Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 075 # Empat Bulanan


__ADS_3

"Aku nggak papa kok, ini hanya kram," ucap Yasmine. Ia bahkan kini sudah duduk.


"Alhamdulillah, minum dulu, Yas." Alifa menyodorkan gelas berisi air putih hangat.


Yasmine tersenyum dan mengambil gelas tersebut. "Makasih ya, Lif. Kalian santai saja, aku nggak papa."


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja ya," kata Alfin yang masih memandangi Yasmine dengan khawatir.


"Ya sudah. Malam ini kamu jangan tidur di sini, aku mau tidur sama Lifa," ucap Yasmine.


"Tapi, Ayang. Kalau nanti malam keram lagi gimana?" tanya Alfin masih penuh dengan raut kekhawatiran.


"Ya, Yas. Benar apa yang dikatakan Mas Alfin. Kamu tidur sama Mas Alfin saja ya, biar aku tidur di kamar sendiri." Alifa kembali mengambil gelas yang airnya sudah diminum oleh Yasmine.


Yasmine pasrah, lagipula ia juga sudah merasakan kantuk. Jadi, ia lantas kembali merebahkan dirinya di ranjang.


Sementara Alifa, ia lantas keluar dari kamar Yasmine. Meninggalkan sang suami dan sang madu. Berjalan dengan dada yang berdebar menuju ke kamarnya. Entah kenapa ia seperti merasa takut di dalam hatinya. Antara takut dan cemas.


Lantas perempuan cantik itu memutuskan untuk mengaji, guna menenangkan hati yang merasakan perasaan aneh. Duduk dengan memakai mukenah setelah berwudhu dan mulai membaca Alqurannya.


Sementara itu di kamar bawah, tepatnya di kamar Yasmine. Dia tengah memejamkan mata dengan usapan lembut di kepalanya. Sang suami masih tetap terjaga di sebelahnya dengan tangan yang tak berhenti membelai rambut halusnya.


Membuatnya begitu mudah untuk terbang ke alam mimpi. Bahkan saking indahnya, ia tak ingin kembali dari alam mimpi itu.


...❤️🧡❤️🧡❤️🧡...


Semua waktu kembali berlalu dengan cepat. Acara empat bulanan sesuai rencana pun di lakukan. Kini, Yasmine dan ibu Radiah serta ayah Ilyas sudah datang di rumah Umi dan Abi.

__ADS_1


Sedangkan mama Widia dan papa Zaenal justru lebih datang lebih awal. Sementara Alfin dan Alifa, mereka berdua belum sampai. Mungkin masih di perjalanan. Begitu juga dengan Yahya dan Zahra.


Semua persiapan sudah seratus persen. Undangan anak yatim juga sebentar lagi datang. Dan kini, Umi, Abi dan semua orang lainnya sudah duduk di ruang tamu yang sudah siap untuk acara doa bersama.


Yasmine sedang duduk di sebelah Umi sembari menikmati kue kering buatan sang mertua yang khusus dibuat untuknya. "Umi, ini namanya apa sih? Enak loh ini," tanya ibu yang kini tengah hamil dengan perut yang sudah terlihat buncit walaupun belum terlalu ketara.


"Ini namanya kacang sembunyi, buatnya juga sangat mudah. Nanti kalau sudah ada waktu, Yayas bisa Umi ajari," jawab Umi.


"Iya, Yayas mau Mi." Yasmine mengangguk antusias, membuat sang mertua tersenyum senang. Karena makanan sederhana yang ia buat di sukai oleh sang menantu.


"Jangan makan terus, Sayang. Nanti belepotan loh," kata Ibu.


"Biarkan saja, kamu lupa dulu aku pas hamil di tegur kayak gitu jadi marah. Tidak jadi aku ngemil, gara-gara kata-kata seperti itu," kata mama Widia.


"Iya, maaf," ucap ibu Radiah. Namun ia tengah menahan tawa. Tentu saja menertawakan mama Widia yang waktu hamil terlalu sensitif. Sedikit saja di larang langsung ngambek seminggu.


