
Kepergian tiga manusia dalam satu kendaraan, semakin membuat pria yang kini berdiri di depan pintu dengan sang abi tak berkedip. Sampai mana pria paruh baya itu menepuk pundaknya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Tak dipungkiri, perasaan yang ia rasakan memang sangat sakit. Apalagi saat sang putra kini terlihat lebih dekat dengan ayah sambungnya, dibandingkan dengan dirinya. Namun, apalah daya, seperti inilah memang yang akan terjadi jika dia tak mau mendekat dan Yasmine tak mendekatkan mereka.
"Tak perlu kamu sesali, sabarlah," ucap abi pada putranya. "Nanti, besar sedikit saja Taqa akan tahu, sekarang dia hanya kecewa padamu," sambung abi.
Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk. Iya, yang dikatakan abi memang benar. Bagaimana tidak kecewa, jika sekalinya bertemu, ia tengah bersama dengan anak lain. Ya, pastinya sang putra kecewa dan merasa tak lagi dicintai.
Padahal rasa sayang dan cintanya terhadap semua anaknya sama. Lelaki itu lantas beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar umi. Ia ingin tahu bagaimana tadi putranya di dalam sana, ia ingin mendengar kelucuan sang putra, demi rasa rindu untuk memeluk darah dagingnya itu.
"Dia sangat lucu," begitu kata umi saat ia bertanya dan sudah duduk di sebelah wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu.
"Dia seperti ibunya," sambung umi. "Bawel, tapi baik."
Alfin tertawa, "hari-hari mereka jelas seru dan hangat setiap saat," katanya menerawang.
"Iya, tak bisa di pungkiri, tanpa Yayas kita kehilangan sosok yang ceria, sosok yabg selalu membuat kita memperhatikan dia," ucap umi.
"Dia selalu bisa menarik perhatian semua orang," kata umi lagi. "Tapi hari ini, dia datang dengan wajah baru. Wajah seorang ibu yang dewasa, yang memperingatkan sang anak karena anaknya sedikit bersalah."
"Dia juga semakin cantik," umi masih mengatakan bagaimana mantan menantunya itu. "Taqa juga mengakui itu. Tadi dia bilang, ibunya selalu memakai apapun setiap malam, sampai membuatnya kesal dan tidak lagi suka ditemani sebelum tidur," tutur umi sembari menceritakan kembali bagaimana tadi cucunya bercerita tentang ibunya.
Alfin tertawa, tak bisa dihilangkan kalau bayangan-bayangan masa lalu tiba-tiba hadir. Kenangan yang sudah lama tak nampak karena susah payah ia lupakan, kini kembali muncul. Bersamaan dengan sakit hati yang kembali menyiksa.
"Tapi dia sekarang sudah bahagia, calon suaminya benar-benar baik. Sebaik Taqa menceritakannya," kata umi lagi.
Kali ini, sang putra menoleh ke arahnya. Umi juga sama, wanita paruh baya itu tersenyum, "dia bilang, tampannya lebih dari kamu, baiknya juga, sampai dia ingin cepat-cepat ayah Arya-nya itu menikah dengan ibunya," begitu jelasnya.
__ADS_1
"Tapi yang membuat umi tersenyum adalah ekspresi Yayas, dia justru manyun sembari menggelengkan kepalanya," sambung wanita paruh baya itu.
"Kenapa, Mi?" tanya Alfin penasaran.
Umi mengedikan bahunya, "entahlah, mungkin gemas," katanya.
"Bagaimana, Lifa. Kamu sudah mengantarnya periksa?" tanya umi lagi.
Alfin menggeleng, "belum. Bulan kemarin sama mama."
"Sampai kapan kamu tidak mengantarnya?" tanya umi lagi.
"Bulan depan, In Syaa Allaah," jawab Alfin. Bukan karena apa, dia memang benar-benar menyibukkan dirinya selama bertahun-tahun ini untuk kerja. Ini saja, karena uminya sakit, jadilah dia sengaja tak berangkat. Lagi pula, Alifa selalu ingin periksa kehamilan dengan sang mama, karena menurutnya lebih enak untuk cerita dan bertanya-tanya tentang kandungan.
