmine. Bahkan empat orang itu sama-sama melihat ke arahnya dengan kesal.
__ADS_1
Wanita itu hanya diam, ya dia mengerti dengan apa yang dimaksud empat manusia itu. Ya, dia tahu dia punya suami sekarang, tapi untuk sekedar membantu tidak ada salahnya bukan.
"Kamu sudah punya tanggung jawab yang lebih besar, Yas. Sedangakan dia di sini banyak yang urus. Kita nggak mau lihat kamu kesusahan jika sampai tahu, dan akan bolak-balik ke sana ke sini," ucap Yahya pelan.
"Lagian kita selalu ada untuknya dan si kembar, kamu tenang aja. Toh, jika kamu tahu, apa bisa merubah segalanya, tidak 'kan." sambung pria yang adalah kakak dari Yasmine itu, ia bahkan sampai berdiri dari duduknya dan pindah ke sebelah sang adik, demi untuk merangkul dari samping wanita cantik yang dulu sangat manja padanya itu.
"Kita tahu, kamu sangat sayang sama Alifa, begitu juga dengan Alifa. Tapi, sekarang kamu sudah punya suami. Kamu tahu, jika suamimu tak mengizinkan kamu untuk bertemu dengan dia, kamu harus rela dan ikhlas menerima. Jadi, utamakan suami kamu," begitu ujar pria itu lagi.
Yasmine memandang sang kakak tersayangnya itu. "Aku tahu itu, Kak. Tapi seenggak aku tahu kabarnya," katanya pelan. "Tapi, sudahlah, semua sudah terlanjur," sambung Yasmine.
"Ibu dan Ayah, aku dan Zahra selalu ke rumah Mama kok, ikut merawat Lisha dan Lisi, meraka sudah terlihat lucu dan menggemaskan, besok kita bisa ke sana."
Yasmine mengangguk setuju.
"Aku masih nggak percaya, terakhir ketemu, Umi masih biasa saja," begitu kata Yasmine setelah lumayan lama mereka diam.
"Kita tidak akan ada yang tahu tentang ajal 'Kan Yas, kapan dia datang," begitu kata ibu yang kini tengah menggenggam tangan sang anak.
"Minggu kemarin, aku bahkan masih ngobrol Yas, sama Umi," sambung Zahra. "Hanya memang, Umi bilang dadanya semakin sakit setiap harinya."
Semua orang kembali diam, larut dalam rasa sedih akan kehilangan. Tiba-tiba saja, pagi-pagi ada kabar tak baik. Saat mama Widia memberi kabar pada ibu Radiah bahwa besannya meninggal dunia setelah shalat subuh bersama sang suami. Yaitu abi Sofyan.
Selain memang sakit yang sudah seringkali di rasa, mungkin memang sudah sampai saat ini sajalah batas napas wanita baik yang baru beberapa kali bertemu dengan cucu-cucunya. Terlebih dengan Taqa, hanya sekali saja.
__ADS_1