
Wanita itu benar-benar senang. Kini dirinya tengah duduk dengan bahagia di apit dua wanita yang bergelar sebagai seorang ibu. Kendati kini Umi bukan lagi mertua baginya, namun, justru rasa sayangnya pada Umi jadi kembali seperti dulu. Karena memang dari dulu, Yasmine si ceria sudah akrab dengan para orang tua.
Selain nempel sekali dengan mama Widia, Yasmine juga memang lengket dengan Umi. Maklum saja, dia adalah wanita yang selalu butuh sosok orang lain, jadi ia selalu bisa mengambil hati seorang ibu. Karena biasanya, masakan para ibu paling ia suka. Maklum, dia tidak bisa masak.
"Bagaimana kamu di sini, Nak?" tanya Umi.
Yasmine tersenyum, "aku baik, Mi. Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir. Ini keinginan aku, jadi ... aku pasti akan bahagia dengan apa yang aku inginkan," begitu jawabnya.
Umi, Zahra dan ibu semua tersenyum. Mereka jelas senang saat mendapati keadaan Yasmine yang bahagia, walaupun entahlah pada hatinya.
"Harusnya yang Umi temani sekarang adalah Alifa, Mi," ujar Yasmine jujur.
"Kalian berdua adalah wanita yang baik, Umi senang sekali memiliki anak perempuan seperti kalian," kata Umi.
"Ya dong, anak siapa dulu. Ya nggak Bu?" Yasmine menaik-turunkan alisnya mengarah ke ibu. Sedangkan sang ibu hanya tersenyum padanya.
"Yas, kakak bawa buah. Kamu mau tidak?" tanya Zahra.
"Boleh, Kak. Ah, makasih aunty," jawab Yasmine seraya membuat suaranya seperti anak kecil.
"Eh, tidak aunty nanti panggilnya. Baby bakal panggil kakak dengan sebutan Uwa." begitu ujar Zahra sembari beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur, meninggalkan tiga perempuan beda usia di sana.
"Iya, siap," jawan Yasmine semangat.
Ibu lantas memeluk kembali sang putri. "Pulang ya," kata perempuan yang sudah melahirkan Yasmine.
"Ngapain, bu?" tanya Yasmine. "Aku sudah nyaman di sini," jawabnya. "Adem loh bu, di sini. Enak banget loh. Kita nggak akan terganggu dengan kebisingan suara kendaraan."
__ADS_1
"Mau sampai kapan?" tanya ibu lagi.
Umi yang ada di sebelahnya hanya bisa tersenyum sembari menatap Yasmine dengan sedih. Wanita yang selalu ceria itu harus di ceraikan oleh putranya. Padahal saat Umi mengingat cerita Alifa, ia pasti akan sangat yakin jika sang anak begitu mencintai Yasmine. Tak perduli seberapa besar cintanya pada Alifa.
"Kapan ya." Yasmine menunjuk dagunya. "Mungkin selamanya, aku sudah terlanjur nyaman sih bu," sambungnya.
"Tidak boleh lah, Ibu tidak setuju. Pulang, ibu tidak mau jauh-jauh dari cucu. Benar tidak Mi?" Ibu meminta persetujuan pada Umi yang tersenyum ke arahnya.
"Iya, apalagi Umi dan Abi sudah tua. Sudah tidak bisa di kendaraan dalam waktu lama. Masak kalau mau nengok cucu harus encok dulu," seloroh Umi.
Yasmine tertawa, lantas melepaskan diri dari sang ibu dan memeluk nenek dari anaknya itu. "Enggak akan, nanti kalau Umi sama Abi pengin ketemu, biar aku sama anakku yang ke sana," jawabnya tak mau kalah.
Tolong jangan suruh dia untuk kembali. Dia sudah terlanjur nyaman di sana. Jauh dari orang terkasih yang harus ia lepas. Kenapa di lepas, saat ada kesempatan untuk tetap bersama? Jawabnya, karena, saat ia bersama terus, hatinya akan sakit dan ia akan menyakiti madu-nya.
"Mau makan di sini apa di luar? Di depan ada Ayah loh." tanya Zahra yang baru kembali dari dapur.
