
Dalam tidur yang menghadap langit-langit kamar, kedua tangannya memegang masing-masing dari tangan sang istri. Entah seperti apa nanti reaksi keduanya saat bangun dan mendapati sang suami tidur di tengah-tengah mereka.
Sungguh ia tak perduli akan itu, yang Alfin perdulikan adalah rasa nyaman berada di sisi keduanya. Ah, seandainya saja bisa bersama seperti itu setiap malam, tentu saja akan menenangkan hati, bukan.
Hingga saat untuk bangun pun tiba, yang pertama membuka mata adalah sang istri pertama. Tentu saja dia terkejut saat mendapati sang suami ada di depannya, apalagi dengan tangannya yang tergenggam di atas dada sang suami tercinta.
Bibirnya tersenyum, ia tahu pasti Alfin datang dengan diam-diam ke kamar yang ditempati dirinya dan Yasmine. Lalu, di susul dengan Yasmine yang membuka mata. Sama seperti Alifa, ia pun terkejut saat mendapati Alfin di depannya dengan menggenggam tangannya. Sama, bibir Yasmine juga tersenyum.
Lantas dengan bersamaan, kedua istri itu duduk tanpa mengalihkan genggaman tangan mereka dari tangan suami mereka. Keduanya tersenyum lebar saat dengan bersamaan duduk dan saling memanfaatkan.
"Suami kamu benar-benar bucin," ucap Yasmine dengan setengah tertawa.
"Suami kamu juga, Yas," kata Alifa sembari geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Enggak, suami kamu saja," ucap Yasmine lagi dengan tertawa cekikikan.
"Sudah baca doa bangun tidur belum? Sudah gibahin suami kalian ya."
Kedua perempuan cantik itu lantas menoleh ke sumber suara. Dalam cahaya yang tidak terlalu terang keduanya dapat melihat senyum lebar dari sang suami. Dua istri Alfin itu menjawab dengan anggukan, menandakan kalau ke-duanya tentu saja sudah berdoa.
Alfin lantas melepas tangan kedua istrinya yang sedari tidur ia genggam. Lalu ia pun membawa tubuhnya untuk duduk. Memandangi dua istrinya secara bergantian.
"Kenapa tidur di sini?" tanya Yasmine.
Alfin tersenyum. "Masak aku di suruh tidur sendirian, 'kan nggak lagi di luar kota," jawabnya.
"Dasar!" gerutu Yasmine memajukan bibirnya.
__ADS_1
"Sudah, jangan ngomel. Sebaiknya kita bangun dan shalat bareng," ajak Alfin.
Tentu saja itu di setujui oleh Yasmine dan Alifa. Keduanya lantas bangun dan ke kamar mandi secara bergantian. Sedangkan Alfin lantas naik ke kamarnya untuk mengambil pakaian bersihnya.
Lantas, setelah ketiganya siap. Mereka sama-sama shalat sunah di mushala kecil rumah Alifa.
Dalam keheningan malam, tiga manusia yang terdiri dari suami dan istri itu sama-sama ber-do'a untuk kebahagiaan dan segala bentuk kebaikan. Indah bukan, saat semuanya bisa ikhlas. Namun, terkadang hati bisa mudah berubah, tak perduli hari ini kita se-sabar dan se-ikhlas apa.
...❤️❤️❤️...
Hingga saat paginya, ketiga manusia itu sarapan bersama penuh rasa bahagia. Dalam benak Alifa ingin sekali mengatakan agar madu-nya itu mau untuk tinggal kembali di rumah besarnya. Ingin sekali dia mengatakan kalau dia kesepian jika harus di tinggal keduanya. Namun, ternyata hanya untuk mengatakan hal semudah itu, mulutnya terkunci rapat. Susah.
Akhirnya, ia kembali merasakan kesepian saat Yasmine dan Alfin sama-sama berangkat ke tempat kerja mereka.
__ADS_1
Dia terduduk di kamar yang semalam di pakai mereka bertiga. Tidur bertiga dalam satu ranjang. Sungguh dalam hatinya tak memikirkan apa-apa, yang jelas ia bahagia. Ia masih tersenyum saat mengingat bagaimana ia bangun dengan mendapati sang suami berada di sisinya.
"Seandainya saja, kita bisa bersama-sama terus dalam satu atap yang sama, Yas. Aku jelas akan bahagia sekali," ucapnya sembari bangun dari duduknya dan mulai membereskan kasur dan seprai. Bahkan ia tak ingin mengganti seprai dan sarung bantal itu. Ia ingin kembali menggunakannya nanti malam.