"Iya, dia memang tidak pernah menuntut apapun. Bahkan dengan umi saja selalu tak cerita pasal keluhan kehamilan, dia benar-benar baik," kata umi.
"Bulan depan ya, nanti aku bawa Umi ikut," katanya sembari mengusap lengan wanita kesayangan. Wanita paruh baya itu mengangguk dengan senang.
..._-_-_-_...
Lain tempat, saat ini anak tampan tengah bermain di taman dengan dua orang dewasa yang duduk berjauhan.
"Mbak, Yas. Apa, Mbak Yas yakin, mau menerima saya. Maaf, bukan apa. Sepertinya rasa yang ada di antara Mbak Yas dan Mas Alfin masih begitu besar," ucap Arya yang duduk sembari memperhatikan Taqa yang kini tengah main perosotan di tengah-tengah taman.
"Jangan sok tahu, Mas Arya. Aku nggak punya rasa apapun sekarang, selain rasa sayang sama Taqa. Kenapa aku nerima lamaran Mas Arya, karena aku ingin sebuah kebahagiaan untuk Taqa, aku juga ingin imam yang bisa membuatku lebih istiqomah di jalan 'Nya," begitu kata Yasmine.
"Aku masih percaya kalau rasa cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Karena lebih utama tanggung jawab untuk membahagiakan, daripada rasa cinta. Dan nanti, rasa cinta itu akan tumbuh setelah ikhlas menjalani kewajiban," tutur Yasmine lagi.
__ADS_1
"Nggak nyangka, Mbak Yasmine se-dewasa ini," begitu kata Arya.
"Wah, meragukan kayaknya nih, Mas Arya," kata Yasmine dengan tersenyum di akhir kalimatnya.
"Ibu, boleh naik yang lebih tinggi tidak?!" tanya Taqa sembari menunjuk perosotan yang lumayan tinggi.
Arya dan Yasmine menoleh, lantas keduanya menggeleng. "Enggak!" jawab keduanya, yang mana lantas membuat dua manusia dewasa itu saling menoleh.
Lalu dua manusia itu menunduk dan tertawa lirih, lantas Arya beranjak dari duduk dan mendekat ke arah Taqa, demi untuk memberitahukan bahwa bahayanya perosotan yang tinggi.
Yasmine tersenyum mendapati Arya dan Taqa, bagaimana interaksi Arya yang menggelitik Taqa agar putranya itu lupa akan perosotan yang tinggi itu. Bahkan, Arya malah ikut bermain perosotan yang tidak terlalu tinggi dengan calon anak sambungnya itu.
Tawa Taqa begitu lebar, tak lupa meneriaki sang ibu untuk mendekat dan memperhatikannya yang tengah bahagia.
Yasmine menggeleng dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Jangan lupakan lambaian tangan untuk menolak ajakan sang anak. Karena belum saatnya untuk saat ini.
Sampai di mana ponsel di tas Yasmine bergetar dan menjawab panggilan dari sang ibu.
"Di mana?" tanya ibu.
"Ini," katanya sembari menunjukan arah kamera ke arah dua manusia yang tengah tertawa bahagia. "Mereka belum bisa pulang, Bu. Lagi bahagia," katanya.
"Ya sudah, ibu bereskan baju-baju kalian ya, biar nanti begitu sampai kita langsung berangkat. Ayah bilang kita langsung bicarakan saja, di tempat kamu dengan ibunya Nak Arya, Zahra bilang sesuatu yang baik tidak boleh di tunda-tunda," begitu tutur ibu.
Yasmine hanya bisa melongo dan mengangguk, menyetujui apa yang ibunya katakan. Sampai setelah di rasa sudah lumayan lama keduanya bermain, wanita cantik itu lantas mengajak keduanya pulang. Tak lupa memberi kabar pada Arya seperti apa yang ibunya katakan.
Lelaki itupun sama, ia lantas memberi kabar pada sang ibu agar siap-siap. Seenggaknya ia memberi kabar bahagia untuk sang ibu, karena sudah diterima oleh orangtua Yasmine dan sebentar lagi akan di bicarakan waktu dan tempatnya.
__ADS_1
Ibu Sufi terdengar bahagia, sampai berucap syukur berulang-ulang. Yang mana membuat Yasmine dan Arya tertawa, begitu juga Taqa.