"Jangan ketawa ya, aku ngambek lagi loh," Mama Widia mengingatkan.


"Ma, kok Lifa sama Kak Yahya belum sampai ya?" tanya Yasmine. Ia duduk sila di sebelah sang mama.


"Sebentar lagi mungkin," kata mama Widia.


"Coba Ibu telpon Kakakmu dulu ya." Ibu beranjak dari duduknya dan membawa serta ponselnya ke arah dalam lagi biar bisa menelpon dengan leluasa. Maklum saja di ruang tamu di isi dengan anak-anak yang pastinya walaupun duduk jelas ada saja obrolan yang mereka bicarakan.


Setelah tak lama dari perginya, ibu sudah duduk kembali di sebelah Yasmine. "Bagaimana, bu?" tanya anak perempuannya.


"Sudah mau sampai, katanya. Alfin dan Alifa juga," jawab ibu Radiah.

__ADS_1


Yasmine dan mama juga umi hanya mengangguk. Lantas mereka semua menunggu di sana dengan tenang.


Lalu, setelah tak lama kemudian terdengar suara orang yang datang, dan dua wanita yang masuk sembari membungkukkan badan mereka. Ya, yang datang adalah Zahra dan Alifa.


"Kak, sini," Yasmine melambaikan tangannya pada sang kakak ipar agar sang Zahra mau duduk di sebelahnya.


Zahra dan Alifa mendekat dan menyalami para orangtua, sedangakan degan Yasmine keduanya berpelukan. "Maaf ya, ibu sama ayah tidak bisa datang karena tetangga sebelah meninggal dunia," ucap Zahra menyampaikan maaf dari orangtuanya.


"Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'un," ucap Yasmine sembari mengangguk. Lantas, Zahra duduk di sebelah ibu Radiah.


"Maaf ya, lama," ucap Alifa sembari memeluk sang madu.


"Iya, nggak papa. Kenapa memangnya, tidak ada apa-apa, 'kan?" tanya Yasmine.


"Tidak ada apa-apa, hanya terjebak macet," jawab Alifa.


Lantas mereka semua diam, lantaran semua para tamu sudah datang dan acara doa untuk empat bulanan pun di mulai.


Semua menunduk khusyuk memperhatikan Qur'an masing-masing, membaca beberapa surat seperti surat Maryam dan surat Yusuf dan juga yang lainnya.


Hingga acara berjalan dengan lancar, lantas Yasmine, Alfin dan Alifa membagi-bagikan sedikit rezeki untuk para anak yatim.


Setelahnya acara selesai, para tamu pun pulang. Yang tinggal di ruang tamu hanyalah para keluarga besar saja.


Kini Yasmine dan Zahra juga Alifa tengah berbicara bertiga. Melupakan kalau niatnya Yasmine ingin ngobrol berdua dengan sang kakak. Maklum saja, kini ia sudah tak leluasa berbicara dan berbagi cerita lantaran sang kakak yang sudah harus membagi waktu untuk perkerjaan dan istrinya.


Pun sama dengan Alfin, padahal niatnya ia ingin membicarakan tentang jadwal periksa. Namun kenyataannya, dia malah terlanjur asyik ngobrol dengan dua wanita muda yang sama-sama merasa betah ngobrol dengannya.

__ADS_1


Seusai waktu itu, kejadian saat keram waktu malam-malam. Yasmine memang tak lagi menginap di rumah Alifa. Mereka berdua kembali hanya bertemu lewat panggilan video atau bertemu di saat-saat tertentu. Seperti minggu kemarin saat Abi sakit, dan keduanya bertemu di rumah Abi untuk menjenguk mertua mereka.


Lalu, baru bertemu kembali hari ini. Jadi, jangan heran jika mereka asyik ngobrol. Bahkan saking asyiknya, mereka sampai tak perduli pada dua pria yang memandangi mereka dengan tatapan heran. Karena ketiganya terlihat bahagia, tertawa lebar entah menertawakan apa.


__ADS_2