"Ayo, kita ke depan. Aku yakin, Umi sama ibu pasti juga belum minum 'kan?" katanya sembari beranjak dan menarik tangan kedua orang tua itu.
Zahra tersenyum, ia lantas keluar dengan piring yang sudah terisi potongan buah mangga. Lantas di belakangnya ada Yasmine yang berjalan cepat dan memeluk sang ayah.
"Ayah, cucu ayah rindu," ucapnya manja.
Ayah lantas memeluk dan mencium pipi sang anak, tak kuasa lelaki paruh baya itu bahkan mengeluarkan sedikit air mata saat ia mendapat sang anak terlihat baik-baik saja. Bukan tak suka, tapi justru ayah takut jika Yasmine hanya pura-pura seperti itu.
"Sini duduk." ajak Ayah sembari menggeser duduknya setelah mengurai pelukan dengan sang anak.
"Aku pakai ini, Yah. Duduknya." kata Yasmine sembari mengambil bantal yang biasa ia pakai untuk duduk. "Kata Mbak Fifi, aku nggak boleh duduk di tempat yang keras." sambungnya sembari menduduki bantal yang ia taruh di sebelah sang ayah.
__ADS_1
"Wah, mbak Fifi harus di kasih bonus lebih ini, Bu," ucap Zahra yang kini sudah duduk di antara dua wanita paruh baya.
"Ah, saya mah nggak perlu bonus, Mbak Zahra. Cukup dengan Mbak Yasmine kembali ceria, seperti dulu." kata Mbak Fifi sembari menaruh dua piring berisi kue dan buah yang di bawa Ibu Radiah dan Zahra.
"Mmmm, Mbak Fifi love you," Yasmine menunjukan love pada mbak Fifi yang lantas di balas sama.
Semuanya lantas ngobrol hal lain, yang jelas empat manusia yang baru datang itu sudah merasa lega, lantaran melihat Yasmine yang baik-baik saja.
...ππππ...
Ditempat lain, tepatnya di kantor. Alfin kembali tidak konsentrasi. pikirannya masih tertuju pada hati yang merasa hilang separuh. Cinta yang pernah ia cari kini hilang kembali. Bahkan dia yang menjauhkannya lewat sebuah kalimat.
Kini, cintanya kembali hanya pada Alifa. Wanita cantik yang selalu baik. Wanita yang mau mengingatkan dirinya akan janji.
Saat mengingat janji, ia benar-benar kesal dengan mulutnya. seandainya saja dulu ia tak asal bicara, mungkin semua ini tidak akan kejadian.
Mungkin ia akan bahagia dengan Alifa tanpa mengingat cinta pertama, dan Yasmine bahagia dengan suaminya yang jelas bukan dirinya.
Sayangnya, semua sudah terlanjur. Dulu, ia ingat sekali kenapa dia mengatakan itu. Itu semua karena ia kesal sekali dengan Ayas. Gadis kecil yang selalu terlihat jutek dan judes padanya, tapi tidak pada yang lain. Ia juga suka sekali dengan tatapan mata Ayas yang seolah punya keistimewaan tersendiri.
Terlebih saat itu, ia suka pada gadis cantik yang cerewet itu. Sayangnya cintanya itu bahkan sampai ia pergi untuk menuntut ilmu dan tak lagi bertemu dengan dia maupun Lifa.
Seandainya saja, ia tahu jika Alifa dan Yasmine tetap bersahabat. Jelas ia akan bilang pada Umi dan Abi bahwa ia menyukai gadis lain dari sahabat mereka, bukan pasrah akan di jodohkan dengan Alifa.
Tapi, "astaghfirullah," ucap lelaki itu. "Tidak, Al. Kini sudah berlalu, jangan lagi memikirkan yang lalu," sambung pria yang kini masih merasakan patah hati.
Dia tidak menyalahkan Alifa, pun tidak menyalahkan keinginan Yasmine. Karena ia tahu persis bagaimana perasaan keduanya. Dan jika untuk memaksa, Yasmine agar tetap bertahan pun tidak mungkin, karena ia juga tak ingin melihat cinta pertamanya selalu sakit menahan cemburu. Pun jika dia melepas Alifa, itu tidak mungkin karena wanita itu sudah mampu mengisi ruang kosongnya selama hampir sepuluh tahun.
__ADS_1